alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Manfaatkan Limbah Akar Kayu untuk Berseni

Akar kayu jati selama ini hanya jadi limbah yang berakhir di pembuangan sampah atau dibakar. Namun, di tangan seniman asal Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Putra Hadi Mulyo, 49, limbah kayu itu bisa jadi sebuah karya seni yang bernilai mahal.

Pandemi Covid-19 benar-benar mengubah jalan hidup Mul, panggilan akrab Putra Hadi Mulyo. Sebelum terjadi wabah, dia dikenal sebagai musisi yang aktif mengisi panggung hiburan. Sehari, dia bisa mendapat panggilan main organ tunggal 2 hingga 3 kali.

Saat pandemi, semua tawaran manggung itu dibatalkan. Agar dapur tetap mengepul, bapak dua anak ini mulai memutar otak untuk tetap berpenghasilan. Yang ada di pikirannya saat itu adalah memanfaatkan skill yang dimiliki agar mendatangkan penghasilan.

Mul adalah sarjana seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Setelah melalui perenungan, dia memutuskan untuk memanfaatkan kemampuan seni rupanya untuk mendapat pengasilan. ‘’Tidak mungkin untuk jadi pelukis karena sulit mencari uang dari hasil lukisan,’’ ungkapnya ketika itu.

Lantas muncul ide untuk mengkonversi lukisan menjadi sebuah karya yang lebih berharga, yakni seni ukiran. Di saat bersamaan, di dekat rumahnya sedang berlangsung pembangunan jalan lingkar selatan (JLS). Praktis, banyak pohon yang ditebang. Para pemilik pohon hanya memaksimalkan batang kayu jati untuk menjadi mebel. Sementara akar-akarnya dibuang dan dibakar.

Baca Juga :  Serahkan SK CPNS, Bupati Minta ASN Jadi Contoh Masyarakat

‘’Di pikiran saya, yang mereka buang dan bakar itu harus bisa jadi karya yang bernilai jual.” tuturnya.

Suami dari Farikha Mina Mufida ini kemudian menggali satu akar untuk dibawa pulang. Ternyata yang dilakukan Mul justru mendapat apresiasi dari masyarakat. Sebagian masyarakat yang selama ini bingung membuang limbah kayu jati itu merasa senang karena ada yang memungutnya.

‘’Saya gali sendiri akar itu, saya bawa pulang untuk dikumpulkan di rumah,’’ ujarnya. Kreativitas Mul dalam berkarya seni tak diragukan lagi. Ilmu dari bangku kuliahnya di tambah pengalamannya selama menjadi guru kesenian di sejumlah sekolah membuatnya merasa tak sulit mengubah limbah menjadi sebuah karya seni.

Dari akar kayu itu, Mul bisa membuat pajangan meja, hiasan dinding, kursi, meja, ukiran kaligrafi, dan masih banyak lagi. ‘’Awalnya saya buat satu karya dan masukkan ke YouTube, ternyata banyak yang mengapresiasi,’’ kata dia.

Keistimewaan ukiran karya Mul adalah selalu limited edition atau edisi terbatas. Sebab, tiap bentuk akar pohon memiliki tekstur yang berbeda, sehingga menghasilkan karya yang unik dan tidak ada yang sama. Pria yang juga guru gaji ini mengatakan, beberapa proses dirinya membuat ukiran diabadikan ke video dan masuk ke akun YouTube Putra H.M. Channel.

Baca Juga :  Komiditas Mahal, Ditentukan dari Panjang Sirip Atas

Dari video-video itu, banyak pesanan dari luar kota hingga luar negeri. Lulusan SMA Muhammadiyah 1 Tuban ini mengaku ingin karya yang dibuat menjadi salah satu oleh-oleh khas Bumi Wali. Karena itu, beberapa akar kayu jati disulapnya menjadi kerajinan tangan yang khas dengan Tuban.

Seperti pohon bogor, petani yang bawa ongkek, hingga tulisan Arab atau kaligrafi. ‘’Dalam proses pembuatan ukiran ini, saya tidak pernah melibatkan orang lain agar karya ini orisinal dan sesuai kata hati,’’ ujar seniman gaek itu.

Usaha Mul tak sia-sia, akar-akar kayu itu bernilai tinggi. Paling murah seperti sandaran ponsel di banderol Rp 50 ribu. Beberapa pajangan dinding dan meja laku mulai Rp 1 juta hingga belasan juta. Beberapa karya yang rumit dan detail dalam pembuatannya, dia banderol di atas Rp 10 juta. ‘’Ke tika banyak pekerjaan yang hilang saat pandemi, alhamdulillah saya justru mendapatkan rezeki dari pintu lain,’’ ucapnya bersyukur. 

Akar kayu jati selama ini hanya jadi limbah yang berakhir di pembuangan sampah atau dibakar. Namun, di tangan seniman asal Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Putra Hadi Mulyo, 49, limbah kayu itu bisa jadi sebuah karya seni yang bernilai mahal.

Pandemi Covid-19 benar-benar mengubah jalan hidup Mul, panggilan akrab Putra Hadi Mulyo. Sebelum terjadi wabah, dia dikenal sebagai musisi yang aktif mengisi panggung hiburan. Sehari, dia bisa mendapat panggilan main organ tunggal 2 hingga 3 kali.

Saat pandemi, semua tawaran manggung itu dibatalkan. Agar dapur tetap mengepul, bapak dua anak ini mulai memutar otak untuk tetap berpenghasilan. Yang ada di pikirannya saat itu adalah memanfaatkan skill yang dimiliki agar mendatangkan penghasilan.

Mul adalah sarjana seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Setelah melalui perenungan, dia memutuskan untuk memanfaatkan kemampuan seni rupanya untuk mendapat pengasilan. ‘’Tidak mungkin untuk jadi pelukis karena sulit mencari uang dari hasil lukisan,’’ ungkapnya ketika itu.

Lantas muncul ide untuk mengkonversi lukisan menjadi sebuah karya yang lebih berharga, yakni seni ukiran. Di saat bersamaan, di dekat rumahnya sedang berlangsung pembangunan jalan lingkar selatan (JLS). Praktis, banyak pohon yang ditebang. Para pemilik pohon hanya memaksimalkan batang kayu jati untuk menjadi mebel. Sementara akar-akarnya dibuang dan dibakar.

Baca Juga :  Serahkan SK CPNS, Bupati Minta ASN Jadi Contoh Masyarakat

‘’Di pikiran saya, yang mereka buang dan bakar itu harus bisa jadi karya yang bernilai jual.” tuturnya.

Suami dari Farikha Mina Mufida ini kemudian menggali satu akar untuk dibawa pulang. Ternyata yang dilakukan Mul justru mendapat apresiasi dari masyarakat. Sebagian masyarakat yang selama ini bingung membuang limbah kayu jati itu merasa senang karena ada yang memungutnya.

‘’Saya gali sendiri akar itu, saya bawa pulang untuk dikumpulkan di rumah,’’ ujarnya. Kreativitas Mul dalam berkarya seni tak diragukan lagi. Ilmu dari bangku kuliahnya di tambah pengalamannya selama menjadi guru kesenian di sejumlah sekolah membuatnya merasa tak sulit mengubah limbah menjadi sebuah karya seni.

Dari akar kayu itu, Mul bisa membuat pajangan meja, hiasan dinding, kursi, meja, ukiran kaligrafi, dan masih banyak lagi. ‘’Awalnya saya buat satu karya dan masukkan ke YouTube, ternyata banyak yang mengapresiasi,’’ kata dia.

Keistimewaan ukiran karya Mul adalah selalu limited edition atau edisi terbatas. Sebab, tiap bentuk akar pohon memiliki tekstur yang berbeda, sehingga menghasilkan karya yang unik dan tidak ada yang sama. Pria yang juga guru gaji ini mengatakan, beberapa proses dirinya membuat ukiran diabadikan ke video dan masuk ke akun YouTube Putra H.M. Channel.

Baca Juga :  Lima Pemain Persibo Menembus Putaran Nasional

Dari video-video itu, banyak pesanan dari luar kota hingga luar negeri. Lulusan SMA Muhammadiyah 1 Tuban ini mengaku ingin karya yang dibuat menjadi salah satu oleh-oleh khas Bumi Wali. Karena itu, beberapa akar kayu jati disulapnya menjadi kerajinan tangan yang khas dengan Tuban.

Seperti pohon bogor, petani yang bawa ongkek, hingga tulisan Arab atau kaligrafi. ‘’Dalam proses pembuatan ukiran ini, saya tidak pernah melibatkan orang lain agar karya ini orisinal dan sesuai kata hati,’’ ujar seniman gaek itu.

Usaha Mul tak sia-sia, akar-akar kayu itu bernilai tinggi. Paling murah seperti sandaran ponsel di banderol Rp 50 ribu. Beberapa pajangan dinding dan meja laku mulai Rp 1 juta hingga belasan juta. Beberapa karya yang rumit dan detail dalam pembuatannya, dia banderol di atas Rp 10 juta. ‘’Ke tika banyak pekerjaan yang hilang saat pandemi, alhamdulillah saya justru mendapatkan rezeki dari pintu lain,’’ ucapnya bersyukur. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/