alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Jilid Tiga, Wabup Siap Jadi Bupati?

TUBAN, Radar Tuban – Diksi tagar Tanya Wabup Tuban Jilid 3 dalam pamflet Mondaytalk Radio Pradiya Suara, menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Utamanya warga netizen. Mereka beramai-ramai memberikan analisa atas pilihan kata yang dipakai pada acara ngobrol bareng wakil bupati tersebut.

Sebagian masyarakat menilai, diksi jilid 3 yang dipakai dalam acara tersebut menggambarkan keinginan Wabup Tuban Noor Nahar Hussein untuk maju dalam pencalonan pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun depan. Setelah dua periode pertama dan kedua menjadi wabup, atau istilah lain jilid satu dan dua mendampingi Bupati Fathul Huda, kini wabup siap menyongsong jilid tiga dengan mencalonkan diri menjadi bupati.

Benarkah ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tuban ini memiliki hasrat untuk menggantikan posisi Fathul Huda sebagai orang nomor satu di Pemkab Tuban? Sebab, pada pamflet Mondaytalk sebelumnya tidak ada diksi jilid satu maupun jilid dua. Jejak digital tidak menemukan ada pamflet yang menuliskan tagar #jilid1 maupun #jilid2.

Baca Juga :  Noor Nahar: Internal PKB Baik-Baik Saja

Saat dikonfirmasi soal diksi yang viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan pengamat politik di Tuban tersebut, wabup menyampaikan, diksi jilid tiga itu menggambarkan bahwa Mondaytalk bersama wabup itu sudah berlangsung dua kali. Dan, sekarang yang ketiga, sehingga menggunakan pilihan kata jilid tiga.

‘’Mondaytalk ini kan sudah dua kali. Selang waktu satu bulan-satu bulan, terus ada jeda cukup lama, sekitar tiga bulan. Dan, sekarang ada lagi, yang ketiga. Itu maksudnya (tiga kali Mondaytlak, Red),’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (25/9).

Kenapa memilih diksi jilid tiga?  Apakah ini memiliki makna lain dan bisa diartikan sebagai persiapan menyongsong jilid tiga dengan mencalonkan diri sebagai bupati? ‘’Itu (diksi, Red) yang buat kan teman-teman dari Pradiya. Tapi, kalau mau dimaknai seperti itu (persiapan menuju jilid tiga, Red) ya boleh-boleh saja,’’ kata dia yang tidak menyoal apabila diksi tersebut dimaknai kesiapannya dalam mencalonkan diri sebagai bupati pada Pilkada 2020.

Baca Juga :  Penambahan RDTR Bertahap

Pengamat komunikasi politik Amrullah Ali Moebin mengatakan, wajar saja jika Noor Nahar ingin melanjutkan memimpin Kabupaten Tuban setelah partainya meraih 16 kursi di DPRD setempat. ‘’PKB boleh menjadi pemenang lagi di kompetisi ini (pencalonan bupati, Red). Itu sangat bisa dan sangat mungkin dengan 16 kursi yang dimiliki. Keinginan itu wajar sekali,’’ tegas dosen ilmu komunikasi politik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Hanya, lanjut Aam, sapaan akrabnya, keinginan PKB untuk melanggengkan kekuasaan itu harus dipikirkan secara matang. Jangan sampai kemudian PKB dianggap sebagai partai yang haus kekuasaan. Utamanya elit-elit PKB yang memaksakan diri untuk kembali mencalonkan. Menurut dia, dengan 16 kursi yang dimiliki, PKB harus jeli dalam membaca pasar politik. Dalam konteks ini adalah masyarakat.

Aam menegaskan, PKB harus tahu bagaimana masyarakat memandang peta politik hari ini. ”Jangan niat baik PKB untuk kembali memimpin Tuban ini menjadi isu bahwa elit politik PKB arogansi kekuasaan,’’ tegas dia.

TUBAN, Radar Tuban – Diksi tagar Tanya Wabup Tuban Jilid 3 dalam pamflet Mondaytalk Radio Pradiya Suara, menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Utamanya warga netizen. Mereka beramai-ramai memberikan analisa atas pilihan kata yang dipakai pada acara ngobrol bareng wakil bupati tersebut.

Sebagian masyarakat menilai, diksi jilid 3 yang dipakai dalam acara tersebut menggambarkan keinginan Wabup Tuban Noor Nahar Hussein untuk maju dalam pencalonan pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun depan. Setelah dua periode pertama dan kedua menjadi wabup, atau istilah lain jilid satu dan dua mendampingi Bupati Fathul Huda, kini wabup siap menyongsong jilid tiga dengan mencalonkan diri menjadi bupati.

Benarkah ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tuban ini memiliki hasrat untuk menggantikan posisi Fathul Huda sebagai orang nomor satu di Pemkab Tuban? Sebab, pada pamflet Mondaytalk sebelumnya tidak ada diksi jilid satu maupun jilid dua. Jejak digital tidak menemukan ada pamflet yang menuliskan tagar #jilid1 maupun #jilid2.

Baca Juga :  Lima Titik CCTV Awasi Alun-Alun Tuban

Saat dikonfirmasi soal diksi yang viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan pengamat politik di Tuban tersebut, wabup menyampaikan, diksi jilid tiga itu menggambarkan bahwa Mondaytalk bersama wabup itu sudah berlangsung dua kali. Dan, sekarang yang ketiga, sehingga menggunakan pilihan kata jilid tiga.

‘’Mondaytalk ini kan sudah dua kali. Selang waktu satu bulan-satu bulan, terus ada jeda cukup lama, sekitar tiga bulan. Dan, sekarang ada lagi, yang ketiga. Itu maksudnya (tiga kali Mondaytlak, Red),’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (25/9).

Kenapa memilih diksi jilid tiga?  Apakah ini memiliki makna lain dan bisa diartikan sebagai persiapan menyongsong jilid tiga dengan mencalonkan diri sebagai bupati? ‘’Itu (diksi, Red) yang buat kan teman-teman dari Pradiya. Tapi, kalau mau dimaknai seperti itu (persiapan menuju jilid tiga, Red) ya boleh-boleh saja,’’ kata dia yang tidak menyoal apabila diksi tersebut dimaknai kesiapannya dalam mencalonkan diri sebagai bupati pada Pilkada 2020.

Baca Juga :  Pemkab Didorong Investasi APBD

Pengamat komunikasi politik Amrullah Ali Moebin mengatakan, wajar saja jika Noor Nahar ingin melanjutkan memimpin Kabupaten Tuban setelah partainya meraih 16 kursi di DPRD setempat. ‘’PKB boleh menjadi pemenang lagi di kompetisi ini (pencalonan bupati, Red). Itu sangat bisa dan sangat mungkin dengan 16 kursi yang dimiliki. Keinginan itu wajar sekali,’’ tegas dosen ilmu komunikasi politik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Hanya, lanjut Aam, sapaan akrabnya, keinginan PKB untuk melanggengkan kekuasaan itu harus dipikirkan secara matang. Jangan sampai kemudian PKB dianggap sebagai partai yang haus kekuasaan. Utamanya elit-elit PKB yang memaksakan diri untuk kembali mencalonkan. Menurut dia, dengan 16 kursi yang dimiliki, PKB harus jeli dalam membaca pasar politik. Dalam konteks ini adalah masyarakat.

Aam menegaskan, PKB harus tahu bagaimana masyarakat memandang peta politik hari ini. ”Jangan niat baik PKB untuk kembali memimpin Tuban ini menjadi isu bahwa elit politik PKB arogansi kekuasaan,’’ tegas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/