alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Melon Ketileng Dikonsep Wisata Petik

Potensi tanaman buah di Bojonegoro cukup bagus. Salah satunya di Kecamatan Malo. Bahkan, mulai tanaman melon di Desa Ketileng dikonsep wisata petik buah.

NURKOZIM, Radar Bojonegoro

MELON-melon itu tampak segar. Menggantung indah di tiang-tiang penyangga tanaman. Ada yang kecil dan besar. Seorang pria dengan sigap memetik satu buah. Lalu buah sebesar bola itu dipecahnya. Segera melahap irisan buah berwarna hijau itu.  ‘’Rasanya manis dan segar,’’ ujar Wito petani melon di Desa Ketileng, Kecamatan Malo, ditemui di sawahnya kemarin (21/5).

Kebun melon itu berlokasi di Desa Ketileng. Sekitar 500 meter dari jalan raya desa setempat. Usia buah melon itu baru 52 hari. Sebagian ada sudah matang. Diperkirakan tujuh hari lagi, buah manis itu siap dipanen. ‘’Ini sebagian sudah siap panen,’’ ungkapnya.

Usia tanaman melon tidak lama. Dalam 60 hari, melon sudah bisa dipanen. Wito tidak memanen buah hijau itu sendirian. Dia akan mengundang pembeli datang ke ladang dikelolanya. Para pembeli itu bisa memetik buah itu di sawah. Wito menjadikan melonnya itu wisata petik buah. Itu salah satu strategi untuk mendapatkan keuntungan.

Baca Juga :  PPDB Belum Dimulai, Madrasah Sudah Buka Jalur Khusus

Tentunya, wisata petik buah itu tidak akan berusia lama. Hanya bisa dilakukan dua hari saat siap panen saja. ‘’Kalau terlalu lama tanamannya sudah mati,’’ ungkap lelaki kelahiran 1967 itu.

Di Desa Ketileng, tanaman buah belum banyak. Warga sekitar masih belum banyak berminat menanam buah. Mereka lebih suka menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kacang. ‘’Ini saya uji coba. Biasanya kalau berhasil akan banyak yang ikut,’’ jelasnya.

Salah satu membuat warga setempat tidak tertarik menanam melon adalah perawatan rumit. Juga, butuh banyak biaya. Belum lagi hasil panen tidak pasti. Itu membuat petani enggan menanam melon.

Kepala Dusun Ketileng Fatkhur Rohman mengatakan, di desanya belum ada wisata. Kebun melon nantinya menjadi cikal bakal wisata desa. ‘’Saat ini banyak desa membuat objek wisata. Kebetulan kami belum ada,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Thak-thakan Diinventarisir Jadi Aset Budaya

Desa Ketileng, lanjutnya, dikenal pembuat jajanan tradisional tape singkong. Tape singkong banyak dijual di saentero Malo berasal dari Desa Ketileng.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Imam Nurhamid Arifin mengatakan, sejumlah petani banyak menanam buah saat kemarau. Mereka tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Malo. ‘’Biasanya yang banyak ditanam itu melon dan semangka,’’ jelasnya.

Imam melanjutkan, tanaman buah dari Bojonegoro cukup bagus. Bahkan, banyak diminati para tengkulak dari luar daerah. (*/rij)

Potensi tanaman buah di Bojonegoro cukup bagus. Salah satunya di Kecamatan Malo. Bahkan, mulai tanaman melon di Desa Ketileng dikonsep wisata petik buah.

NURKOZIM, Radar Bojonegoro

MELON-melon itu tampak segar. Menggantung indah di tiang-tiang penyangga tanaman. Ada yang kecil dan besar. Seorang pria dengan sigap memetik satu buah. Lalu buah sebesar bola itu dipecahnya. Segera melahap irisan buah berwarna hijau itu.  ‘’Rasanya manis dan segar,’’ ujar Wito petani melon di Desa Ketileng, Kecamatan Malo, ditemui di sawahnya kemarin (21/5).

Kebun melon itu berlokasi di Desa Ketileng. Sekitar 500 meter dari jalan raya desa setempat. Usia buah melon itu baru 52 hari. Sebagian ada sudah matang. Diperkirakan tujuh hari lagi, buah manis itu siap dipanen. ‘’Ini sebagian sudah siap panen,’’ ungkapnya.

Usia tanaman melon tidak lama. Dalam 60 hari, melon sudah bisa dipanen. Wito tidak memanen buah hijau itu sendirian. Dia akan mengundang pembeli datang ke ladang dikelolanya. Para pembeli itu bisa memetik buah itu di sawah. Wito menjadikan melonnya itu wisata petik buah. Itu salah satu strategi untuk mendapatkan keuntungan.

Baca Juga :  TF Honorer Dikurangi 2 Persen

Tentunya, wisata petik buah itu tidak akan berusia lama. Hanya bisa dilakukan dua hari saat siap panen saja. ‘’Kalau terlalu lama tanamannya sudah mati,’’ ungkap lelaki kelahiran 1967 itu.

Di Desa Ketileng, tanaman buah belum banyak. Warga sekitar masih belum banyak berminat menanam buah. Mereka lebih suka menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kacang. ‘’Ini saya uji coba. Biasanya kalau berhasil akan banyak yang ikut,’’ jelasnya.

Salah satu membuat warga setempat tidak tertarik menanam melon adalah perawatan rumit. Juga, butuh banyak biaya. Belum lagi hasil panen tidak pasti. Itu membuat petani enggan menanam melon.

Kepala Dusun Ketileng Fatkhur Rohman mengatakan, di desanya belum ada wisata. Kebun melon nantinya menjadi cikal bakal wisata desa. ‘’Saat ini banyak desa membuat objek wisata. Kebetulan kami belum ada,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Kahyangan Api Belum Hasilkan PAD, Sejak Maret Tak Ditarik Retribusi

Desa Ketileng, lanjutnya, dikenal pembuat jajanan tradisional tape singkong. Tape singkong banyak dijual di saentero Malo berasal dari Desa Ketileng.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Imam Nurhamid Arifin mengatakan, sejumlah petani banyak menanam buah saat kemarau. Mereka tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Malo. ‘’Biasanya yang banyak ditanam itu melon dan semangka,’’ jelasnya.

Imam melanjutkan, tanaman buah dari Bojonegoro cukup bagus. Bahkan, banyak diminati para tengkulak dari luar daerah. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/