30.7 C
Bojonegoro
Tuesday, June 6, 2023

Jejak Pecinan di Padangan, Dulu Jadi Pusat Kadipaten Jipang

Padangan Layak Dikonsep Kota Tua

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kawasan Pecinan di Bojonegoro umumnya berada di kawasan perkotaan meliputi di Jalan Hayam Wuruk, Jalan Jaksa Agung Suprapto, hingga Jalan Rajawali. Namun, kawasan Pecinan atau permukiman etnis keturunan Tionghoa paling tua ternyata berada di Desa/Kecamatan Padangan.

 

Status Padangan merupakan kota tua di Bojonegoro, dahulu menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan juga ditandai adanya Kawasan Pecinan. Sejarah panjang Kawasan Pecinan di Padangan dimulai jauh sebelum kemerdakaan.

 

Satria Utama salah satu sejarawan mengatakan, bahwa kawasan Pecinan di Padangan jauh lebih dulu, sekitar 1677. Tentu, sebelum adanya kawasan Pecinan di Bojonegoro perkotaan pada 1980. ‘’Usia kawasan Pecinan di Padangan ini sama dengan Pecinan di Kecamatan Babat Lamongan,” ujar guru sejarah tersebut.

- Advertisement -

 

JFX Hoery sejarawan asal Padangan mengungkapkan, keberadaan kawasan Pecinan tidak lepas dari status Padangan saat itu menjadi pusat Kadipaten Jipang. Serta, letaknya strategis berada di jalur perdagangan Sungai Bengawan Solo. ‘’Dahulunya, semua bangunan di Pecinan menghadap ke arah Sungai Bengawan,”ungkapnya.

 

Hoery sapaannya menambahkan, bangunan-bangunan tua di Desa Padangan menjadi saksi mata berdirinya Kabupaten Bojonegoro. ‘’Pada 1677, Padangan saat itu berstatus Kadipaten diubah menjadi kabupaten. Hingga kini tahun tersebut diperingati tahun berdirinya Kabupaten Bojonegoro,’’ bebernya.

 

Hingga saat ini, bangunan hingga pertokoan tua masih berdiri kokoh di sepanjang Desa Padangan. Salah satunya milik keluarga Tan King Liong. Rumah tua nan megah tersebut berada tidak jauh Sungai Bengawan Solo. Dulunya juga pernah dijadikan rumah sakit mulai tahun 1950 hingga tahun 1980-an.

 

Indri Astuti, mendiami rumah tersebut mengatakan, bangunan sudah berdiri hingga tiga generasi. ‘’Saat ini digunakan sebagai sarang burung,” ungkapnya. (dan/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kawasan Pecinan di Bojonegoro umumnya berada di kawasan perkotaan meliputi di Jalan Hayam Wuruk, Jalan Jaksa Agung Suprapto, hingga Jalan Rajawali. Namun, kawasan Pecinan atau permukiman etnis keturunan Tionghoa paling tua ternyata berada di Desa/Kecamatan Padangan.

 

Status Padangan merupakan kota tua di Bojonegoro, dahulu menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan juga ditandai adanya Kawasan Pecinan. Sejarah panjang Kawasan Pecinan di Padangan dimulai jauh sebelum kemerdakaan.

 

Satria Utama salah satu sejarawan mengatakan, bahwa kawasan Pecinan di Padangan jauh lebih dulu, sekitar 1677. Tentu, sebelum adanya kawasan Pecinan di Bojonegoro perkotaan pada 1980. ‘’Usia kawasan Pecinan di Padangan ini sama dengan Pecinan di Kecamatan Babat Lamongan,” ujar guru sejarah tersebut.

- Advertisement -

 

JFX Hoery sejarawan asal Padangan mengungkapkan, keberadaan kawasan Pecinan tidak lepas dari status Padangan saat itu menjadi pusat Kadipaten Jipang. Serta, letaknya strategis berada di jalur perdagangan Sungai Bengawan Solo. ‘’Dahulunya, semua bangunan di Pecinan menghadap ke arah Sungai Bengawan,”ungkapnya.

 

Hoery sapaannya menambahkan, bangunan-bangunan tua di Desa Padangan menjadi saksi mata berdirinya Kabupaten Bojonegoro. ‘’Pada 1677, Padangan saat itu berstatus Kadipaten diubah menjadi kabupaten. Hingga kini tahun tersebut diperingati tahun berdirinya Kabupaten Bojonegoro,’’ bebernya.

 

Hingga saat ini, bangunan hingga pertokoan tua masih berdiri kokoh di sepanjang Desa Padangan. Salah satunya milik keluarga Tan King Liong. Rumah tua nan megah tersebut berada tidak jauh Sungai Bengawan Solo. Dulunya juga pernah dijadikan rumah sakit mulai tahun 1950 hingga tahun 1980-an.

 

Indri Astuti, mendiami rumah tersebut mengatakan, bangunan sudah berdiri hingga tiga generasi. ‘’Saat ini digunakan sebagai sarang burung,” ungkapnya. (dan/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/