alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Bodjonegoro Bond, Silang Pemuda Pribumi dan Belanda

MASA penjajahan Belanda, ternyata Bojonegoro punya rekam sejarah gerakan dari kalangan pemuda. Mengingat hari ini (28/10) peringatan Sumpah Pemuda, Jawa Pos Radar Bojonegoro menelusuri sejarah gerakan pemuda Bojonegoro.

TIDAK mudah mencari literatur yang menggambarkan gebrakan anak-anak muda Bojonegoro di masa kolonial Belanda. Namun, potret itu ada rekam jejaknya melalui arsip dan dokumen tersimpan. Hanya, sulit mendapatkan arsip secara fisik.
Aziz Atias Deli salah satu pemerhati sejarah Bojonegoro mengatakan, tak banyak yang ia bisa ceritakan seputar gerakan pemuda Bojonegoro. Namun, sumber literatur yang paling bisa dijangkau yakni situs web asal Belanda, yakni delpher.nl. Situs web tersebut berisi dokumentasi koran maupun buku dari abad 15 hingga abad 21.
Aziz juga aktif membagikan kisah-kisah sejarah Bojonegoro grup Facebook Bojonegoro Tempo Doeloe itu mengatakan, salah satu perkumpulan pemuda Bojonegoro bernama Bodjonegoro Bond.  
Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha melakukan pencarian dengan kata kunci Bodjonegoro Bond di situs delpher.nl. Hasil temuannya sebanyak 834 artikel koran. Surat kabar yang memberitakan tersebut dengan bahasa Belanda.
Apabila ditelusuri, koran terbitan De Indische courant pada 17 Mei 1926 menuliskan Bodjonegoro Bond didirikan di bawah naungan bupati saat itu. “Kalau perkiraannya Bodjonegoro Bond didirikan 1926. Berarti bupati saat itu ialah Raden Adipati Aryo Kusumoadinegoro atau biasa disebut Kanjeng Sumantri,” terang Aziz.
Bond itu sendiri bisa diartikan seperti paguyuban, serikat, himpunan, perkumpulan, dan sebagainya. Di koran terbitan Belanda itu juga menyampaikan Bodjonegoro Bond bertujuan mendidik pemuda secara rohani atau spiritual. Bahkan, Bodjonegoro Bond tak hanya menampung pemuda asli Bojonegoro, tapi juga pemuda dari negara-negara lain.
“Pergerakan Bodjonegoro Bond di berbagai bidang meliputi pendidikan, seni, sosial, dan olahraga,” ujar pemuda berusia 22 tahun itu.
Bodjonegoro Bond kerap menggelar pertemuan, pameran, ceramah, dan lain-lain. Di koran De Indische courant tanggal 7 Juni 1926, Bodjonegoro Bond menggelar rapat umum. Perkumpulan itu berencana memberikan subsidi bagi mahasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, tujuannya ingin fokus memberikan dukungan moril dan materiil kepada para mahasiswa.
Disinggung terkait adakah anggota Bodjonegoro Bond terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928, Aziz belum bisa memastikannya. “Belum pernah menemukan literaturnya terkait adakah pemuda Bojonegoro ikut terlibat Sumpah Pemuda pada 1928,” tutur pemuda tinggal di Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Kota itu.
Adapun di koran De locomotief tanggal 1 Juni 1939, Bodjonegoro Bond menggelar acara amal dengan pertunjukan teater. Acara amal itu digelar di kediaman Bupati Raden Tumenggung Achmad Surjodiningrat. Putri Bupati Raden Adjeng Else Soerjani dalam perannya sebagai Anggrahini.
Sementara, di koran De Indische courant edisi 17 Juli 1941, Bodjonegoro Bond gelar sidang umum membentuk pengurus baru. Susunan Ketua, Moh. Saleh; Wakil Ketua, Soeparto; Bendahara. Sri Soupeni; Bendahara ke-2. Soepiah; Sekretaris Pertama, Tjiptomo; Sekretarike-2. Sareb.; komisaris umum. Soejono dan komisaris, Moerman. Said dan Alwi.
Sidang umum juga memutuskan pada hari Sabtu dan Minggu, 19 dan 20 Juli 1941 pergi bertamasya ke Tawangmangoe dari Mangkoenegaran. Sebanyak 70 peserta pergi ke lokasi dengan bus Tan-Lux.
Terpisah, wartawan koran ini juga mendapat dokumentasi foto Kanjeng Sumantri bersama istri Raden Ayu Soetji berfoto dengan para anggota Bodjonegoro Bond. Foto tersebut koleksi milik Aziz. Namun, Aziz mengaku dapat foto itu dari temannya bernama Siswo Nurwahyudi. Sehingga wartawan koran ini menghubungi Siswo via sambungan telepon.
Ternyata, Siswo mendapat foto tersebut dari salah satu keturunan dari Kanjeng Sumantri. Siswo tidak berani berkomentar banyak. Dia memberikan nomor kontak salah satu keturunan Kanjeng Sumantri yang benama Ardin, namun sayangnya belum bisa dihubungi. Namun menurutnya, sejarah Bodjonegoro memang perlu diperjelas.
“Karena cerita yang saya dapat dari keturunan Kanjeng Sumantri, salah satu anggota Bodjonegoro Bond ialah dr Sosodoro Djatikoesoemo,” pungkasnya. Tentu, Sosodoro Djatikoesoemo tokoh yang namanya diabadikan menjadi RSUD Bojonegoro.

Baca Juga :  Gedung Pemkab Mulai Diperbaiki, Gedung DPRD Lelang Ulang

MASA penjajahan Belanda, ternyata Bojonegoro punya rekam sejarah gerakan dari kalangan pemuda. Mengingat hari ini (28/10) peringatan Sumpah Pemuda, Jawa Pos Radar Bojonegoro menelusuri sejarah gerakan pemuda Bojonegoro.

TIDAK mudah mencari literatur yang menggambarkan gebrakan anak-anak muda Bojonegoro di masa kolonial Belanda. Namun, potret itu ada rekam jejaknya melalui arsip dan dokumen tersimpan. Hanya, sulit mendapatkan arsip secara fisik.
Aziz Atias Deli salah satu pemerhati sejarah Bojonegoro mengatakan, tak banyak yang ia bisa ceritakan seputar gerakan pemuda Bojonegoro. Namun, sumber literatur yang paling bisa dijangkau yakni situs web asal Belanda, yakni delpher.nl. Situs web tersebut berisi dokumentasi koran maupun buku dari abad 15 hingga abad 21.
Aziz juga aktif membagikan kisah-kisah sejarah Bojonegoro grup Facebook Bojonegoro Tempo Doeloe itu mengatakan, salah satu perkumpulan pemuda Bojonegoro bernama Bodjonegoro Bond.  
Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha melakukan pencarian dengan kata kunci Bodjonegoro Bond di situs delpher.nl. Hasil temuannya sebanyak 834 artikel koran. Surat kabar yang memberitakan tersebut dengan bahasa Belanda.
Apabila ditelusuri, koran terbitan De Indische courant pada 17 Mei 1926 menuliskan Bodjonegoro Bond didirikan di bawah naungan bupati saat itu. “Kalau perkiraannya Bodjonegoro Bond didirikan 1926. Berarti bupati saat itu ialah Raden Adipati Aryo Kusumoadinegoro atau biasa disebut Kanjeng Sumantri,” terang Aziz.
Bond itu sendiri bisa diartikan seperti paguyuban, serikat, himpunan, perkumpulan, dan sebagainya. Di koran terbitan Belanda itu juga menyampaikan Bodjonegoro Bond bertujuan mendidik pemuda secara rohani atau spiritual. Bahkan, Bodjonegoro Bond tak hanya menampung pemuda asli Bojonegoro, tapi juga pemuda dari negara-negara lain.
“Pergerakan Bodjonegoro Bond di berbagai bidang meliputi pendidikan, seni, sosial, dan olahraga,” ujar pemuda berusia 22 tahun itu.
Bodjonegoro Bond kerap menggelar pertemuan, pameran, ceramah, dan lain-lain. Di koran De Indische courant tanggal 7 Juni 1926, Bodjonegoro Bond menggelar rapat umum. Perkumpulan itu berencana memberikan subsidi bagi mahasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, tujuannya ingin fokus memberikan dukungan moril dan materiil kepada para mahasiswa.
Disinggung terkait adakah anggota Bodjonegoro Bond terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928, Aziz belum bisa memastikannya. “Belum pernah menemukan literaturnya terkait adakah pemuda Bojonegoro ikut terlibat Sumpah Pemuda pada 1928,” tutur pemuda tinggal di Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Kota itu.
Adapun di koran De locomotief tanggal 1 Juni 1939, Bodjonegoro Bond menggelar acara amal dengan pertunjukan teater. Acara amal itu digelar di kediaman Bupati Raden Tumenggung Achmad Surjodiningrat. Putri Bupati Raden Adjeng Else Soerjani dalam perannya sebagai Anggrahini.
Sementara, di koran De Indische courant edisi 17 Juli 1941, Bodjonegoro Bond gelar sidang umum membentuk pengurus baru. Susunan Ketua, Moh. Saleh; Wakil Ketua, Soeparto; Bendahara. Sri Soupeni; Bendahara ke-2. Soepiah; Sekretaris Pertama, Tjiptomo; Sekretarike-2. Sareb.; komisaris umum. Soejono dan komisaris, Moerman. Said dan Alwi.
Sidang umum juga memutuskan pada hari Sabtu dan Minggu, 19 dan 20 Juli 1941 pergi bertamasya ke Tawangmangoe dari Mangkoenegaran. Sebanyak 70 peserta pergi ke lokasi dengan bus Tan-Lux.
Terpisah, wartawan koran ini juga mendapat dokumentasi foto Kanjeng Sumantri bersama istri Raden Ayu Soetji berfoto dengan para anggota Bodjonegoro Bond. Foto tersebut koleksi milik Aziz. Namun, Aziz mengaku dapat foto itu dari temannya bernama Siswo Nurwahyudi. Sehingga wartawan koran ini menghubungi Siswo via sambungan telepon.
Ternyata, Siswo mendapat foto tersebut dari salah satu keturunan dari Kanjeng Sumantri. Siswo tidak berani berkomentar banyak. Dia memberikan nomor kontak salah satu keturunan Kanjeng Sumantri yang benama Ardin, namun sayangnya belum bisa dihubungi. Namun menurutnya, sejarah Bodjonegoro memang perlu diperjelas.
“Karena cerita yang saya dapat dari keturunan Kanjeng Sumantri, salah satu anggota Bodjonegoro Bond ialah dr Sosodoro Djatikoesoemo,” pungkasnya. Tentu, Sosodoro Djatikoesoemo tokoh yang namanya diabadikan menjadi RSUD Bojonegoro.

Baca Juga :  Desak Bupati Perhatikan Bahasa Jawa

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/