BUDAYA: Para pedagang mengarak gunungan kue apem sebagai tradisi megengan menyambut puasa Ramadan, kemarin pagi (21/3). (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RDR.BJN)
- Advertisement -
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Salawatan terus dikumandangkan saat pedagang Pasar Tradisional Kota Bojonegoro mengarak gunungan apem. Tradisi megengan kemarin pagi (21/3) itu mengusung 500 kue apem dibawa berjalan menuju Alun-Alun Bojonegoro hingga lorong-lorong pasar.
Pedagang Pasar Tradisional Kota Bojonegoro tidak berhenti gelar aksi. Aksi damai bertajuk Megengan Mapak Ramadan tersebut menjadi wujud syukur sekaligus upaya pedagang melestarikan warisan leluhur.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro Wasito mengatakan, aksi ini wujud syukur menyambut Ramadan dan bentuk ikhtiar pedagang mempertahankan keberadaan pasar. Seperti gunungan apem menjadi simbol tradisi, Pasar Kota Bojonegoro pun bagian dari tradisi leluhur meletakkan pusat pemerintahan berdekatan dengan pasar, alun-alun, dan masjid.
‘’Hal itu merupakan satu kesatuan tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.
Pedagang gerabah tersebut menambahkan, seluruh masyarakat Pasar kota saat ini berjuang mempertahankan keberadaan pasar, sebagai bagian sejarah Bojonegoro. ‘’Karena itu pedagang tetap berharap Pemkab Bojonegoro agar tetap mempertahankan pasar tradisional kota,” ujarnya.
Zaini salah satu pedagang mengatakan, misi pedagang tetap menciptakan eksistensi aktivitas jual beli Pasar Kota. Apapun menjadi persoalan pedagang selama ini, dasarnya ingin mempertahankan simbol atau warisan leluhur agar dijaga dan dirawat keberadaannya. ‘’Semoga para pejabat lebih terbuka hatinya,” bebernya.
Menurut Zaini, apa menjadi cita-cita pedagang selama ini bisa terwujud dengan simbol gunungan. ‘’Apalagi pasar kota selama ini sudah menjadi hajat hidup ribuan orang,” jelasnya. (dan/rij)
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Salawatan terus dikumandangkan saat pedagang Pasar Tradisional Kota Bojonegoro mengarak gunungan apem. Tradisi megengan kemarin pagi (21/3) itu mengusung 500 kue apem dibawa berjalan menuju Alun-Alun Bojonegoro hingga lorong-lorong pasar.
Pedagang Pasar Tradisional Kota Bojonegoro tidak berhenti gelar aksi. Aksi damai bertajuk Megengan Mapak Ramadan tersebut menjadi wujud syukur sekaligus upaya pedagang melestarikan warisan leluhur.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro Wasito mengatakan, aksi ini wujud syukur menyambut Ramadan dan bentuk ikhtiar pedagang mempertahankan keberadaan pasar. Seperti gunungan apem menjadi simbol tradisi, Pasar Kota Bojonegoro pun bagian dari tradisi leluhur meletakkan pusat pemerintahan berdekatan dengan pasar, alun-alun, dan masjid.
‘’Hal itu merupakan satu kesatuan tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.
Pedagang gerabah tersebut menambahkan, seluruh masyarakat Pasar kota saat ini berjuang mempertahankan keberadaan pasar, sebagai bagian sejarah Bojonegoro. ‘’Karena itu pedagang tetap berharap Pemkab Bojonegoro agar tetap mempertahankan pasar tradisional kota,” ujarnya.
Zaini salah satu pedagang mengatakan, misi pedagang tetap menciptakan eksistensi aktivitas jual beli Pasar Kota. Apapun menjadi persoalan pedagang selama ini, dasarnya ingin mempertahankan simbol atau warisan leluhur agar dijaga dan dirawat keberadaannya. ‘’Semoga para pejabat lebih terbuka hatinya,” bebernya.
Menurut Zaini, apa menjadi cita-cita pedagang selama ini bisa terwujud dengan simbol gunungan. ‘’Apalagi pasar kota selama ini sudah menjadi hajat hidup ribuan orang,” jelasnya. (dan/rij)