alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Tidak Ada Penggabungan Mahram, 23 CJH Mundur

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kesempatan bisa berangkat haji tahun ini ternyata ada yang memilih mundur.  Data sementara diketahui ada 23 dari total 730 calon jemaah haji (CJH) mengundurkan diri.

 

Rerata alasan mundur karena tidak bisa berangkat haji bersama istri, suami, atau anak. Sebab, ibadah haji tahun ini tidak ada layanan penggabungan mahram. Sehingga 23 CJH yang mundur menunda keberangkatannya tahun depan.

 

Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Yasmani mengungkapkan, bahwa 23 CJH yang mundur langsung ada penggantinya dari kuota CJH cadangan. Pengganti CJH mundur diberi waktu hingga Jumat (20/5) untuk pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).

Baca Juga :  Gedung DPRD Ditawarkan di Jalan Veteran

 

“Haji tahun ini memang spesial, karena harus mematuhi segala otoritas Pemerintah Arab Saudi,” ucapnya.

 

Saat ini, pihaknya harus mengebut manasik haji pasca jatuh tempo pelunasan BPIH. Setidaknya kegiatan manasik haji rampung 27 Mei mendatang. Sehingga CJH masih ada waktu sekitar seminggu beristirahat sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. CJH Bojonegoro diperkirakan berangkat ke Tanah Suci pada 4 dan 5 Juni.

 

“Padahal idealnya istirahat itu sepuluh hari, tapi karena kondisinya serba mepet, jadi harus dikebut,” tuturnya.

 

Terkait lokasi manasik haji, pihaknya telah menentukan tujuh titik. Di antaranya di Kecamatan Bojonegoro, Balen, Sumberrejo, Baureno, Ngasem, Padangan, dan Kedungadem. “Karena kuota haji tahun ini hanya 730 CJH, kami pangkas jumlah titik manasik haji. Kalau sebelumnya manasik di 15 titik,” terangnya.

Baca Juga :  Sepekan tanpa Kang Yoto, Dialog Publik Off

 

Perlu diketahui rincian 730 CJH per kecamatan terdiri atas 106 asal Bojonegoro, 79 asal Sumberrejo, 73 asal Baureno, 56 asal Kedungadem, 55 asal Balen, 53 asal Kapas. Serta 51 asal Kepohbaru, 45 asal Ngasem, 40 asal Kanor, 35 asal Kalitidu, 30 asal Dander.

 

Ada 22 asal Sukosewu, 21 asal Padangan, 13 asal Ngraho, 12 asal Tambakrejo, 10 asal Sugihwaras, 8 asal Purwosari, 7 asal Temayang, 4 asal Trucuk, 4 asal Malo, 2 asal Sekar, 2 asal Bubulan, dan 1 CJH asal Kasiman. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kesempatan bisa berangkat haji tahun ini ternyata ada yang memilih mundur.  Data sementara diketahui ada 23 dari total 730 calon jemaah haji (CJH) mengundurkan diri.

 

Rerata alasan mundur karena tidak bisa berangkat haji bersama istri, suami, atau anak. Sebab, ibadah haji tahun ini tidak ada layanan penggabungan mahram. Sehingga 23 CJH yang mundur menunda keberangkatannya tahun depan.

 

Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Yasmani mengungkapkan, bahwa 23 CJH yang mundur langsung ada penggantinya dari kuota CJH cadangan. Pengganti CJH mundur diberi waktu hingga Jumat (20/5) untuk pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).

Baca Juga :  Komiditas Mahal, Ditentukan dari Panjang Sirip Atas

 

“Haji tahun ini memang spesial, karena harus mematuhi segala otoritas Pemerintah Arab Saudi,” ucapnya.

 

Saat ini, pihaknya harus mengebut manasik haji pasca jatuh tempo pelunasan BPIH. Setidaknya kegiatan manasik haji rampung 27 Mei mendatang. Sehingga CJH masih ada waktu sekitar seminggu beristirahat sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. CJH Bojonegoro diperkirakan berangkat ke Tanah Suci pada 4 dan 5 Juni.

 

“Padahal idealnya istirahat itu sepuluh hari, tapi karena kondisinya serba mepet, jadi harus dikebut,” tuturnya.

 

Terkait lokasi manasik haji, pihaknya telah menentukan tujuh titik. Di antaranya di Kecamatan Bojonegoro, Balen, Sumberrejo, Baureno, Ngasem, Padangan, dan Kedungadem. “Karena kuota haji tahun ini hanya 730 CJH, kami pangkas jumlah titik manasik haji. Kalau sebelumnya manasik di 15 titik,” terangnya.

Baca Juga :  Seni Budaya, Pariwisata, dan Ekraf Pemantik Daya Ungkit Ekonomi

 

Perlu diketahui rincian 730 CJH per kecamatan terdiri atas 106 asal Bojonegoro, 79 asal Sumberrejo, 73 asal Baureno, 56 asal Kedungadem, 55 asal Balen, 53 asal Kapas. Serta 51 asal Kepohbaru, 45 asal Ngasem, 40 asal Kanor, 35 asal Kalitidu, 30 asal Dander.

 

Ada 22 asal Sukosewu, 21 asal Padangan, 13 asal Ngraho, 12 asal Tambakrejo, 10 asal Sugihwaras, 8 asal Purwosari, 7 asal Temayang, 4 asal Trucuk, 4 asal Malo, 2 asal Sekar, 2 asal Bubulan, dan 1 CJH asal Kasiman. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/