alexametrics
26.5 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Debit Naik Turun, Awasi Rumah Warga Rentan Longsor

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Intensitas hujan yang tinggi, memicu debit air Bengawan Solo naik turun. Kamis lalu (13/1), tren tinggi muka air (TMA) di Taman Bengawan Solo (TBS) sempat naik hingga 11,94 meter. Kemarin (17/1) tren TMA turun, yakni 8,18 meter. Naik turunnya TMA tentu menjadi salah satu pemicu tebing bengawan longsor. 

Berdasar data kajian risiko bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro diketahui sebanyak 113 desa dari 20 kecamatan di Bojonegoro rawan tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 28 desa dari 19 kecamatan yang terjadi tanah longsor. 

“Ada 20 kecamatan rawan longsor. Di antaranya Kecamatan Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Malo, Kalitidu, Dander, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Baureno, Sumberrejo, Ngasem, Gayam, Sugihwars, Kedungadem, Sukosewu, dan Kepohbaru,” tutur Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto.

Baca Juga :  Meski Gaji Besar, Mayoritas Wakil Rakyat Dililit Utang

Potensi longsor bantaran Bengawan Solo tentu ada. Namun, sejauh pantauannya tidak ada permukiman jaraknya terlalu dekat dengan bibir Bengawan Solo. “Tapi kalau permukiman warga dekat anak sungai Bengawan Solo itu ada. Salah satunya permukiman di Desa Pesen, Kecamatan Kanor, yang mana dekat dengan Kali Mekuris. Beberapa waktu lalu tanggul Kali Mekuris juga jebol,” ucapnya.

Ardhian imbau para personel BPBD lebih siaga, mengedukasi masyarakat, mengenali tanda-tanda gejala awal terjadi longsor, termasuk upaya pencegahan. Selain itu, BPBD mendorong pihak kecamatan hingga desa proaktif mengecek warganya tinggal di dekat anak sungai Bengawan Solo. “Apabila berisiko segara laporkan ke BPBD,” tuturnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Intensitas hujan yang tinggi, memicu debit air Bengawan Solo naik turun. Kamis lalu (13/1), tren tinggi muka air (TMA) di Taman Bengawan Solo (TBS) sempat naik hingga 11,94 meter. Kemarin (17/1) tren TMA turun, yakni 8,18 meter. Naik turunnya TMA tentu menjadi salah satu pemicu tebing bengawan longsor. 

Berdasar data kajian risiko bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro diketahui sebanyak 113 desa dari 20 kecamatan di Bojonegoro rawan tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 28 desa dari 19 kecamatan yang terjadi tanah longsor. 

“Ada 20 kecamatan rawan longsor. Di antaranya Kecamatan Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Malo, Kalitidu, Dander, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Baureno, Sumberrejo, Ngasem, Gayam, Sugihwars, Kedungadem, Sukosewu, dan Kepohbaru,” tutur Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto.

Baca Juga :  Pelanggar R4 Didominasi Mati Uji KIR

Potensi longsor bantaran Bengawan Solo tentu ada. Namun, sejauh pantauannya tidak ada permukiman jaraknya terlalu dekat dengan bibir Bengawan Solo. “Tapi kalau permukiman warga dekat anak sungai Bengawan Solo itu ada. Salah satunya permukiman di Desa Pesen, Kecamatan Kanor, yang mana dekat dengan Kali Mekuris. Beberapa waktu lalu tanggul Kali Mekuris juga jebol,” ucapnya.

Ardhian imbau para personel BPBD lebih siaga, mengedukasi masyarakat, mengenali tanda-tanda gejala awal terjadi longsor, termasuk upaya pencegahan. Selain itu, BPBD mendorong pihak kecamatan hingga desa proaktif mengecek warganya tinggal di dekat anak sungai Bengawan Solo. “Apabila berisiko segara laporkan ke BPBD,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/