alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Pelaku UMKM di Bojonegoro Minim Edukasi Bahan Halal

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Selama enam bulan rerata pelaku UMKM makanan ringan siap santap mengajukan sertifikasi secara mandiri (self declare). Namun, pelaku UMKM banyak yang belum mengetahui bahan digunakan halal atau tidak. Sehingga perlu adanya edukasi lebih.

 

Satgas BPJPH Bojonegoro Samhati Hasan mengatakan, saat ini pengajuan sertifikasi halal dilakukan secara mandiri oleh pelaku UMKM. Namun, pengetahuan tentang bahan digunakan harus sudah berlabel dan tidak boleh kadaluwarsa sertifikasi halal masih kurang.

 

Sehingga bahan-bahan seperti tepung harus dipastikan memiliki label halal dan masih berlaku. “Kadang mereka (pelaku UMKM) asal pakai, tapi tidak melihat kalau bahan digunakan sudah expired halalnya atau bisa jadi tidak halalnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Matangkan Pelebaran Jalan Bojonegoro-Dander
- Advertisement -

 

Samhati menjelaskan, edukasi pelaku UMKM terkait bahan halal perlu dilakukan lebih intens. Khususnya edukasi ke pelaku usaha ingin mengajukan sertifikat halal. “Kami sekarang memberi informasi seluas-luasnya ke masyarakat terkait hal tersebut,” ujarnya.

 

Menurut Samhati, berdasar data di provinsi jumlah pengajuan sertifikasi halal terbanyak makanan ringan siap santap. Sekitar 1.782 produk makanan ringan. Namun, untuk jumlah di Bojonegoro tidak diketahui karena pelaku UMKM melakukan secara self declare.

 

Samhati menjelaskan, banyaknya makanan ringan siap santap diajukan karena lebih mudah dibanding produk lainnya. Bahan-bahan makanan ringan tidak mengandung daging, sehingga mudah. Terkait fasilitasi sertifikasi halal gratis, pihaknya mengaku sudah dalam pengajuan dan ditetapkan untuk Bojonegoro mendapatkan enam pelaku usaha. Fasilitasi dari BPJPH sudah berakhir 30 Juni lalu. (irv/rij)

Baca Juga :  Adaptasi Jadwal Laga, Gelar Latihan Siang

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Selama enam bulan rerata pelaku UMKM makanan ringan siap santap mengajukan sertifikasi secara mandiri (self declare). Namun, pelaku UMKM banyak yang belum mengetahui bahan digunakan halal atau tidak. Sehingga perlu adanya edukasi lebih.

 

Satgas BPJPH Bojonegoro Samhati Hasan mengatakan, saat ini pengajuan sertifikasi halal dilakukan secara mandiri oleh pelaku UMKM. Namun, pengetahuan tentang bahan digunakan harus sudah berlabel dan tidak boleh kadaluwarsa sertifikasi halal masih kurang.

 

Sehingga bahan-bahan seperti tepung harus dipastikan memiliki label halal dan masih berlaku. “Kadang mereka (pelaku UMKM) asal pakai, tapi tidak melihat kalau bahan digunakan sudah expired halalnya atau bisa jadi tidak halalnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Siswa Bojonegoro Jadikan Tulang Ayam sebagai Penetral Limbah Tekstil
- Advertisement -

 

Samhati menjelaskan, edukasi pelaku UMKM terkait bahan halal perlu dilakukan lebih intens. Khususnya edukasi ke pelaku usaha ingin mengajukan sertifikat halal. “Kami sekarang memberi informasi seluas-luasnya ke masyarakat terkait hal tersebut,” ujarnya.

 

Menurut Samhati, berdasar data di provinsi jumlah pengajuan sertifikasi halal terbanyak makanan ringan siap santap. Sekitar 1.782 produk makanan ringan. Namun, untuk jumlah di Bojonegoro tidak diketahui karena pelaku UMKM melakukan secara self declare.

 

Samhati menjelaskan, banyaknya makanan ringan siap santap diajukan karena lebih mudah dibanding produk lainnya. Bahan-bahan makanan ringan tidak mengandung daging, sehingga mudah. Terkait fasilitasi sertifikasi halal gratis, pihaknya mengaku sudah dalam pengajuan dan ditetapkan untuk Bojonegoro mendapatkan enam pelaku usaha. Fasilitasi dari BPJPH sudah berakhir 30 Juni lalu. (irv/rij)

Baca Juga :  Pendistribusian Program Sembako Diapresiasi, Kualitasnya Sangat Bagus

Artikel Terkait

Most Read

Hujan Masih Parsial

Amir Memiliki Promotor Politik Andal

Korupsi Desa Jari Masuk Tahap Dua

Artikel Terbaru


/