alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Tanpa Ada Kesiapan Rentan Perceraian

Berburu Malam Sanga, 96 Anak di Bojonegoro Nikah Dini

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Malam 29 Ramadan atau malam sanga masih menjadi daya tarik masyarakat melangsungkan pernikahan. Terdapat 96 anak di bawah 19 tahun mengajukan dipensasi nikah (diska) agar bisa menikah di hari dianggap baik akhir Ramadan itu.

 

Tentu, proses diska ini agar 96 anak bisa nikah dini. Namun, pernikahan di bawah umur menjadi keprihatinan. Tanpa dibarengi kesiapan mental maupun ekonomi akan berdampak buruk saat mengarungi bahtera rumah tangga mendatang. Bahkan, bisa memicu perceraian.

 

Panitera Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro Sholikin Jamik mengatakan, terdapat 96 perkara diska diajukan untuk menikah di malam sanga. Rerata anak-anak 16 tahun, bahkan terdapat tiga perkara masih anak berusia 15 tahun.

 

Baca Juga :  Hendak Urus E-KTP, Bus Hantam Tiga Siswa, Satu Tewas

“Bagi yang berpuasa sejak 2 April, malam sanga jatuh pada 29 April. Sedangkan masyarakat berpuasa 3 April, jatuh pada 30 April,” ungkapnya.

 

Sholikin menjelaskan, kecamatan di wilayah timur Bojonegoro menjadi penyumbang terbanyak perkara diska bulan ini. Anak-anak mengajukan diska ternyata tidak melanjutkan pendidikan di jejang SMP maupun SMA. “Bahkan terdapat anak tidak lulus SD,” ujar.

 

Pengajuan diska, menurut Sholikin, karena masih berkembangnya pemikiran malam sanga merupakan hari baik untuk menikah. Pola pikir tersebut justru memprihatinkan tanpa dibarengi kesiapan psikologis dan ekonomi bagi pengantin masih anak-anak. “Menjadi budaya masyarakat di wilayah timur Bojonegoro,” terangnya.

 

Sholikin menilai diska untuk menikah di malam sanga menjadi permasalahan muncul setiap tahun. Sebab, nantinya bisa memicu perceraian, akibat pasangan belum siap membina bahtera rumah tangga. “Menambah jumlah percerain di usia muda, karena nikah hanya berdasar keyakinan budaya, tanpa diimbangi kesiapan lainnya. Terkesan dipaksakan,” ujarnya.

Baca Juga :  Tersangka Dugaan Pungli BOP TPQ Diserahkan Jaksa Penuntut

 

Ketua Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Bojonegoro (KP2AB) Agus Ari Afandi mengatakan, pernikahan malam sanga menjadi potret masyarakat, namun jika terjadi pada anak-anak akan berdampak buruk.

 

“Malam sanga dianggap hari baik untuk menikah, sehingga memicu meningkatnya diska,” terangnya.

 

Agus menjelaskan, perlu peran pihak-pihak terkait, seperti tokoh masyarakat dan agama, khususnya di wilayah pedesaan. Tentu memberikan edukasi dan sosialisasi dampak perkawinan anak. “Diska bisa dicegah, khususnya pernikahan di malam sanga,” tutur psikolog anak tersebut. (irv/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Malam 29 Ramadan atau malam sanga masih menjadi daya tarik masyarakat melangsungkan pernikahan. Terdapat 96 anak di bawah 19 tahun mengajukan dipensasi nikah (diska) agar bisa menikah di hari dianggap baik akhir Ramadan itu.

 

Tentu, proses diska ini agar 96 anak bisa nikah dini. Namun, pernikahan di bawah umur menjadi keprihatinan. Tanpa dibarengi kesiapan mental maupun ekonomi akan berdampak buruk saat mengarungi bahtera rumah tangga mendatang. Bahkan, bisa memicu perceraian.

 

Panitera Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro Sholikin Jamik mengatakan, terdapat 96 perkara diska diajukan untuk menikah di malam sanga. Rerata anak-anak 16 tahun, bahkan terdapat tiga perkara masih anak berusia 15 tahun.

 

Baca Juga :  Pajak Reklame Sumbang Pendapatan Rp 1,1 Miliar

“Bagi yang berpuasa sejak 2 April, malam sanga jatuh pada 29 April. Sedangkan masyarakat berpuasa 3 April, jatuh pada 30 April,” ungkapnya.

 

Sholikin menjelaskan, kecamatan di wilayah timur Bojonegoro menjadi penyumbang terbanyak perkara diska bulan ini. Anak-anak mengajukan diska ternyata tidak melanjutkan pendidikan di jejang SMP maupun SMA. “Bahkan terdapat anak tidak lulus SD,” ujar.

 

Pengajuan diska, menurut Sholikin, karena masih berkembangnya pemikiran malam sanga merupakan hari baik untuk menikah. Pola pikir tersebut justru memprihatinkan tanpa dibarengi kesiapan psikologis dan ekonomi bagi pengantin masih anak-anak. “Menjadi budaya masyarakat di wilayah timur Bojonegoro,” terangnya.

 

Sholikin menilai diska untuk menikah di malam sanga menjadi permasalahan muncul setiap tahun. Sebab, nantinya bisa memicu perceraian, akibat pasangan belum siap membina bahtera rumah tangga. “Menambah jumlah percerain di usia muda, karena nikah hanya berdasar keyakinan budaya, tanpa diimbangi kesiapan lainnya. Terkesan dipaksakan,” ujarnya.

Baca Juga :  Komitmen Memperkuat Kerja Sama Global

 

Ketua Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Bojonegoro (KP2AB) Agus Ari Afandi mengatakan, pernikahan malam sanga menjadi potret masyarakat, namun jika terjadi pada anak-anak akan berdampak buruk.

 

“Malam sanga dianggap hari baik untuk menikah, sehingga memicu meningkatnya diska,” terangnya.

 

Agus menjelaskan, perlu peran pihak-pihak terkait, seperti tokoh masyarakat dan agama, khususnya di wilayah pedesaan. Tentu memberikan edukasi dan sosialisasi dampak perkawinan anak. “Diska bisa dicegah, khususnya pernikahan di malam sanga,” tutur psikolog anak tersebut. (irv/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/