alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Angka Partisipasi Perempuan Lebih Mendominasi

Radar Tuban – Kesadaran perempuan di Kabupaten Tuban dalam berdemokrasi ternyata cukup tinggi dibanding laki-laki. Fakta tersebut terlihat dari partisipasi pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 9 Desember lalu yang didominasi kaum perempuan.

Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban Zakiyatul Munawaroh mengungkapkan, dari 721.089 orang yang menggunakan hak pilihnya, 384.524 orang atau sekitar 53,3 persen adalah perempuan. Selebihnya 336.565 orang atau 46,7 persen adalah pemilih laki-laki.

‘’Meski dalam DPT (daftar pemilih tetap) memang lebih banyak, tetapi patut diakui angka partisipasi perempuan cukup tinggi,’’ terang Zakiya kepada Jawa Pos Radar Tuban. Disinggung terkait faktor yang memicu angka partisipasi perempuan lebih tinggi, Zakiya tak bisa menjelaskan secara detail. Dia hanya menyampaikan, tingginya kesadaran perempuan dalam berdemokrasi sudah terlihat sejak kegiatan sosialiasi pemilu.

‘’Sebenarnya hampir sama, laki-laki dan perempuan sama-sama aktif dalam berdemokrasi. Namun, kita patut memberikan apresiasi bahwa tingkat partisipasi perempuan di Kabupaten Tuban cukup tinggi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Mayoritas Wisata Masih Terseok-Seok

Dosen Komunikasi Politik Unirow Tuban Satya Irawati Ningrum mengatakan, tingginya partisipasi pemilih perempuan dibanding laki-laki itu tak lepas dari faktor tingkat kesadaran. Kesadaran berdemokrasi perempuan, kata Ira, panggilan akrabnya, lebih rasional.

‘’Bagi perempuan mencoblos tidak hanya sekadar menyampaikan hak pilihnya, melainkan lebih pada harapan mencari pemimpin yang baik,’’ tuturnya. Lebih lanjut Ira menyampaikan, sedianya tolok ukur kesadaran perempuan dalam mengisi ruang-ruang demokrasi tidak hanya sebagai pemilih.

Lebih dari itu, juga sudah masuk dalam ruang untuk dipilih. Itu terlihat dari banyaknya perempuan yang turut menjadi kontestan pilkada maupun pemilu legislatif. ‘’Termasuk di Tuban. Salah satu calon bupati juga dari perempuan. Artinya, perempuan memang sudah banyak mengisi ruang-ruang demokrasi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Blora Resmikan Kebun Buah Greneng

Di sisi lain, lanjut Ira, jika laki-laki memilih golput karena sentimen, serta menganggap pilkada tidak banyak membawa perubahan bagi kesejahteraannya, hal itu tidak berlaku bagi perempuan.

‘’Cara berpikir perempuan itu lebih rasional. Perempuan memilih karena memang panggilan hati dan atas pilihan yang rasional, sehingga enggan untuk golput,’’ jelasnya.

Soal pilkada Tuban, dia juga memiliki penilaian tersendiri. Menurut ibu tiga anak ini, terpilihnya Aditya Halindra Farizky sebagai calon bupati juga tidak lepas dari peran perempuan yang mengharapkan sosok pemimpin muda. ‘’Saya merasakan demikian. Utamanya perempuan-perempuan muda,’’ katanya.

Masih dikatakan Ira, naluri perempuan itu selalu optimistis bahwa siapa pun yang jadi pemimpin pasti bisa membawa perubahan menjadi lebih baik. Sehingga, dia harus memperjuangkan hak pilihannya. Nah, seiring dengan banyaknya pemilih perempuan tersebut, Ira berharap, programprogram untuk kesejahteraan perempuan labih diperhitungkan. 

Radar Tuban – Kesadaran perempuan di Kabupaten Tuban dalam berdemokrasi ternyata cukup tinggi dibanding laki-laki. Fakta tersebut terlihat dari partisipasi pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 9 Desember lalu yang didominasi kaum perempuan.

Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban Zakiyatul Munawaroh mengungkapkan, dari 721.089 orang yang menggunakan hak pilihnya, 384.524 orang atau sekitar 53,3 persen adalah perempuan. Selebihnya 336.565 orang atau 46,7 persen adalah pemilih laki-laki.

‘’Meski dalam DPT (daftar pemilih tetap) memang lebih banyak, tetapi patut diakui angka partisipasi perempuan cukup tinggi,’’ terang Zakiya kepada Jawa Pos Radar Tuban. Disinggung terkait faktor yang memicu angka partisipasi perempuan lebih tinggi, Zakiya tak bisa menjelaskan secara detail. Dia hanya menyampaikan, tingginya kesadaran perempuan dalam berdemokrasi sudah terlihat sejak kegiatan sosialiasi pemilu.

‘’Sebenarnya hampir sama, laki-laki dan perempuan sama-sama aktif dalam berdemokrasi. Namun, kita patut memberikan apresiasi bahwa tingkat partisipasi perempuan di Kabupaten Tuban cukup tinggi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dukung Pemain Berkarir di Klub Lain

Dosen Komunikasi Politik Unirow Tuban Satya Irawati Ningrum mengatakan, tingginya partisipasi pemilih perempuan dibanding laki-laki itu tak lepas dari faktor tingkat kesadaran. Kesadaran berdemokrasi perempuan, kata Ira, panggilan akrabnya, lebih rasional.

‘’Bagi perempuan mencoblos tidak hanya sekadar menyampaikan hak pilihnya, melainkan lebih pada harapan mencari pemimpin yang baik,’’ tuturnya. Lebih lanjut Ira menyampaikan, sedianya tolok ukur kesadaran perempuan dalam mengisi ruang-ruang demokrasi tidak hanya sebagai pemilih.

Lebih dari itu, juga sudah masuk dalam ruang untuk dipilih. Itu terlihat dari banyaknya perempuan yang turut menjadi kontestan pilkada maupun pemilu legislatif. ‘’Termasuk di Tuban. Salah satu calon bupati juga dari perempuan. Artinya, perempuan memang sudah banyak mengisi ruang-ruang demokrasi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Seluruh Bansos Bulan Ini Ditunda

Di sisi lain, lanjut Ira, jika laki-laki memilih golput karena sentimen, serta menganggap pilkada tidak banyak membawa perubahan bagi kesejahteraannya, hal itu tidak berlaku bagi perempuan.

‘’Cara berpikir perempuan itu lebih rasional. Perempuan memilih karena memang panggilan hati dan atas pilihan yang rasional, sehingga enggan untuk golput,’’ jelasnya.

Soal pilkada Tuban, dia juga memiliki penilaian tersendiri. Menurut ibu tiga anak ini, terpilihnya Aditya Halindra Farizky sebagai calon bupati juga tidak lepas dari peran perempuan yang mengharapkan sosok pemimpin muda. ‘’Saya merasakan demikian. Utamanya perempuan-perempuan muda,’’ katanya.

Masih dikatakan Ira, naluri perempuan itu selalu optimistis bahwa siapa pun yang jadi pemimpin pasti bisa membawa perubahan menjadi lebih baik. Sehingga, dia harus memperjuangkan hak pilihannya. Nah, seiring dengan banyaknya pemilih perempuan tersebut, Ira berharap, programprogram untuk kesejahteraan perempuan labih diperhitungkan. 

Artikel Terkait

Most Read

Organisasi Itu Emas

Penalti Gagal, Buyarkan Kemenangan

Artikel Terbaru


/