alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Pabrik Es Cemari Sungai Bektiharjo, Berdiri Tanpa Pengolahan Limbah

Radar Tuban – Bau gas amonia yang menyengat dan menyesakkan dada masih tercium saat masuk di halaman pabrik es PT Tirtojoyo, kemarin (18/7) siang. Padahal, pabrik es yang berlokasi di Dusun Krajan RT.02 RW.02 Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding itu sudah disegel polisi pasca gas amonia dari pabrik tersebut bocor dan mencemari lingkungan, Sabtu (17/7).

Sehari berselang bau gas tersebut belum juga reda. Diduga, pipa gas yang bocor tersebut masih mengeluarkan gas beracunnya. Sejak bocor Sabtu, pipa gas yang berada di ketinggian sekitar empat meter tersebut belum diperbaiki. Hanya, aliran air yang tercemar senyawa kimia pabrik tersebut yang tidak lagi terlihat mengalir ke sungai.

Meski demikian, sampel air sungai tetap diteliti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tuban untuk mengetahui kadar racunnya. Kemarin (18/7) pagi terlihat sejumlah aktivis lingkungan dari Komunitas Peduli Sungai (Kompas) dan petugas DLH Tuban mendatangi pabrik es tersebut untuk menanyakan kronologi pembuatan es batu kristal hingga terjadinya kebocoran gas amonia.

Namun, Lanita, pemilik pabrik tak banyak bicara. Dia justru menyodorkan Anton, anak buahnya yang bertugas sebagai operator mesin es untuk menjawab pertanyaan DLH, Kompas, dan Jawa Pos Radar Tuban. Padahal, saat kejadian berlangsung, Anton tak berada di lokasi karena izin tidak masuk kerja. Anton mengatakan, sehari harinya, mesin es kristal dioperasikan bersama Muri. Namun, saat kebocoran terjadi, dia dan Muri izin tidak masuk kerja karena sakit. Sehingga, mesin dioperasikan Jeffri, anak Lanita, pemilik pabrik es tersebut.

Baca Juga :  Menorehkan Prestasi Nasional

‘’Saya dan Muri izin tidak masuk kerja, jadi tidak tahu bagai mana awal mula kejadiannya,’’ ujarnya. Kepada petugas, pria paro baya ini menjelaskan teknis operasional mesin. Mulanya, air yang masuk ke tandon dibagi ke sekitar 400 pipa kecil untuk mencetak kristal. Ratusan pipa tersebut direndam ke dalam zat amonia. Saat pengolahan es batu kristal inilah diduga memicu kebocoran gas. ‘’Yang bocor ini amonia campur air dan oli,’’ terangnya.

Anton terang-terangan mengakui pabrik es tersebut tidak memiliki pengolahan limbah. Menurut dia, amonia yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan es selalu habis menguap. Olahan es batu hanya menyisakan air sisa es batu. Sisa pengolahan ini diklaim sebagai air biasa dan aman dibuang ke aliran sungai. ‘’Sisa air inilah yang dialirkan ke sungai,’’ kata dia menjelaskan alur proses produksi.

Baca Juga :  Gelombang Mutasi Dimulai

Menurut penuturan masyarakat sekitar, pabrik tersebut sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Selama puluhan tahun, kepemilikan pabrik sudah berganti beberapa kali. Artinya selama puluhan tahun pabrik es tersebut beroperasi, tidak ada tempat pengolahan limbah yang memadai.

Semua limbah air sisa pengolahan yang diklaim perusahaan es tidak berbahaya itu dibuang begitu saja ke sungai. Saat terjadi kebocoran, amonia ini tercampur air sisa olahan es batu. Hal ini mengakibatkan air sungai yang mengalir ke Desa Bektiharjo, Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon, Semanding, Tegalagung, dan Kelurahan Karang, keempatnya di Kecamatan Semanding tercemar. Ribuan ikan dan tanaman yang merupakan ekosistem sungai mati mengering. Air ini yang kemudian diambil sampelnya untuk diteliti di laboratorium lingkungan DLH Tuban. 

Radar Tuban – Bau gas amonia yang menyengat dan menyesakkan dada masih tercium saat masuk di halaman pabrik es PT Tirtojoyo, kemarin (18/7) siang. Padahal, pabrik es yang berlokasi di Dusun Krajan RT.02 RW.02 Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding itu sudah disegel polisi pasca gas amonia dari pabrik tersebut bocor dan mencemari lingkungan, Sabtu (17/7).

Sehari berselang bau gas tersebut belum juga reda. Diduga, pipa gas yang bocor tersebut masih mengeluarkan gas beracunnya. Sejak bocor Sabtu, pipa gas yang berada di ketinggian sekitar empat meter tersebut belum diperbaiki. Hanya, aliran air yang tercemar senyawa kimia pabrik tersebut yang tidak lagi terlihat mengalir ke sungai.

Meski demikian, sampel air sungai tetap diteliti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tuban untuk mengetahui kadar racunnya. Kemarin (18/7) pagi terlihat sejumlah aktivis lingkungan dari Komunitas Peduli Sungai (Kompas) dan petugas DLH Tuban mendatangi pabrik es tersebut untuk menanyakan kronologi pembuatan es batu kristal hingga terjadinya kebocoran gas amonia.

Namun, Lanita, pemilik pabrik tak banyak bicara. Dia justru menyodorkan Anton, anak buahnya yang bertugas sebagai operator mesin es untuk menjawab pertanyaan DLH, Kompas, dan Jawa Pos Radar Tuban. Padahal, saat kejadian berlangsung, Anton tak berada di lokasi karena izin tidak masuk kerja. Anton mengatakan, sehari harinya, mesin es kristal dioperasikan bersama Muri. Namun, saat kebocoran terjadi, dia dan Muri izin tidak masuk kerja karena sakit. Sehingga, mesin dioperasikan Jeffri, anak Lanita, pemilik pabrik es tersebut.

Baca Juga :  Harap Harap Cemas UMK Tuban, Boleh Naik, Tapi Tak Boleh Turun

‘’Saya dan Muri izin tidak masuk kerja, jadi tidak tahu bagai mana awal mula kejadiannya,’’ ujarnya. Kepada petugas, pria paro baya ini menjelaskan teknis operasional mesin. Mulanya, air yang masuk ke tandon dibagi ke sekitar 400 pipa kecil untuk mencetak kristal. Ratusan pipa tersebut direndam ke dalam zat amonia. Saat pengolahan es batu kristal inilah diduga memicu kebocoran gas. ‘’Yang bocor ini amonia campur air dan oli,’’ terangnya.

Anton terang-terangan mengakui pabrik es tersebut tidak memiliki pengolahan limbah. Menurut dia, amonia yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan es selalu habis menguap. Olahan es batu hanya menyisakan air sisa es batu. Sisa pengolahan ini diklaim sebagai air biasa dan aman dibuang ke aliran sungai. ‘’Sisa air inilah yang dialirkan ke sungai,’’ kata dia menjelaskan alur proses produksi.

Baca Juga :  Tuban Masih Jauh Menuju Era New Normal

Menurut penuturan masyarakat sekitar, pabrik tersebut sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Selama puluhan tahun, kepemilikan pabrik sudah berganti beberapa kali. Artinya selama puluhan tahun pabrik es tersebut beroperasi, tidak ada tempat pengolahan limbah yang memadai.

Semua limbah air sisa pengolahan yang diklaim perusahaan es tidak berbahaya itu dibuang begitu saja ke sungai. Saat terjadi kebocoran, amonia ini tercampur air sisa olahan es batu. Hal ini mengakibatkan air sungai yang mengalir ke Desa Bektiharjo, Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon, Semanding, Tegalagung, dan Kelurahan Karang, keempatnya di Kecamatan Semanding tercemar. Ribuan ikan dan tanaman yang merupakan ekosistem sungai mati mengering. Air ini yang kemudian diambil sampelnya untuk diteliti di laboratorium lingkungan DLH Tuban. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/