alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Doa Spontan Duafa yang Mengharukan

Radar Tuban – Sekitar sebulan sebelum dicanangkannya Gerakan Satu Rumah Satu Masker, persisnya mulai 26 Juni lalu, Setiajit blusukan mendatangi puluhan desa pada sepuluh kecamatan.

Sepuluh kecamatan tersebut, Kerek, Montong, Bancar, Kenduruan, Widang, Palang, Rengel, Semanding, Jenu, dan Jatirogo. Selain membawa misi khusus menyadarkan masyarakat terkait pentingnya mengenakan masker sekaligus membagikan alat pelindung pernapasan tersebut, Setiajit juga membagikan sembako dan jilbab.

Penerimanya diprioritaskan duafa, janda tua yang sebatang kara, dan yatim-piatu yang tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Dia sendiri yang membawa dan menyerahkan paket bantuan tersebut dengan mendatangi satu per satu rumah penerimanya sambil melihat kondisi mereka.

‘’Assalamualaikum, kulo Setiajit nyuwun pangestune.’’ Begitulah Setiajit menyapa setiap kali mendatangi rumah-rumah warga yang disasar. Untuk mendatangi tempat tinggal penerima yang sulit dijangkau kendaraan roda empat, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu harus estafet.

Baca Juga :  CABDISDIK BOJONEGORO-TUBAN TERBAIK SE-JAWA TIMUR

Mobilnya diparkir di titik terdekat dari lokasi sasaran. Setelah itu, dia berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan gang-gang sempit. Kalau lokasinya terlalu jauh, dia dibonceng motor relawannya.

Setiap kali turun, Setiajit juga tidak canggung menempelkan mulutnya ke telinga janda-janda tua yang kemampuan indera pendengarannya menurun. Untuk lebih mendekatkan diri, dia juga merangkul dan menepuk pundak masyarakat kalangan bawah tersebut.

Bahkan, dia juga tidak risi mengenakan masker dan jilbab kepada sejumlah penerimanya. Komunikasi interpersonal yang dibangun Setiajit secara lisan dan nonverbal benar-benar terbukti efektif untuk mendekatkan dirinya dengan kalangan masyarakat bawah tersebut.

Terbukti, sebagian besar warga yang ditemui tidak segan mengajaknya berkomunikasi lebih lama dan foto selfie. Bahkan, beberapa warga yang terharu spontan menengadahkan tangan dan mendoakannya.

Baca Juga :  Kesenian Daerah Jangan Direndahkan

‘’Mugi-mugi kasembadan sing dikarepake dan diparingi lancar,’’ ujar Suntiamah, 60, warga Desa Panyuran, Kecamatan Palang. Mendengar doa tersebut, Setiajit hanya mengamini. Doa yang sama juga dipanjatkan penerima lainnya.

Radar Tuban – Sekitar sebulan sebelum dicanangkannya Gerakan Satu Rumah Satu Masker, persisnya mulai 26 Juni lalu, Setiajit blusukan mendatangi puluhan desa pada sepuluh kecamatan.

Sepuluh kecamatan tersebut, Kerek, Montong, Bancar, Kenduruan, Widang, Palang, Rengel, Semanding, Jenu, dan Jatirogo. Selain membawa misi khusus menyadarkan masyarakat terkait pentingnya mengenakan masker sekaligus membagikan alat pelindung pernapasan tersebut, Setiajit juga membagikan sembako dan jilbab.

Penerimanya diprioritaskan duafa, janda tua yang sebatang kara, dan yatim-piatu yang tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Dia sendiri yang membawa dan menyerahkan paket bantuan tersebut dengan mendatangi satu per satu rumah penerimanya sambil melihat kondisi mereka.

‘’Assalamualaikum, kulo Setiajit nyuwun pangestune.’’ Begitulah Setiajit menyapa setiap kali mendatangi rumah-rumah warga yang disasar. Untuk mendatangi tempat tinggal penerima yang sulit dijangkau kendaraan roda empat, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu harus estafet.

Baca Juga :  Gelar Unjuk Rasa, Tuntut PT Rekind Pekerjakan Warga Lokal

Mobilnya diparkir di titik terdekat dari lokasi sasaran. Setelah itu, dia berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan gang-gang sempit. Kalau lokasinya terlalu jauh, dia dibonceng motor relawannya.

Setiap kali turun, Setiajit juga tidak canggung menempelkan mulutnya ke telinga janda-janda tua yang kemampuan indera pendengarannya menurun. Untuk lebih mendekatkan diri, dia juga merangkul dan menepuk pundak masyarakat kalangan bawah tersebut.

Bahkan, dia juga tidak risi mengenakan masker dan jilbab kepada sejumlah penerimanya. Komunikasi interpersonal yang dibangun Setiajit secara lisan dan nonverbal benar-benar terbukti efektif untuk mendekatkan dirinya dengan kalangan masyarakat bawah tersebut.

Terbukti, sebagian besar warga yang ditemui tidak segan mengajaknya berkomunikasi lebih lama dan foto selfie. Bahkan, beberapa warga yang terharu spontan menengadahkan tangan dan mendoakannya.

Baca Juga :  Covid Klaster Keluarga Kembali Muncul

‘’Mugi-mugi kasembadan sing dikarepake dan diparingi lancar,’’ ujar Suntiamah, 60, warga Desa Panyuran, Kecamatan Palang. Mendengar doa tersebut, Setiajit hanya mengamini. Doa yang sama juga dipanjatkan penerima lainnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/