alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Tradisi Keduk Sumur Wali Bejagung

TUBAN, Radar Tuban – Masyarakat Desa Bejagung, Kecamatan Semanding masih memegang teguh tradisi Keduk Sumur Wali Bejagung Lor. Sesuai namanya, tradisi unik tersebut berupa ritual membersihkan dasar sumur yang berlokasi di kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu dilanjutkan dengan dawetan atau tukar nasi bancaan usai salat Jumat. Minumannya dawet.

Tidak sembarang orang bisa membersihkan dasar sumur dengan kedalaman sekitar 35 meter tersebut. Hanya yang memiliki tali aris atau keturunan Mbah Pamor, pembuat sumur era Syekh Maulana Abdullah Asy’ari, nama lain Sunan Bejagung yang bisa membersihkan. Sejumlah warga mengatakan, pernah beberapa warga bukan tali aris mencoba membersihkan sumur tersebut, tapi gagal karena banyak hambatan.

Salah satu tali aris  Mbah Pamor adalah kepala desa setempat, Aang Sutam. Sebelum masuk ke dasar sumur, Aang mengikuti ritual dengan membakar sejumlah ramuan rahasia di sekitar sumur.

Baca Juga :  Tutup Kawasan Alun-Alun

Sebelum ritual dimulai, dasar sumur masih dipenuhi air. Menjelang dibersihkan, ketinggian air sumur berangsur-angsur surut dan kemudian menghilang.

Setelah surut, Aang dengan peralatan safety lengkap dengan helm dan rompi, turun dengan tali yang biasa dipakai mengambil air sumur. Sampai di dasar, dia menguras sampah dan sisa lumpur. Di kedalaman lebih dari 35 meter tersebut, petinggi desa itu berkomunikasi dengan handy talkie (HT) yang terkoneksi dengan masyarakat yang menunggui di bibir sumur.

Yang diangkat dari dasar sumur sebagian besar adalah sampah seperti bunga setaman atau peralatan ritual peziarah, puntung rokok, bebatuan, dan kayu. Tak hanya sampah. Juga ditemukan uang koin pecahan Rp 500 – Rp 1 ribu yang jumlahnya cukup banyak. Setelah sampah yang bercampur uang koin tersebut diangkat ke bibir sumur, sejumlah warga dan anak-anak berebut mengambil koin yang diduga dilempar para peziarah.

Setelah berada di dasar sumur sekitar 30 menit, tali sumur yang mengikat tubuh Aang ditarik. Ketika keluar, badan Aang bergetar. Diduga, dia kekurangan oksigen. Tak lama berselang, dia kembali pulih. ‘’Keduk sumur Bejagung Lor dilakukan tiap dua tahun sekali, harinya Jumat Legi dan sesuai hitungan,’’ kata Aang.

Baca Juga :  Sisa Sehari, Sally Masih Calon Tunggal Askab PSSI Bojonegoro

Dia mengatakan, sumur tersebut merupakan peninggalan Sunan Bejagung sejak 1841. Dipercaya air sumur tersebut membawa karomah atau khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di antaranya, penyakit kulit, gatal-gatal, hingga penyakit dalam. Karena itu, untuk menjaga kebersihannya dilakukan ritual bersih sumur. ‘’Setiap hari, ada ratusan peziarah ke sini dan selalu membawa pulang air itu. Jadi harus kami jaga kebersihannya,’’ ujar dia.

Setelah ritual keduk sumur, acara dilanjutkan dengan dawetan atau tukar nasi dan minuman dawet oleh warga desa. Acara tersebut sebagai simbol guyup warga untuk menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. ‘’Acara itu simbol take and give, setiap warga memberi dan menerima agar terjaga komunikasi dan kerukunan bermasyarakat,’’ ujar dia.

TUBAN, Radar Tuban – Masyarakat Desa Bejagung, Kecamatan Semanding masih memegang teguh tradisi Keduk Sumur Wali Bejagung Lor. Sesuai namanya, tradisi unik tersebut berupa ritual membersihkan dasar sumur yang berlokasi di kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu dilanjutkan dengan dawetan atau tukar nasi bancaan usai salat Jumat. Minumannya dawet.

Tidak sembarang orang bisa membersihkan dasar sumur dengan kedalaman sekitar 35 meter tersebut. Hanya yang memiliki tali aris atau keturunan Mbah Pamor, pembuat sumur era Syekh Maulana Abdullah Asy’ari, nama lain Sunan Bejagung yang bisa membersihkan. Sejumlah warga mengatakan, pernah beberapa warga bukan tali aris mencoba membersihkan sumur tersebut, tapi gagal karena banyak hambatan.

Salah satu tali aris  Mbah Pamor adalah kepala desa setempat, Aang Sutam. Sebelum masuk ke dasar sumur, Aang mengikuti ritual dengan membakar sejumlah ramuan rahasia di sekitar sumur.

Baca Juga :  Netralitas ASN Ditengah Pilkada Masih Terjaga

Sebelum ritual dimulai, dasar sumur masih dipenuhi air. Menjelang dibersihkan, ketinggian air sumur berangsur-angsur surut dan kemudian menghilang.

Setelah surut, Aang dengan peralatan safety lengkap dengan helm dan rompi, turun dengan tali yang biasa dipakai mengambil air sumur. Sampai di dasar, dia menguras sampah dan sisa lumpur. Di kedalaman lebih dari 35 meter tersebut, petinggi desa itu berkomunikasi dengan handy talkie (HT) yang terkoneksi dengan masyarakat yang menunggui di bibir sumur.

Yang diangkat dari dasar sumur sebagian besar adalah sampah seperti bunga setaman atau peralatan ritual peziarah, puntung rokok, bebatuan, dan kayu. Tak hanya sampah. Juga ditemukan uang koin pecahan Rp 500 – Rp 1 ribu yang jumlahnya cukup banyak. Setelah sampah yang bercampur uang koin tersebut diangkat ke bibir sumur, sejumlah warga dan anak-anak berebut mengambil koin yang diduga dilempar para peziarah.

Setelah berada di dasar sumur sekitar 30 menit, tali sumur yang mengikat tubuh Aang ditarik. Ketika keluar, badan Aang bergetar. Diduga, dia kekurangan oksigen. Tak lama berselang, dia kembali pulih. ‘’Keduk sumur Bejagung Lor dilakukan tiap dua tahun sekali, harinya Jumat Legi dan sesuai hitungan,’’ kata Aang.

Baca Juga :  Setorkan Nama 12.949 Guru Untuk Divaksin

Dia mengatakan, sumur tersebut merupakan peninggalan Sunan Bejagung sejak 1841. Dipercaya air sumur tersebut membawa karomah atau khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di antaranya, penyakit kulit, gatal-gatal, hingga penyakit dalam. Karena itu, untuk menjaga kebersihannya dilakukan ritual bersih sumur. ‘’Setiap hari, ada ratusan peziarah ke sini dan selalu membawa pulang air itu. Jadi harus kami jaga kebersihannya,’’ ujar dia.

Setelah ritual keduk sumur, acara dilanjutkan dengan dawetan atau tukar nasi dan minuman dawet oleh warga desa. Acara tersebut sebagai simbol guyup warga untuk menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. ‘’Acara itu simbol take and give, setiap warga memberi dan menerima agar terjaga komunikasi dan kerukunan bermasyarakat,’’ ujar dia.

Artikel Terkait

Most Read

Potensi Ekonomi Besar?

Percepat Penyaluran Rastra

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/