28.2 C
Bojonegoro
Thursday, June 1, 2023

Tetap Waspada, Meski Tren TMA Turun

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Petani terdampak banjir akibat jebolnya Tanggul Kali Ingas di Kecamatan Kanor terpaksa panen dini, karena lahan pertanian terdampak banjir meliputi Desa Pucangarum, Kadungrejo, Karangdayu, Pomahan, Kauman, Kedungprimpen, dan Temu itu, terancam gagal panen karena terendam banjir.

Tren tinggi muka air (TMA) di Taman Bengawan Solo (TBS) terus alami penurunan mulai Sabtu lalu (22/1). Status TMA pukul 18.00 kemarin (23/1) sudah tidak siaga hijau, yakni TMA 11,92 meter. 

Namun, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ardhian Orianto mengimbau agar masyarakat tetap waspada.

Mengingat kondisi cuaca hingga Februari mendatang masih puncak musim hujan. Sehingga intensitas hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir masih mengintai. TMA pun berpotensi naik turun selama musim hujan ini. “TMA di TBS sempat siaga kuning yaitu 13,51 meter, belum sampai menyentuh TMA 14,04 meter (siaga merah),” katanya.

Menurut Ardhian, naik turunnya TMA Bengawan Solo tentunya berpotensi terjadinya erosi atau tanah longsor. Adapun tanggul Bengawan Solo di Dusun/Desa/Kecamatan Kanor dan tanggul Kali Ingas di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor jebol pada Jumat lalu (21/1). 

- Advertisement -

Berdasar data kajian risiko bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro diketahui sebanyak  113 desa dari 20 kecamatan di Bojonegoro rawan tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 28 desa dari 19 kecamatan yang telah terjadi tanah longsor. 

“Ada 20 kecamatan rawan longsor, di antaranya Kecamatan Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Malo, Kalitidu, Dander, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Baureno, Sumberrejo, Ngasem, Gayam, Sugihwars, Kedungadem, Sukosewu, dan Kepohbaru,” tuturnya. 

Jumat (21/01) lalu, tanggul yang jebol itu tidak bisa ditutup. Sak-sak berisi pasir dan sesek yang dipasang itu hanya berfungsi menahan. Tujuannya agar dampak kerusakan akibat jebolnya tanggul itu tidak semakin meluas.

Jebolnya tanggul itu mengancam kerusakan tanaman padi di lima desa. Setidaknya ada 200 hektare tanaman padi terancam gagal panen. 

Naiknya debit Bengawan Solo memicu tanggul Kali Ingas di Desa Kedungrimpen, Kecamatan Kanor jebol. Itu mengakibatkan air meluber ke sejumlah lahan pertanian di lima desa itu.

Naiknya debit Bengawan Solo tidak diakibatkan adanya hujan lokal. Namun, disebabkan kirimian air dari hulu yang tinggi.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Petani terdampak banjir akibat jebolnya Tanggul Kali Ingas di Kecamatan Kanor terpaksa panen dini, karena lahan pertanian terdampak banjir meliputi Desa Pucangarum, Kadungrejo, Karangdayu, Pomahan, Kauman, Kedungprimpen, dan Temu itu, terancam gagal panen karena terendam banjir.

Tren tinggi muka air (TMA) di Taman Bengawan Solo (TBS) terus alami penurunan mulai Sabtu lalu (22/1). Status TMA pukul 18.00 kemarin (23/1) sudah tidak siaga hijau, yakni TMA 11,92 meter. 

Namun, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ardhian Orianto mengimbau agar masyarakat tetap waspada.

Mengingat kondisi cuaca hingga Februari mendatang masih puncak musim hujan. Sehingga intensitas hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir masih mengintai. TMA pun berpotensi naik turun selama musim hujan ini. “TMA di TBS sempat siaga kuning yaitu 13,51 meter, belum sampai menyentuh TMA 14,04 meter (siaga merah),” katanya.

Menurut Ardhian, naik turunnya TMA Bengawan Solo tentunya berpotensi terjadinya erosi atau tanah longsor. Adapun tanggul Bengawan Solo di Dusun/Desa/Kecamatan Kanor dan tanggul Kali Ingas di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor jebol pada Jumat lalu (21/1). 

- Advertisement -

Berdasar data kajian risiko bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro diketahui sebanyak  113 desa dari 20 kecamatan di Bojonegoro rawan tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 28 desa dari 19 kecamatan yang telah terjadi tanah longsor. 

“Ada 20 kecamatan rawan longsor, di antaranya Kecamatan Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Malo, Kalitidu, Dander, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Baureno, Sumberrejo, Ngasem, Gayam, Sugihwars, Kedungadem, Sukosewu, dan Kepohbaru,” tuturnya. 

Jumat (21/01) lalu, tanggul yang jebol itu tidak bisa ditutup. Sak-sak berisi pasir dan sesek yang dipasang itu hanya berfungsi menahan. Tujuannya agar dampak kerusakan akibat jebolnya tanggul itu tidak semakin meluas.

Jebolnya tanggul itu mengancam kerusakan tanaman padi di lima desa. Setidaknya ada 200 hektare tanaman padi terancam gagal panen. 

Naiknya debit Bengawan Solo memicu tanggul Kali Ingas di Desa Kedungrimpen, Kecamatan Kanor jebol. Itu mengakibatkan air meluber ke sejumlah lahan pertanian di lima desa itu.

Naiknya debit Bengawan Solo tidak diakibatkan adanya hujan lokal. Namun, disebabkan kirimian air dari hulu yang tinggi.

Artikel Terkait

Most Read

GDK Bakal Setor PAD

Ancaman Badai di Laut

Diperbaiki atau Dibangun Baru

Artikel Terbaru


/