alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Telusuri Penyebab Kelangkaan di Lapangan

Produksi Migor Surplus 4.000 Ton

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Produksi minyak goreng (migor) di sejumlah pabrik di Jawa Timur (Jatim) masih normal, 63 ribu ton per bulan. Sebaliknya, kebutuhan sekitar 69 ribu per bulan. Sehingga, dihitung di atas kertas surplus sekitar 4.000 ton. Namun, kondisi di lapangan berbeda. Migor justru mengalami kelangkaan.

Menurut Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa, setiap bulan produksi migor di Jatim mencapai 63 ribu ton. Produksi itu jauh lebih banyak dari kebutuhan warga Jatim 59 ribu ton per bulan.

‘’Namun, pasokan selalu kurang. Baik di pasar tradisional maupun pasar modern,’’ ungkap Khofifah saat menghadiri operasi pasar migor di Bakorwil Bojonegoro kemarin (20/2).

Pihaknya bersama Kapolda Jatim dan Pangdam Brawijaya melakukan pengecekan di sejumlah produsen migor di Jatim. Pabrik-pabrik migor di Jatim hingga kini masih melakukan produksi secara normal.

Baca Juga :  BAZNAS: Bergerak Menuju Transformasi Mustahik Produktif, Energik, Sejahtera

Namun, di tingkat konsumen migor tetap langka. ‘’Harus dilakukan evaluasi secara kompeherensif,’’ tegasnya.

Khofifah menjelaskan, Saat ini tim dari Kementerian Perdagangan masih melakukan koordinasi di Jatim, untuk mencari penyebab langkanya pasokan. Harapannya bisa ditemukan penyebab kelangkaan di tingkat konsumen.

Kondisi langka itu melatarbelakangi Pemprov Jatim melakukan operasi pasar migor. ‘’Itu dilakukan sejak bulan lalu di seluruh wilayah Jatim. Harapannya, tidak lagi terjadi kelangkaan,’’ tuturnya.

Selain langka, harga migor di pasaran juga lebih mahal. Bahkan, per liter harganya mencapai Rp 23 ribu. Hal itu tentu memberatkan pelaku usaha kecil menengah (UKM).

‘’Kami siapkan 4 ribu liter minyak goreng dalam operasi pasar ini,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, Khofifah meminta pemerintah kabupaten/kota di Jatim melakukan program bantalan ekonomi berupa bantuan untuk UKM. Sehingga, pelaku UKM tidak tertekan dengan situasi ekonomi yang sulit ini. ‘’Mereka masih tetap bisa eksis,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Dr. Didik Mukrianto, SH, MH, Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Tuban

Dalam operasi pasar itu, harga yang dipatok lebih murah. Yakni, Rp 12.500 per liter. Hal itu membuat masyarakat berbondong-bondong menyerbu pasar murah itu. Antrean pasar murah migor itu meluber hingga alun-alun Bojonegoro.

‘’Mumpung ada harga murah. Jadi, saya ikut antre membeli,’’ ujar Aminah, salah satu warga yang ikut antre. (zim/msu)

 

Minyak Goreng di Jatim

 

-Produksi 63 ribu ton per bulan.

-Kebutuhan 59 ribu ton per bulan.

-Surplus 4.000 ton.

-Masih terjadi kelangkaan di lapangan.

-Butuh evaluasi secara kompeherensif.

 

Bojonegoro, Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah, Minyak Goreng,

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Produksi minyak goreng (migor) di sejumlah pabrik di Jawa Timur (Jatim) masih normal, 63 ribu ton per bulan. Sebaliknya, kebutuhan sekitar 69 ribu per bulan. Sehingga, dihitung di atas kertas surplus sekitar 4.000 ton. Namun, kondisi di lapangan berbeda. Migor justru mengalami kelangkaan.

Menurut Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa, setiap bulan produksi migor di Jatim mencapai 63 ribu ton. Produksi itu jauh lebih banyak dari kebutuhan warga Jatim 59 ribu ton per bulan.

‘’Namun, pasokan selalu kurang. Baik di pasar tradisional maupun pasar modern,’’ ungkap Khofifah saat menghadiri operasi pasar migor di Bakorwil Bojonegoro kemarin (20/2).

Pihaknya bersama Kapolda Jatim dan Pangdam Brawijaya melakukan pengecekan di sejumlah produsen migor di Jatim. Pabrik-pabrik migor di Jatim hingga kini masih melakukan produksi secara normal.

Baca Juga :  Plus-Minus PPDB Jalur Prestasi Akademik

Namun, di tingkat konsumen migor tetap langka. ‘’Harus dilakukan evaluasi secara kompeherensif,’’ tegasnya.

Khofifah menjelaskan, Saat ini tim dari Kementerian Perdagangan masih melakukan koordinasi di Jatim, untuk mencari penyebab langkanya pasokan. Harapannya bisa ditemukan penyebab kelangkaan di tingkat konsumen.

Kondisi langka itu melatarbelakangi Pemprov Jatim melakukan operasi pasar migor. ‘’Itu dilakukan sejak bulan lalu di seluruh wilayah Jatim. Harapannya, tidak lagi terjadi kelangkaan,’’ tuturnya.

Selain langka, harga migor di pasaran juga lebih mahal. Bahkan, per liter harganya mencapai Rp 23 ribu. Hal itu tentu memberatkan pelaku usaha kecil menengah (UKM).

‘’Kami siapkan 4 ribu liter minyak goreng dalam operasi pasar ini,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, Khofifah meminta pemerintah kabupaten/kota di Jatim melakukan program bantalan ekonomi berupa bantuan untuk UKM. Sehingga, pelaku UKM tidak tertekan dengan situasi ekonomi yang sulit ini. ‘’Mereka masih tetap bisa eksis,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Ramah Berbagi Pengalaman

Dalam operasi pasar itu, harga yang dipatok lebih murah. Yakni, Rp 12.500 per liter. Hal itu membuat masyarakat berbondong-bondong menyerbu pasar murah itu. Antrean pasar murah migor itu meluber hingga alun-alun Bojonegoro.

‘’Mumpung ada harga murah. Jadi, saya ikut antre membeli,’’ ujar Aminah, salah satu warga yang ikut antre. (zim/msu)

 

Minyak Goreng di Jatim

 

-Produksi 63 ribu ton per bulan.

-Kebutuhan 59 ribu ton per bulan.

-Surplus 4.000 ton.

-Masih terjadi kelangkaan di lapangan.

-Butuh evaluasi secara kompeherensif.

 

Bojonegoro, Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah, Minyak Goreng,

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/