alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Mengukur Efektivitas Belajar Daring Pada Anak

Pandemi Covid-19 membawa dampak luar biasa terhadap kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi berubah total. Dari yang semula tatap muka, menjelma menjadi daring. Hampir seluruh aktivitas KBM dilaksanakan secara online. Lantas, apakah sistem pembelajaran adaptasi baru ini mampu dipahami oleh semua guru dan lembaga pendidikan?

Sudah hampir setahun ini aktivitas Yanti sebagai ibu rumah tangga beru bah total. Pemberlakukan KBM secara daring oleh lembaga pendi dikan menyusul kebijakan pe me rintah benar-benar merubah kese hariannya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada lagi kebiasaan antar jemput anak sekolah, menyiapkan bekal ma kanan, hingga kebiasaan menyeterika seragam sekolah di akhir pekan.

Kebiasaan sebagai ibu rumah tangga tersebut hampir tidak pernah dia lakukan lagi. KBM secara daring telah merubah total seluruh kebiasa annya. Menjadikan dirinya sebagai “guru” baru bagi anaknya.

Serupa menggantikan guru yang sesungguhnya di sekolah. Seluruh aktivitas belajar dilakukan dari rumah. Menunggu tugas dari bapak dan ibu guru. Sepintas terasa ringan. Tinggal mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak dan ibu guru.

Namun, ceritanya berbeda. Sebab, anaknya baru usia sekolah dasar (SD), menginjak kelas 2. Sehingga, masih membutuhkan pemahaman dalam memahami setiap tugas pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dan, itu memberikan pemahaman kepada anak, kini menjadi tanggung jawabnya.

Baca Juga :  Mantapkan Penerapan Transaksi Nontunai dalam Pengelolaan BOS

Tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh guru sesuai dengan spesifikasi pendidikannya. Apalagi, semasa pandemi ini lebih banyak tugas yang diberikan oleh guru ketimbang pemahaman terhadap pelajaran.

Sedianya, ibu dua anak itu ingin mengeluh soal sistem daring yang lebih banyak memberikan tugas daripada pemahaman pelajaran tersebut. Sebab, pada gilirannya, akhirnya orang tua yang berusaha keras memberikan pemahaman pelajaran pada anaknya sebelum mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Sementara, tidak semua orang tua bisa memberikan pemahaman dengan baik dan benar kepada anak, sehingga mudah dipahami. ‘’Jujur, saya belum sepenuhnya memahami cara belajar secara daring ini. Karena anak butuh pemahaman. Sementara tidak jarang anak hanya menerima tugas untuk selanjutnya diminta mengerjakan,’’ katanya yang hampir setahun ini merasakan menjadi “guru” bagi anaknya untuk semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Meski begitu, perempuan yang hanya menamatkan pendidikan di bangku SMA ini tidak memiliki pilihan lain, kecuali menerima dan menjalankannya. Pilihan lain yang dimaksud adalah adanya sistem yang tetap bisa memudahkan anak dalam proses pemahaman pelajaran sebagaimana saat tatap muka di sekolah bersama gurunya langsung.

Sebab, masih jarang sekolah yang melaksanakan pembelajaran daring dengan sistem zoom. Padahal, itu sudah menjadi konsekuensi KBM daring. Karena dengan sistem zoom itulah, anak masih bisa melihat dan mendengarkan guru menjelaskan pelajaran secara langsung melalui layar video.

Baca Juga :  Inisiasi Program Bni Cetak Seribu Agripreneur di Pedesaan

‘’Kita sebagai orang tua hanya bisa menerima, karena ini dampak pandemi,’’ tuturnya yang hanya bisa pasrah dengan adaptasi baru sistem pendidikan di tengah wabah covid. Senada juga disampaikan orang tua lain, Afida.

Bahkan, apa yang dialami lebih berat. Sebab, anaknya baru masuk TK. Yang belum sepenuhnya memahami apa yang harus dikerjakan. Sementara hampir setiap hari hanya tugas yang diberikan oleh gurunya.

Kalaupun harus menggelar meeting zoom, si anak juga masih belum memahami sepenuhnya. Sehingga, lebih memilih bermain. Beda saat di sekolah, tatap muka dengan gurunya. Dia bisa belajar dan berinteraksi dengan teman-temannya yang lain.

‘’Kalau di rumah, ya sebisa mungkin orang tua untuk mengarahkan. Kalau memang belum tahap pemahaman. Beda dengan anak SD kelas 5 atau 6, atau anak SMP maupun SMA. Yang sudah bisa melakukan pembelajaran jarak jauh,’’ katanya, bahwa tantangan pendidikan di tengah pandemi ini sangat berat. Khususnya anak-anak yang masih membutuhkan pehamaman.

Selain banyak keluhan soal pembelajaran daring, sebagian orang tua juga mengeluhkan biaya pendidikan yang tidak banyak berkurang selama pandemi ini. Khususnya, orang tua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta. Padahal, selama pandemi ini anak belajarnya dari rumah. ‘’SPP bulanan tetap sama,’’ ujar Mu’iz, salah satu orang tua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta.

Pandemi Covid-19 membawa dampak luar biasa terhadap kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi berubah total. Dari yang semula tatap muka, menjelma menjadi daring. Hampir seluruh aktivitas KBM dilaksanakan secara online. Lantas, apakah sistem pembelajaran adaptasi baru ini mampu dipahami oleh semua guru dan lembaga pendidikan?

Sudah hampir setahun ini aktivitas Yanti sebagai ibu rumah tangga beru bah total. Pemberlakukan KBM secara daring oleh lembaga pendi dikan menyusul kebijakan pe me rintah benar-benar merubah kese hariannya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada lagi kebiasaan antar jemput anak sekolah, menyiapkan bekal ma kanan, hingga kebiasaan menyeterika seragam sekolah di akhir pekan.

Kebiasaan sebagai ibu rumah tangga tersebut hampir tidak pernah dia lakukan lagi. KBM secara daring telah merubah total seluruh kebiasa annya. Menjadikan dirinya sebagai “guru” baru bagi anaknya.

Serupa menggantikan guru yang sesungguhnya di sekolah. Seluruh aktivitas belajar dilakukan dari rumah. Menunggu tugas dari bapak dan ibu guru. Sepintas terasa ringan. Tinggal mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak dan ibu guru.

Namun, ceritanya berbeda. Sebab, anaknya baru usia sekolah dasar (SD), menginjak kelas 2. Sehingga, masih membutuhkan pemahaman dalam memahami setiap tugas pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dan, itu memberikan pemahaman kepada anak, kini menjadi tanggung jawabnya.

Baca Juga :  Momen Bulan Purnama, Para Nelayan Rehat Sejenak

Tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh guru sesuai dengan spesifikasi pendidikannya. Apalagi, semasa pandemi ini lebih banyak tugas yang diberikan oleh guru ketimbang pemahaman terhadap pelajaran.

Sedianya, ibu dua anak itu ingin mengeluh soal sistem daring yang lebih banyak memberikan tugas daripada pemahaman pelajaran tersebut. Sebab, pada gilirannya, akhirnya orang tua yang berusaha keras memberikan pemahaman pelajaran pada anaknya sebelum mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Sementara, tidak semua orang tua bisa memberikan pemahaman dengan baik dan benar kepada anak, sehingga mudah dipahami. ‘’Jujur, saya belum sepenuhnya memahami cara belajar secara daring ini. Karena anak butuh pemahaman. Sementara tidak jarang anak hanya menerima tugas untuk selanjutnya diminta mengerjakan,’’ katanya yang hampir setahun ini merasakan menjadi “guru” bagi anaknya untuk semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Meski begitu, perempuan yang hanya menamatkan pendidikan di bangku SMA ini tidak memiliki pilihan lain, kecuali menerima dan menjalankannya. Pilihan lain yang dimaksud adalah adanya sistem yang tetap bisa memudahkan anak dalam proses pemahaman pelajaran sebagaimana saat tatap muka di sekolah bersama gurunya langsung.

Sebab, masih jarang sekolah yang melaksanakan pembelajaran daring dengan sistem zoom. Padahal, itu sudah menjadi konsekuensi KBM daring. Karena dengan sistem zoom itulah, anak masih bisa melihat dan mendengarkan guru menjelaskan pelajaran secara langsung melalui layar video.

Baca Juga :  NU & Muhammadiyah Serukan Doa dan Dzikir

‘’Kita sebagai orang tua hanya bisa menerima, karena ini dampak pandemi,’’ tuturnya yang hanya bisa pasrah dengan adaptasi baru sistem pendidikan di tengah wabah covid. Senada juga disampaikan orang tua lain, Afida.

Bahkan, apa yang dialami lebih berat. Sebab, anaknya baru masuk TK. Yang belum sepenuhnya memahami apa yang harus dikerjakan. Sementara hampir setiap hari hanya tugas yang diberikan oleh gurunya.

Kalaupun harus menggelar meeting zoom, si anak juga masih belum memahami sepenuhnya. Sehingga, lebih memilih bermain. Beda saat di sekolah, tatap muka dengan gurunya. Dia bisa belajar dan berinteraksi dengan teman-temannya yang lain.

‘’Kalau di rumah, ya sebisa mungkin orang tua untuk mengarahkan. Kalau memang belum tahap pemahaman. Beda dengan anak SD kelas 5 atau 6, atau anak SMP maupun SMA. Yang sudah bisa melakukan pembelajaran jarak jauh,’’ katanya, bahwa tantangan pendidikan di tengah pandemi ini sangat berat. Khususnya anak-anak yang masih membutuhkan pehamaman.

Selain banyak keluhan soal pembelajaran daring, sebagian orang tua juga mengeluhkan biaya pendidikan yang tidak banyak berkurang selama pandemi ini. Khususnya, orang tua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta. Padahal, selama pandemi ini anak belajarnya dari rumah. ‘’SPP bulanan tetap sama,’’ ujar Mu’iz, salah satu orang tua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/