alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Bekas Tambang Kumbung Jadi Lokasi Wisata

Radar Tuban – Wisata berbasis kelompok masyarakat terus bermunculan. Salah satunya Kedung Semurup. Tempat wisata yang belakangan viral di media sosial ini terletak di Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak. Jaraknya sekitar 500 meter dari jalan desa setempat.

Wisata ini menjual pemandangan tebing yang hijau. Dengan sedikit sentuhan berupa gazebo dan jalan setapak untuk beristirahat dan berfoto. Wisata ini memanfaatkan lahan kosong bekas penambangan batu kumbung. Sekelompok masyarakat menyulapnya secara bertahap agar tampak menarik di masyarakat.

Sisa-sisa penambangan yang membentuk gua-gua menjadi nilai keindahan tersendiri lokasi wisata ini. Arena pegunungan yang masih asri sering dimanfaatkan untuk gowes masyarakat. Juga sering jadi pilihan untuk sekadar berwisata bersama teman dan keluarga.

Baca Juga :  Pengentasan Kemiskinan Melalui Transformasi Struktur Ekonomi

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dis parbudpora) Tuban Suwanto mengatakan iklim usaha wisata di Tuban terus tumbuh. Banyak lokasi wisata baru yang didirikan menjadi tanda bahwa kesadaran masyarakat untuk mening katkan perekonomian terus berkembang. ‘’Kesadaran masyarakat membentuk wisata berbasis desa terus bermunculan dan patut di apresiasi,’’ tuturnya.

Namun dia mengingatkan masyarakat agar tetap patuh aturan. Setiap wisata yang baru didirikan wajib memenuhi syarat legal formal. Seperti izin mendirikan bangunan, izin berwisata, dan pengurusan izin lainnya.

Tak kalah penting payung hukum berupa peraturan desa untuk melindungi lokasi wisata tersebut. ‘’Biar kelak kalau wisata tersebut ramai tidak lagi jadi persoalan,’’ kata dia. Pejabat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini mengatakan Kedung Semurup merupakan wisata berbasis masyarakat yang dikelola kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Baca Juga :  Grand Opening BNI Kantor Kas Rengel

Wisata tersebut berdiri di atas lahan desa dan lahan milik seorang pengusaha tambang kumbung. ‘’Pentingnya mengurus perizinan agar kelak tidak ada sengketa antara pemilik lahan pribadi dan desa,’’ ungkapnya.

Radar Tuban – Wisata berbasis kelompok masyarakat terus bermunculan. Salah satunya Kedung Semurup. Tempat wisata yang belakangan viral di media sosial ini terletak di Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak. Jaraknya sekitar 500 meter dari jalan desa setempat.

Wisata ini menjual pemandangan tebing yang hijau. Dengan sedikit sentuhan berupa gazebo dan jalan setapak untuk beristirahat dan berfoto. Wisata ini memanfaatkan lahan kosong bekas penambangan batu kumbung. Sekelompok masyarakat menyulapnya secara bertahap agar tampak menarik di masyarakat.

Sisa-sisa penambangan yang membentuk gua-gua menjadi nilai keindahan tersendiri lokasi wisata ini. Arena pegunungan yang masih asri sering dimanfaatkan untuk gowes masyarakat. Juga sering jadi pilihan untuk sekadar berwisata bersama teman dan keluarga.

Baca Juga :  Hasil Hitung Cepat, Aditya Halindra Faridzky - Riyadi Unggul

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dis parbudpora) Tuban Suwanto mengatakan iklim usaha wisata di Tuban terus tumbuh. Banyak lokasi wisata baru yang didirikan menjadi tanda bahwa kesadaran masyarakat untuk mening katkan perekonomian terus berkembang. ‘’Kesadaran masyarakat membentuk wisata berbasis desa terus bermunculan dan patut di apresiasi,’’ tuturnya.

Namun dia mengingatkan masyarakat agar tetap patuh aturan. Setiap wisata yang baru didirikan wajib memenuhi syarat legal formal. Seperti izin mendirikan bangunan, izin berwisata, dan pengurusan izin lainnya.

Tak kalah penting payung hukum berupa peraturan desa untuk melindungi lokasi wisata tersebut. ‘’Biar kelak kalau wisata tersebut ramai tidak lagi jadi persoalan,’’ kata dia. Pejabat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini mengatakan Kedung Semurup merupakan wisata berbasis masyarakat yang dikelola kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Baca Juga :  Menciptakan Banyak Taman dari Ruang Kosong Nan Gersang

Wisata tersebut berdiri di atas lahan desa dan lahan milik seorang pengusaha tambang kumbung. ‘’Pentingnya mengurus perizinan agar kelak tidak ada sengketa antara pemilik lahan pribadi dan desa,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/