alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Rata-Rata Masyarakat Tuban Hanya Tamatan Sekolah Dasar

Radar Tuban — Data badan pusat statistik (BPS) Tuban merilis rata-rata angka pendidikan warga Tuban hanya 6,95 tahun di sekolah. Artinya masih banyak warga Tuban yang hanya tamat SD dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sejak 6 tahun terakhir, angka lama pendidikan rata-rata warga Tuban tak bergerak di angka 6 tahun. Dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) 2021 yang diselenggarakan Kamis (18/3) pekan lalu, Wakil Bupati Noor Nahar Hussein menjelaskan rata-rata pendidikan yang hanya 6 tahun tersebut benar adanya.

Noor Nahar mengatakan pendidikan menjadi salah satu faktor sulitnya menekan angka kemiskinan di Tuban. “IPM (indeks pembangunan manusia) Tuban sulit naik dan kemiskinan sulit berkurang karena tingkat lamanya belajar di sekolah masih minim,” jelas dia.

Mengacu data BPS Tuban, pada 2015 angka rata-rata pendidikan warga Tuban 6,2 tahun. Selanjutnya 2016 (6,25 tahun), 2017 (6,48 tahun), 2018 (6,52 tahun), 2019 (6,81 tahun) dan 2020 (6,95 tahun).

Baca Juga :  BAZNAS Tuban, HJT ke-728, dan Pandemi Covid-19, Sebuah Usaha

Meskipun konsisten naik, tapi kenaikan pendidikan warga Tuban tersebut tak signifikan. Tetap dapat disimpulkan masih banyak warga Tuban yang tak tamat SMP. “Selama 10 tahun menjabat, saya sering menemui mayoritas masyarakat yang pendidikannya hanya lulusan SD,” ujar wabup.

Wakil bupati dua periode ini menjelaskan salah satu kasus yang dia temui adalah di Desa Jadi, Keca matan Semanding. Saat dia berkunjung ke Desa Jadi, sebagian besar warganya hanya sekolah hingga kelas 5 SD.

Selanjutnya mereka ikut menjadi pekerja kuli batu kumbung. Hal yang sama juga terjadi di desa lain. “Padahal harapan pendidikan di Tuban 12,2 tahun (minimal tamat SMA), tapi kenyataannya pada 2020 hanya 6,95 tahun,” tutur pejabat asal Kecamatan Rengel ini.

Baca Juga :  Satu Pedagang CFD di Tuban Positif Covid-19

Politisi PKB ini mengatakan pen didikan menjadi pondasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga dia mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban untuk berinovasi meningkatkan pelayanan pendidikan. Tujuannya untuk mendorong siswa agar mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

“Ini yang menjadi tugas Dinas Pendidikan dan stakeholder agar terus memacu lama sekolah anak-anak kita,” tegas dia.

Noor Nahar mengatakan pendidikan berdampak sangat panjang untuk kemajuan sebuah daerah. Pendidikan yang rendah sangat berkaitan dengan kemiskinan yang tinggi. Sehingga sangat penting untuk mendorong dan memotivasi siswa agar mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Tahun berikutnya kita harus mampu meningkatkan lama sekolah anak-anak kita,” harap dia.

Radar Tuban — Data badan pusat statistik (BPS) Tuban merilis rata-rata angka pendidikan warga Tuban hanya 6,95 tahun di sekolah. Artinya masih banyak warga Tuban yang hanya tamat SD dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sejak 6 tahun terakhir, angka lama pendidikan rata-rata warga Tuban tak bergerak di angka 6 tahun. Dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) 2021 yang diselenggarakan Kamis (18/3) pekan lalu, Wakil Bupati Noor Nahar Hussein menjelaskan rata-rata pendidikan yang hanya 6 tahun tersebut benar adanya.

Noor Nahar mengatakan pendidikan menjadi salah satu faktor sulitnya menekan angka kemiskinan di Tuban. “IPM (indeks pembangunan manusia) Tuban sulit naik dan kemiskinan sulit berkurang karena tingkat lamanya belajar di sekolah masih minim,” jelas dia.

Mengacu data BPS Tuban, pada 2015 angka rata-rata pendidikan warga Tuban 6,2 tahun. Selanjutnya 2016 (6,25 tahun), 2017 (6,48 tahun), 2018 (6,52 tahun), 2019 (6,81 tahun) dan 2020 (6,95 tahun).

Baca Juga :  Satu Pedagang CFD di Tuban Positif Covid-19

Meskipun konsisten naik, tapi kenaikan pendidikan warga Tuban tersebut tak signifikan. Tetap dapat disimpulkan masih banyak warga Tuban yang tak tamat SMP. “Selama 10 tahun menjabat, saya sering menemui mayoritas masyarakat yang pendidikannya hanya lulusan SD,” ujar wabup.

Wakil bupati dua periode ini menjelaskan salah satu kasus yang dia temui adalah di Desa Jadi, Keca matan Semanding. Saat dia berkunjung ke Desa Jadi, sebagian besar warganya hanya sekolah hingga kelas 5 SD.

Selanjutnya mereka ikut menjadi pekerja kuli batu kumbung. Hal yang sama juga terjadi di desa lain. “Padahal harapan pendidikan di Tuban 12,2 tahun (minimal tamat SMA), tapi kenyataannya pada 2020 hanya 6,95 tahun,” tutur pejabat asal Kecamatan Rengel ini.

Baca Juga :  BAZNAS Tuban, HJT ke-728, dan Pandemi Covid-19, Sebuah Usaha

Politisi PKB ini mengatakan pen didikan menjadi pondasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga dia mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban untuk berinovasi meningkatkan pelayanan pendidikan. Tujuannya untuk mendorong siswa agar mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

“Ini yang menjadi tugas Dinas Pendidikan dan stakeholder agar terus memacu lama sekolah anak-anak kita,” tegas dia.

Noor Nahar mengatakan pendidikan berdampak sangat panjang untuk kemajuan sebuah daerah. Pendidikan yang rendah sangat berkaitan dengan kemiskinan yang tinggi. Sehingga sangat penting untuk mendorong dan memotivasi siswa agar mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Tahun berikutnya kita harus mampu meningkatkan lama sekolah anak-anak kita,” harap dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/