alexametrics
25.7 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Juga Ada di Pabrik Sepatu

Pantau Warga Asing di Sekolah Bojonegoro

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Keberadaan warga negara asing (WNA) di Bojonegoro terus dipantau. Itu untuk memastikan keberadaan mereka di kabupaten penghasil kayu jati itu untuk hal-hal positif. Sejumlah WNA saat ini tercatat bekerja di perusahaan dan sektor pendidikan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Bojonegoro Mahmudi mengatakan, sejumlah WNA bekerja di perusahaan sepatu dan menjadi guru di sejumlah sekolah. ‘’Mereka magang sebagai guru selama beberapa bulan,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Mahmudi melanjutkan, para WNA mengajar di lembaga pendidikan belum lama tinggal. Mereka mengikuti program pertukaran guru dengan lembaga sekolah lokal. Kebedaraan mereka ada sudah lama dan baru. Sejauh ini mereka melakukan kegiatan positif, yakni bekerja. ‘’Mereka tidak melakukan kegiatan yang mencurigakan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Capaian Harian Vaksin Booster di Bojonegoro Naik

Meski demikian, lanjut Mahmudi, keberadaan WNA tersebut tetap harus dipantau. Itu mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang melanggar aturan.

Menurut Mahmudi, keberadaan para WNA di Bojonegoro tidak seperti di daerah-daerah lain. Di sejumlah daerah di Jawa Timur ada WNA belajar agama di pondok pesantren (ponpes). Hal itu tentunya membutuhkan pengawasan ekstra. ‘’Kalau di Bojonegoro masih kondusif.  Jumlahnya juga tidak banyak,’’ klaimnya.

Kabid Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinprinaker) Bojonegoro Slamet mengatakan, WNA di Bojonegoro tercatat sebagai tenaga kerja hanya ada di pabrik sepatu di Sumberrejo. Sedangkan, di sektor migas sudah tidak ada. ‘’Saat ini hanya di PT Shou Fong,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Santuni Anak Yatim dan Berbagi Paket Sembako di Bulan Suci Ramadan

Para WNA, lanjutnya, bekerja di sektor teknis. Mereka tenaga ahli didatangkan perusahaan. Biasanya hal itu tidak bisa ditangani oleh pekerja lokal. ‘’Kalau pekerja lokal bisa, tentu mereka tidak akan mendatangkan pekerja dari luar negeri,’’ jelasnya.

Menurut Slamet, sebelumnya WNA juga ada di sektor migas. Namun, beberapa tahun terakhir sudah tidak ada. Namun, hal itu tergantung kebutuhan perusahaan. ‘’Jika mereka membutuhkan biasanya perusahaan akan mendatangkan lagi,’’ bebernya. (zim/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Keberadaan warga negara asing (WNA) di Bojonegoro terus dipantau. Itu untuk memastikan keberadaan mereka di kabupaten penghasil kayu jati itu untuk hal-hal positif. Sejumlah WNA saat ini tercatat bekerja di perusahaan dan sektor pendidikan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Bojonegoro Mahmudi mengatakan, sejumlah WNA bekerja di perusahaan sepatu dan menjadi guru di sejumlah sekolah. ‘’Mereka magang sebagai guru selama beberapa bulan,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Mahmudi melanjutkan, para WNA mengajar di lembaga pendidikan belum lama tinggal. Mereka mengikuti program pertukaran guru dengan lembaga sekolah lokal. Kebedaraan mereka ada sudah lama dan baru. Sejauh ini mereka melakukan kegiatan positif, yakni bekerja. ‘’Mereka tidak melakukan kegiatan yang mencurigakan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pagu PPDB Tahap Pertama di Bojonegoro Tak Penuhi

Meski demikian, lanjut Mahmudi, keberadaan WNA tersebut tetap harus dipantau. Itu mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang melanggar aturan.

Menurut Mahmudi, keberadaan para WNA di Bojonegoro tidak seperti di daerah-daerah lain. Di sejumlah daerah di Jawa Timur ada WNA belajar agama di pondok pesantren (ponpes). Hal itu tentunya membutuhkan pengawasan ekstra. ‘’Kalau di Bojonegoro masih kondusif.  Jumlahnya juga tidak banyak,’’ klaimnya.

Kabid Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinprinaker) Bojonegoro Slamet mengatakan, WNA di Bojonegoro tercatat sebagai tenaga kerja hanya ada di pabrik sepatu di Sumberrejo. Sedangkan, di sektor migas sudah tidak ada. ‘’Saat ini hanya di PT Shou Fong,’’ jelasnya.

Baca Juga :  M. Anis Musthafa Gantikan Rasijan?

Para WNA, lanjutnya, bekerja di sektor teknis. Mereka tenaga ahli didatangkan perusahaan. Biasanya hal itu tidak bisa ditangani oleh pekerja lokal. ‘’Kalau pekerja lokal bisa, tentu mereka tidak akan mendatangkan pekerja dari luar negeri,’’ jelasnya.

Menurut Slamet, sebelumnya WNA juga ada di sektor migas. Namun, beberapa tahun terakhir sudah tidak ada. Namun, hal itu tergantung kebutuhan perusahaan. ‘’Jika mereka membutuhkan biasanya perusahaan akan mendatangkan lagi,’’ bebernya. (zim/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/