alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

18 SDN di Tuban Bakal Ditutup Tahun Depan

Radar Tuban – Mendapat label sekolah negeri tak lantas membuat lembaga pendidikan bisa bertahan selamanya. Sekolah negeri pun bisa tutup sewaktu-waktu apabila lembaga pendidikan tersebut di anggap tidak prospek untuk dipertahankan.

Setelah SMAN Widang dan SMAN Senori, tercatat 18 SDN yang direncanakan tutup mulai tahun depan. Mengacu data Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban, 18 SDN yang rencana ditutup tersebut tersebar pada 12 kecamatan.

Setelah di tutup, 18 SDN tersebut akan merger atau melebur dengan SD negeri lain di dekatnya. SDN yang ditutup terbanyak di Kecamatan Parengan. Jumlahnya 4 lembaga. Selanjutnya, di Kecamatan Rengel 3 lembaga. Tak hanya di kecamatan pinggiran, dua sekolah negeri di kawasan kota pun tak lama lagi tinggal nama. Yakni SDN Kembangbilo II (Kecamatan Tuban) dan SDN Bejagung I (Kecamatan Semanding).

Rencana penutupan SDN tersebut sudah lama dibahas Disdik Tuban dan tercantum dalam surat keputusan (SK) Bupati Tuban tentang Pengin tegrasian Lembaga SD Negeri di Tuban yang ditandatangani sejak 2020 lalu. Kepala Disdik Tuban Nur Khamid mengatakan, 18 SDN yang akan dimerger tersebut melalui banyak pertimbangan. Salah satunya jumlah siswa yang mendaftar setiap tahun tak memenuhi pagu. Puncaknya saat pandemi Covid-19 2020– 2021, siswa di sejumlah sekolah negeri benar-benar sangat minim.

Baca Juga :  Sebanyak 1.011 Siswa Ditilang

Mereka banyak yang beralih ke pondok pesantren atau sekolah berbasis keagamaan yang diperbolehkan buka. Pemicu lain, kata Khamid, jumlah tenaga pendidik yang tidak memadai. Mantan sekretaris Disdik Tuban ini menyampaikan, beberapa SDN kekurangan guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Banyak SDN yang selama ini mengandalkan guru honorer sebagai tenaga pendidiknya.

Karena itu, dibutuhkan efisiensi dengan merger dua sekolah menjadi satu. ‘’Ada satu sekolah yang hanya memiliki satu PNS, hanya kepseknya,’’ ujar pendidik yang juga pelatih gulat itu.

Khamid mengatakan, menutup atau merger sekolah bukan hal baru yang dilakukan oleh pemerintah. Sebelumnya, Pemkab Tuban melalui disdik sudah menutup beberapa sekolah karena alasan serupa. Selain faktor siswa dan guru, juga ada faktor masyarakat. ‘’Beberapa kultur masyarakat daerah tertentu masih banyak yang suka sekolah berbasis keagamaan, sehingga sekolah negeri minim peminat,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut mantan kepala SMAN 1 Soko ini mengatakan, tidak semua sekolah minim siswa langsung ditutup. Beberapa sekolah yang minim siswa masih dipertahankan. Pertimbangan utamanya tidak ada lagi lembaga pendidikan terdekat di desa tersebut. Penutupan atau merger sekolah baru akan dilakukan jika sudah ada lembaga pendidikan lain yang mengkaver.

Baca Juga :  Libur Nataru, Kendaraan Berat Bebas Melintas

‘’Intinya, kami mendorong siswa untuk tetap sekolah, baik di negeri maupun swasta,’’ tegasnya.

Bagaimana nasib siswa dan guru di sekolah yang tutup? Khamid mengatakan, penutupan sekolah bersifat merger. Artinya meleburkan dua lembaga pendidikan menjadi satu. Nantinya, siswa di dua sekolah tersebut akan dijadikan satu. Demikian pula untuk para pendidik dan tenaga kependidikannya.

‘’Beberapa sekolah sudah minim gurunya, jadi tidak ada masalah jika nantinya dimerger,’’ kata pendidik yang juga ketua LP Ma’arif NU Tuban itu.

Khamid menambahkan, sekolah yang berlabel negeri tak terus langgeng. Dengan sejumlah pertimbangan, pemerintah bisa saja menutup sewaktu-waktu. Karena itu, dia meminta untuk semua kepala sekolah dan guru agar gotong royong untuk membuat prestasi sekolah. Dengan mencetak prestasi sebanyak-banyaknya, sekolah tersebut juga akan dipertimbangkan untuk dipertahankan.

Radar Tuban – Mendapat label sekolah negeri tak lantas membuat lembaga pendidikan bisa bertahan selamanya. Sekolah negeri pun bisa tutup sewaktu-waktu apabila lembaga pendidikan tersebut di anggap tidak prospek untuk dipertahankan.

Setelah SMAN Widang dan SMAN Senori, tercatat 18 SDN yang direncanakan tutup mulai tahun depan. Mengacu data Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban, 18 SDN yang rencana ditutup tersebut tersebar pada 12 kecamatan.

Setelah di tutup, 18 SDN tersebut akan merger atau melebur dengan SD negeri lain di dekatnya. SDN yang ditutup terbanyak di Kecamatan Parengan. Jumlahnya 4 lembaga. Selanjutnya, di Kecamatan Rengel 3 lembaga. Tak hanya di kecamatan pinggiran, dua sekolah negeri di kawasan kota pun tak lama lagi tinggal nama. Yakni SDN Kembangbilo II (Kecamatan Tuban) dan SDN Bejagung I (Kecamatan Semanding).

Rencana penutupan SDN tersebut sudah lama dibahas Disdik Tuban dan tercantum dalam surat keputusan (SK) Bupati Tuban tentang Pengin tegrasian Lembaga SD Negeri di Tuban yang ditandatangani sejak 2020 lalu. Kepala Disdik Tuban Nur Khamid mengatakan, 18 SDN yang akan dimerger tersebut melalui banyak pertimbangan. Salah satunya jumlah siswa yang mendaftar setiap tahun tak memenuhi pagu. Puncaknya saat pandemi Covid-19 2020– 2021, siswa di sejumlah sekolah negeri benar-benar sangat minim.

Baca Juga :  Uswatun Khasanah, Produktif Terbitkan Tiga Buku

Mereka banyak yang beralih ke pondok pesantren atau sekolah berbasis keagamaan yang diperbolehkan buka. Pemicu lain, kata Khamid, jumlah tenaga pendidik yang tidak memadai. Mantan sekretaris Disdik Tuban ini menyampaikan, beberapa SDN kekurangan guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Banyak SDN yang selama ini mengandalkan guru honorer sebagai tenaga pendidiknya.

Karena itu, dibutuhkan efisiensi dengan merger dua sekolah menjadi satu. ‘’Ada satu sekolah yang hanya memiliki satu PNS, hanya kepseknya,’’ ujar pendidik yang juga pelatih gulat itu.

Khamid mengatakan, menutup atau merger sekolah bukan hal baru yang dilakukan oleh pemerintah. Sebelumnya, Pemkab Tuban melalui disdik sudah menutup beberapa sekolah karena alasan serupa. Selain faktor siswa dan guru, juga ada faktor masyarakat. ‘’Beberapa kultur masyarakat daerah tertentu masih banyak yang suka sekolah berbasis keagamaan, sehingga sekolah negeri minim peminat,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut mantan kepala SMAN 1 Soko ini mengatakan, tidak semua sekolah minim siswa langsung ditutup. Beberapa sekolah yang minim siswa masih dipertahankan. Pertimbangan utamanya tidak ada lagi lembaga pendidikan terdekat di desa tersebut. Penutupan atau merger sekolah baru akan dilakukan jika sudah ada lembaga pendidikan lain yang mengkaver.

Baca Juga :  Rusak Parah, Jalan Nasional Kembali Dibongkar

‘’Intinya, kami mendorong siswa untuk tetap sekolah, baik di negeri maupun swasta,’’ tegasnya.

Bagaimana nasib siswa dan guru di sekolah yang tutup? Khamid mengatakan, penutupan sekolah bersifat merger. Artinya meleburkan dua lembaga pendidikan menjadi satu. Nantinya, siswa di dua sekolah tersebut akan dijadikan satu. Demikian pula untuk para pendidik dan tenaga kependidikannya.

‘’Beberapa sekolah sudah minim gurunya, jadi tidak ada masalah jika nantinya dimerger,’’ kata pendidik yang juga ketua LP Ma’arif NU Tuban itu.

Khamid menambahkan, sekolah yang berlabel negeri tak terus langgeng. Dengan sejumlah pertimbangan, pemerintah bisa saja menutup sewaktu-waktu. Karena itu, dia meminta untuk semua kepala sekolah dan guru agar gotong royong untuk membuat prestasi sekolah. Dengan mencetak prestasi sebanyak-banyaknya, sekolah tersebut juga akan dipertimbangkan untuk dipertahankan.

Artikel Terkait

Most Read

Mencoba Geluti Hidroponik

Finance Mulai Diburu Petani

Artikel Terbaru


/