alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Rencana Detail Tata Ruang Tuban Ancam Gerus Lahan Pertanian

TUBAN, Radar Tuban – Enam tahun terakhir nyaris tak ada pengurangan drastis terhadap luas lahan pertanian padi. Namun, menyambut rencana detail tata ruang (RDTR) Tuban mendatang, lahan pertanian di beberapa wilayah Kabupaten Tuban diperkirakan bakal tergerus.
Plt. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban Ririn Risti Kuswati mengatakan, pertanian dan pembangunan memang sering memunculkan dilema.
”Pembangunan perlu, pertanian juga penting,” tuturnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kantornya, Kamis (16/12).
Menurutnya, pembangunan sangat perlu untuk kemajuan suatu daerah. Entah, pembangunan infrastruktur maupun industrialisasi, keduanya sama-sama mempunyai peran vital bagi perekonomian.
Wiwin sapaan akrabnya menuturkan, hadirnya industri mendatangkan potensi peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat melalui operasional dan hasil produknya.
Sedangkan, pembangunan infrastruktur berperan membuka, menghubungkan atau memperlancar akses suatu daerah ke daerah lain. ”Dua hal ini sering membuat lahan pertanian beralih fungsi,” ujarnya.
Terkait dua sisi tersebut, kata Wiwin, institusinya cukup kewalahan menghadapinya. Dia menyadari dua hal tersebut sama-sama tak bisa dihindari. Alih fungsi lahan pertanian sangat boleh dilakukan asal sesuai ketentuan dan peraturan hukum yang berlaku. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian lebih baik lagi jika masyarakat petani yang terdampak tetap bisa produktif. Misalnya, dari bekerja sebagai petani beralih menjadi pekerja industri.
Untuk hal tersebut, Wiwin menyadari realisasinya tidak mudah. Pasalnya, hampir 70 persen petani di Bumi Ronggolawe berasal dari angkatan tua. Artinya, keterlibatan angkatan muda dalam pertanian baru sekitar 30 persen. Karena itu, soal alih fungsi dan alih pekerjaan bisa jadi ditemukan kendala.
Lebih lanjut dia mengatakan, soal petani muda atau petani milenial, DPKP telah memberikan dorongan. Tawaran yang paling menarik adalah dengan mencanangkan sebuah model pertanian baru. Wiwin menjelaskan, pertanian yang baru tersebut mengintegrasikan multikomoditas. Artinya, dalam satu lahan terdapat banyak jenis komoditas, seperti padi, jagung, dan berbagai sayuran. Bahkan, dalam model tersebut turut digabungkan juga sebuah usaha peternakan. Sistem tersebut namanya pertanian terpadu.
Perempuan berjilbab ini menegaskan, sistem pertanian terpadu merupakan tawaran yang bagus untuk para milenial. Dia mengungkapkan, salah satu kemudahan pertanian model ini adalah soal pupuk, petani milenial tak perlu bersusah payah. Pasalnya, pupuk bisa dibuat dari kotoran hasil peternakan. ”Beberapa pemuda di Tuban, sudah melakukan ini, tapi jumlahnya masih sedikit,” ujarnya.
Selain itu, tawaran yang diberikan kepada generasi petani adalah dimudahkannya kegiatan pertanian dengan alat-alat modern. Misalnya, combine harvester. Peranti tersebut merupakan salah satu mesin pertanian yang sangat efisien dalam kegiatan panen. Di antaranya memotong, memegang, merontok, dan membersihkan padi sekaligus.
Wiwin mengatakan, dua hal tersebut diharapkan menjadi pertimbangan bagi generasi muda untuk bersedia menceburkan diri dalam pertanian. Pasalnya, jika pertanian tak beradaptasi dan generasi petani tidak bisa mengimbangi, maka menjadi bumerang. (sab)

Baca Juga :  Giliran 188 Sekolah, 87 Madrasah di Bojonegoro Diperbaiki

TUBAN, Radar Tuban – Enam tahun terakhir nyaris tak ada pengurangan drastis terhadap luas lahan pertanian padi. Namun, menyambut rencana detail tata ruang (RDTR) Tuban mendatang, lahan pertanian di beberapa wilayah Kabupaten Tuban diperkirakan bakal tergerus.
Plt. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban Ririn Risti Kuswati mengatakan, pertanian dan pembangunan memang sering memunculkan dilema.
”Pembangunan perlu, pertanian juga penting,” tuturnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kantornya, Kamis (16/12).
Menurutnya, pembangunan sangat perlu untuk kemajuan suatu daerah. Entah, pembangunan infrastruktur maupun industrialisasi, keduanya sama-sama mempunyai peran vital bagi perekonomian.
Wiwin sapaan akrabnya menuturkan, hadirnya industri mendatangkan potensi peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat melalui operasional dan hasil produknya.
Sedangkan, pembangunan infrastruktur berperan membuka, menghubungkan atau memperlancar akses suatu daerah ke daerah lain. ”Dua hal ini sering membuat lahan pertanian beralih fungsi,” ujarnya.
Terkait dua sisi tersebut, kata Wiwin, institusinya cukup kewalahan menghadapinya. Dia menyadari dua hal tersebut sama-sama tak bisa dihindari. Alih fungsi lahan pertanian sangat boleh dilakukan asal sesuai ketentuan dan peraturan hukum yang berlaku. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian lebih baik lagi jika masyarakat petani yang terdampak tetap bisa produktif. Misalnya, dari bekerja sebagai petani beralih menjadi pekerja industri.
Untuk hal tersebut, Wiwin menyadari realisasinya tidak mudah. Pasalnya, hampir 70 persen petani di Bumi Ronggolawe berasal dari angkatan tua. Artinya, keterlibatan angkatan muda dalam pertanian baru sekitar 30 persen. Karena itu, soal alih fungsi dan alih pekerjaan bisa jadi ditemukan kendala.
Lebih lanjut dia mengatakan, soal petani muda atau petani milenial, DPKP telah memberikan dorongan. Tawaran yang paling menarik adalah dengan mencanangkan sebuah model pertanian baru. Wiwin menjelaskan, pertanian yang baru tersebut mengintegrasikan multikomoditas. Artinya, dalam satu lahan terdapat banyak jenis komoditas, seperti padi, jagung, dan berbagai sayuran. Bahkan, dalam model tersebut turut digabungkan juga sebuah usaha peternakan. Sistem tersebut namanya pertanian terpadu.
Perempuan berjilbab ini menegaskan, sistem pertanian terpadu merupakan tawaran yang bagus untuk para milenial. Dia mengungkapkan, salah satu kemudahan pertanian model ini adalah soal pupuk, petani milenial tak perlu bersusah payah. Pasalnya, pupuk bisa dibuat dari kotoran hasil peternakan. ”Beberapa pemuda di Tuban, sudah melakukan ini, tapi jumlahnya masih sedikit,” ujarnya.
Selain itu, tawaran yang diberikan kepada generasi petani adalah dimudahkannya kegiatan pertanian dengan alat-alat modern. Misalnya, combine harvester. Peranti tersebut merupakan salah satu mesin pertanian yang sangat efisien dalam kegiatan panen. Di antaranya memotong, memegang, merontok, dan membersihkan padi sekaligus.
Wiwin mengatakan, dua hal tersebut diharapkan menjadi pertimbangan bagi generasi muda untuk bersedia menceburkan diri dalam pertanian. Pasalnya, jika pertanian tak beradaptasi dan generasi petani tidak bisa mengimbangi, maka menjadi bumerang. (sab)

Baca Juga :  Wujudkan Perubahan Kabupaten Tuban Kota Ronggolawe Lebih Maju Dan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/