alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Kartu Tani Belum Bisa Difungsikan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kartu tani hingga kini masih belum bisa difungsikan. Hal itu membuat pembelian pupuk bersubsidi belum bisa secara elektronik. Padahal, setiap tahun jumlah kartu tani selalu bertambah. ‘’Terakhir ada tambahan tiga ribu keping kartu,’’ kata Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Zaenal Fanani.

Zaenal menjelaskan, hingga kini sudah ada 150 ribu keping lebih kartu tani. Semua kartu itu belum bisa dimanfaatkan. Masih ada banyak kekurangan penggunaan kartu tani. Kekurangan paling banyak dialami adalah alat pembaca kartu atau mesin EDC. Mesin itu tidak bisa mendeteksi kartu tani. Sehingga, belum bisa digunakan. 

‘’Masalahnya banyak, mulai jaringan belum normal hingga belum sinkronnya data,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pengendalian Penambang Pasir, Bakorwil Tunggu Perintah Satpol Jatim

Masalah belum berfungsinya kartu tani tidak hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, itu masalah nasional. Diperkirakan di sejumlah daerah lain permasalahannya lebih banyak. 

Menurut Zaenal, konsep pembelian pupuk dengan kartu tani cukup bagus. Pupuk dikeluarkan akan lebih terukur. Setiap kartu akan terdeteksi kebutuhan pupuknya. Kebutuhan pupuk paling banyak adalah urea. Tahun ini kuota pupuk urea sebanyak 72.585 ton. Jumlah itu naik dibanding tahun lalu hanya 61.173 ton. ‘’Itu sudah sesuai RDKK,’’ jelasnya.

Tahun ini tidak semua jenis pupuk diberikan subsidi oleh pemerintah. Ada dua jenis pupuk subsidinya dialihkan untuk tanaman holtikultura, yakni pupuk SP36 dan ZA. ‘’Untuk tanaman pangan pupuk itu sudah tidak direkomendasikan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Lima UMKM Kerajinan Tuban Lolos Program Ekspor

Tidak adanya subsidi dua pupuk itu untuk tanaman pangan, menurut anggota DPRD harus dicarikan solusi. Salah satunya memberikan subsidi melalui APBD. Sehingga, petani Bojonegoro masih bisa menikmati subsidi dua jenis pupuk itu.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kartu tani hingga kini masih belum bisa difungsikan. Hal itu membuat pembelian pupuk bersubsidi belum bisa secara elektronik. Padahal, setiap tahun jumlah kartu tani selalu bertambah. ‘’Terakhir ada tambahan tiga ribu keping kartu,’’ kata Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Zaenal Fanani.

Zaenal menjelaskan, hingga kini sudah ada 150 ribu keping lebih kartu tani. Semua kartu itu belum bisa dimanfaatkan. Masih ada banyak kekurangan penggunaan kartu tani. Kekurangan paling banyak dialami adalah alat pembaca kartu atau mesin EDC. Mesin itu tidak bisa mendeteksi kartu tani. Sehingga, belum bisa digunakan. 

‘’Masalahnya banyak, mulai jaringan belum normal hingga belum sinkronnya data,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Sinergi dengan SI, Kinerja SBI Positif¬†¬†

Masalah belum berfungsinya kartu tani tidak hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, itu masalah nasional. Diperkirakan di sejumlah daerah lain permasalahannya lebih banyak. 

Menurut Zaenal, konsep pembelian pupuk dengan kartu tani cukup bagus. Pupuk dikeluarkan akan lebih terukur. Setiap kartu akan terdeteksi kebutuhan pupuknya. Kebutuhan pupuk paling banyak adalah urea. Tahun ini kuota pupuk urea sebanyak 72.585 ton. Jumlah itu naik dibanding tahun lalu hanya 61.173 ton. ‘’Itu sudah sesuai RDKK,’’ jelasnya.

Tahun ini tidak semua jenis pupuk diberikan subsidi oleh pemerintah. Ada dua jenis pupuk subsidinya dialihkan untuk tanaman holtikultura, yakni pupuk SP36 dan ZA. ‘’Untuk tanaman pangan pupuk itu sudah tidak direkomendasikan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pengendalian Penambang Pasir, Bakorwil Tunggu Perintah Satpol Jatim

Tidak adanya subsidi dua pupuk itu untuk tanaman pangan, menurut anggota DPRD harus dicarikan solusi. Salah satunya memberikan subsidi melalui APBD. Sehingga, petani Bojonegoro masih bisa menikmati subsidi dua jenis pupuk itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/