alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Bengawan Aman, Kota Tak Nyaman

TUBAN, Radar Tuban – Di tengah kekhawatiran banjir nyambangi kawasan bantaran Bengawan Solo, justru yang terjadi malah sebaliknya. Masyarakat kawasan perkotaan yang dibuat resah karena sebagian wilayahnya dikepung banjir setiap diguyur hujan deras. Seperti yang terjadi kemarin (25/11).
Pemicu utamanya masih sama, turunnya air dengan debit yang melimpah dari daerah dataran tinggi di sekitar Kecamatan Semanding menuju kawasan kota di utaranya. Air inilah yang tak mampu tertampung drainase dan akhirnya meluber ke jalan dan kawasan perumahan. Selebihnya air menggenangi lahan-lahan pertanian.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, banjir terjadi merata di sebagian daerah dataran rendah kawasan kota. Seperti di Perempatan Kapur, Jalan Brawijaya, simpang lima Al Falah, pertigaan Gerdu Papak, Jalan Veteran, sebagian Jalan Basuki Rachmad, beberapa titik di Jalan Letda Sucipto, dan Gajah Mada.
Di beberapa kelurahan, banjir juga merendam kawasan perumahan. Salah satunya  Perum Perbon Permai. Di kompleks perumahan ini, air nyambangi sebagian besar rumah warga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Dearah (BPBD) Tuban Yudi Irwanto menjelaskan, banjir menjadi atensi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky.
Dia mengungkapkan, beberapa kali bupati memerintahkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk fokus penanganan banjir di kawasan kota dan sekitarnya. ‘’Beberapa OPD sudah diminta Mas Bupati memetakan persoalan banjir dan mencarikan solusinya,’’ tutur dia.
Mantan kabag umum setda ini menegaskan, persoalan banjir sangat kompleks. Terjadi dari hulu hingga hilir. Persoalan hulu dipicu dari gundulnya sebagian kawasan hutan yang tidak mampu menjadi resapan air hujan. Untuk problem ini, kata Yudi, perlu koordinasi dengan Perum Perhutani untuk penghijauan.
Sedangkan problem di hilir adalah banyak drainase yang tersumbat, sehingga tidak berfungsi optimal. ‘’Beberapa drainase di perkotaan terlalu kecil dan tidak muat menampung debit air yang melimpah,’’ jelasnya.
Untuk persoalan saluran air, kata Yudi, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Tuban sudah mulai menata sejumlah gorong-gorong. Salah satu titik yang saat ini masih fokus perbaikan adalah di jembatan Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang. Saat ini, alat berat sudah diturunkan untuk memperluas saluran air. Di titik ini juga terjadi banjir karena luberan air dari saluran yang sedang diperbaiki.
Yudi menjelaskan, selama awal musim penghujan seperti sekarang ini, daerah Bengawan Solo justru lebih aman. Tinggi muka air (TMA) di titik terparah sejak sebulan terakhir menyentuh siaga merah, namun belum sampai meluap ke pemukiman warga. Sebaliknya, kondisi perkotaan terus dikepung banjir saat hujan deras. Karena banjir sering nyambangi kawasan perkotaan, lanjut dia, untuk sementara tim BPBD fokus pengawasan di kota. Tujuannya, menyisir pemicu lain yang menyebabkan banjir.
Secara keseluruhan, Yudi menyimpulkan banjir tersebut hanya proses lewat dari daerah tinggi ke daerah lebih rendah hingga ke laut. Sementara proses lewat air tersebut tidak bisa melalui drainase dengan baik.

Baca Juga :  Mayoritas Wisata Masih Terseok-Seok

TUBAN, Radar Tuban – Di tengah kekhawatiran banjir nyambangi kawasan bantaran Bengawan Solo, justru yang terjadi malah sebaliknya. Masyarakat kawasan perkotaan yang dibuat resah karena sebagian wilayahnya dikepung banjir setiap diguyur hujan deras. Seperti yang terjadi kemarin (25/11).
Pemicu utamanya masih sama, turunnya air dengan debit yang melimpah dari daerah dataran tinggi di sekitar Kecamatan Semanding menuju kawasan kota di utaranya. Air inilah yang tak mampu tertampung drainase dan akhirnya meluber ke jalan dan kawasan perumahan. Selebihnya air menggenangi lahan-lahan pertanian.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, banjir terjadi merata di sebagian daerah dataran rendah kawasan kota. Seperti di Perempatan Kapur, Jalan Brawijaya, simpang lima Al Falah, pertigaan Gerdu Papak, Jalan Veteran, sebagian Jalan Basuki Rachmad, beberapa titik di Jalan Letda Sucipto, dan Gajah Mada.
Di beberapa kelurahan, banjir juga merendam kawasan perumahan. Salah satunya  Perum Perbon Permai. Di kompleks perumahan ini, air nyambangi sebagian besar rumah warga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Dearah (BPBD) Tuban Yudi Irwanto menjelaskan, banjir menjadi atensi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky.
Dia mengungkapkan, beberapa kali bupati memerintahkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk fokus penanganan banjir di kawasan kota dan sekitarnya. ‘’Beberapa OPD sudah diminta Mas Bupati memetakan persoalan banjir dan mencarikan solusinya,’’ tutur dia.
Mantan kabag umum setda ini menegaskan, persoalan banjir sangat kompleks. Terjadi dari hulu hingga hilir. Persoalan hulu dipicu dari gundulnya sebagian kawasan hutan yang tidak mampu menjadi resapan air hujan. Untuk problem ini, kata Yudi, perlu koordinasi dengan Perum Perhutani untuk penghijauan.
Sedangkan problem di hilir adalah banyak drainase yang tersumbat, sehingga tidak berfungsi optimal. ‘’Beberapa drainase di perkotaan terlalu kecil dan tidak muat menampung debit air yang melimpah,’’ jelasnya.
Untuk persoalan saluran air, kata Yudi, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Tuban sudah mulai menata sejumlah gorong-gorong. Salah satu titik yang saat ini masih fokus perbaikan adalah di jembatan Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang. Saat ini, alat berat sudah diturunkan untuk memperluas saluran air. Di titik ini juga terjadi banjir karena luberan air dari saluran yang sedang diperbaiki.
Yudi menjelaskan, selama awal musim penghujan seperti sekarang ini, daerah Bengawan Solo justru lebih aman. Tinggi muka air (TMA) di titik terparah sejak sebulan terakhir menyentuh siaga merah, namun belum sampai meluap ke pemukiman warga. Sebaliknya, kondisi perkotaan terus dikepung banjir saat hujan deras. Karena banjir sering nyambangi kawasan perkotaan, lanjut dia, untuk sementara tim BPBD fokus pengawasan di kota. Tujuannya, menyisir pemicu lain yang menyebabkan banjir.
Secara keseluruhan, Yudi menyimpulkan banjir tersebut hanya proses lewat dari daerah tinggi ke daerah lebih rendah hingga ke laut. Sementara proses lewat air tersebut tidak bisa melalui drainase dengan baik.

Baca Juga :  Pendistribusian Program Sembako di Soko Layak, Sesuai Keinginan KPM

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/