23.2 C
Bojonegoro
Friday, June 9, 2023

Dua Tahun Pandemi, Bangkit Agustusan dan Momen Hari Jadi

Pengusaha Sablon Melepas Dahaga Orderan

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Bisnis jasa sablon atau konveksi seakan hendak melepas dahaga. Lesu selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, kini perlahan mulai membaik.

Sebab, pesanan sablon mulai berdatangan, seiring banyaknya kegiatan Agustusan. Apabila ada acara komunitas dan desa menambah permintaan sablon. Syukurnya mulai pertengahan 2022 ini kondisi pandemi Covid-19 melandai dan acara mengandung kerumunan massa sudah diizinkan kembali.

Jawa Pos Radar Bojonegoro bertandang di beberapa pengusaha sablon kawasan Kecamatan Bojonegoro Kota Jumat (19/8). Rerata para pengusaha sablon mengaku pesanan mulai ramai sejak minggu terakhir Juli lalu. Momen jelang Agustusan sekaligus bertepatan momen bulan Sura atau Muharan.

Petrick pengusaha sablon asal Desa Sukorejo mengungkapkan, bahwa pesanan sablon tahun ini jauh lebih baik daripada dua tahun lalu. ”Momen Agustusan ini perkiraan sudah nyablon sekitar 1.000 kaus. Pesanan dari warga Bojonegoro, juga dari luar kota,” terangnya.

Petrick menilai kondisi bisnis sablon perlahan kembali stabil. “Hampir semua pengusaha sablon ramai pesanan semuanya,” imbuhnya. Pelanggan pun punya langganan sablon sendiri. Perihal harga tentu bersaing, namun ia tak ingin memaksakan diri mengambil pesanan dengan harga terlalu rendah.

- Advertisement -

“Harga di tempat saya Rp 75 ribu per kaus dengan hasil berkualitas,” ujarnya.

Pengusaha sablon asal Desa Campurejo Enos pun menilai momen bulan Sura jadi berkah. Karena di Bojonegoro cukup banyak pemuda ikut organisasi pencak silat. “Selama bulan Sura ini didominasi pesanan kaus pencak silat, Totalnya lebih dari 500 kaus,” bebernya.

Tetapi kendala dihadapi para pengusaha sablon, harga bahan baku kain terus naik. Saat ini, harga kain tembus sekitar Rp 149 ribu per kilogram. “Sedangkan tak sedikit pelanggan itu memaksa pesan sablon dengan harga rendah,” tuturnya.

Selain itu persaingan bisnis sablon semakin ketat. Ia memperkirakan saat ini lebih dari 200 pengusaha sablon tersebar di Bojonegoro. “Apalagi ketika pandemi itu banyak bermunculan pengusaha sablon baru,” imbuhnya. Tapi sisi positifnya antarpengusaha sablon kerap saling lempar pesanan. Karena banyak pelanggan itu pengin cepat jadi.

Hal senada dikatakan pengusaha sablon Kelurahan Ledok Wetan Abidin, bahwa momen Agustusan jadi berkah para pengusaha sablon. Pesanan yang masuk sudah lebih dari 100 kaus pertengahan bulan ini. “Semoga bulan Oktober saat Hari Jadi Bojonegoro, pesanan kaus sablon lebih banyak lagi,” katanya.

Pesanannya rerata kaus pemuda desa atau komunitas. Abidin pun menerima pesanan sablon jersey, jaket, dan polo shirt. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Bisnis jasa sablon atau konveksi seakan hendak melepas dahaga. Lesu selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, kini perlahan mulai membaik.

Sebab, pesanan sablon mulai berdatangan, seiring banyaknya kegiatan Agustusan. Apabila ada acara komunitas dan desa menambah permintaan sablon. Syukurnya mulai pertengahan 2022 ini kondisi pandemi Covid-19 melandai dan acara mengandung kerumunan massa sudah diizinkan kembali.

Jawa Pos Radar Bojonegoro bertandang di beberapa pengusaha sablon kawasan Kecamatan Bojonegoro Kota Jumat (19/8). Rerata para pengusaha sablon mengaku pesanan mulai ramai sejak minggu terakhir Juli lalu. Momen jelang Agustusan sekaligus bertepatan momen bulan Sura atau Muharan.

Petrick pengusaha sablon asal Desa Sukorejo mengungkapkan, bahwa pesanan sablon tahun ini jauh lebih baik daripada dua tahun lalu. ”Momen Agustusan ini perkiraan sudah nyablon sekitar 1.000 kaus. Pesanan dari warga Bojonegoro, juga dari luar kota,” terangnya.

Petrick menilai kondisi bisnis sablon perlahan kembali stabil. “Hampir semua pengusaha sablon ramai pesanan semuanya,” imbuhnya. Pelanggan pun punya langganan sablon sendiri. Perihal harga tentu bersaing, namun ia tak ingin memaksakan diri mengambil pesanan dengan harga terlalu rendah.

- Advertisement -

“Harga di tempat saya Rp 75 ribu per kaus dengan hasil berkualitas,” ujarnya.

Pengusaha sablon asal Desa Campurejo Enos pun menilai momen bulan Sura jadi berkah. Karena di Bojonegoro cukup banyak pemuda ikut organisasi pencak silat. “Selama bulan Sura ini didominasi pesanan kaus pencak silat, Totalnya lebih dari 500 kaus,” bebernya.

Tetapi kendala dihadapi para pengusaha sablon, harga bahan baku kain terus naik. Saat ini, harga kain tembus sekitar Rp 149 ribu per kilogram. “Sedangkan tak sedikit pelanggan itu memaksa pesan sablon dengan harga rendah,” tuturnya.

Selain itu persaingan bisnis sablon semakin ketat. Ia memperkirakan saat ini lebih dari 200 pengusaha sablon tersebar di Bojonegoro. “Apalagi ketika pandemi itu banyak bermunculan pengusaha sablon baru,” imbuhnya. Tapi sisi positifnya antarpengusaha sablon kerap saling lempar pesanan. Karena banyak pelanggan itu pengin cepat jadi.

Hal senada dikatakan pengusaha sablon Kelurahan Ledok Wetan Abidin, bahwa momen Agustusan jadi berkah para pengusaha sablon. Pesanan yang masuk sudah lebih dari 100 kaus pertengahan bulan ini. “Semoga bulan Oktober saat Hari Jadi Bojonegoro, pesanan kaus sablon lebih banyak lagi,” katanya.

Pesanannya rerata kaus pemuda desa atau komunitas. Abidin pun menerima pesanan sablon jersey, jaket, dan polo shirt. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Ragil: Segera Ada Pertemuan

THR PNS Cair

Ubah Pilihan ketika Mendaftar SNBP

Artikel Terbaru


/