alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Hindari Jeroan, Mulut, dan Kuku Sapi

Disnakkan Bojonegoro: Jangan Khawatir Konsumsi Daging Sapi

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Meski wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sudah menyebar, masyarakat diimbau tidak terlalu khawatir berlebihan. Bahkan, daging sapi sudah terinfeksi PMK tetap aman dikonsumsi. Namun, sebaiknya tidak mengonsumsi beberapa bagian seperti mulut, kuku, dan jeroan.

 

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Sugiharti  Sri Rahaju menerangkan, daging sapi terinfeksi PMK tetap aman dikonsumsi. Sebisa mungkin para penjual daging sapi jangan sampai menjual daging sapi terserang PMK.

 

“Kalaupun ada daging sapi terinfeksi PMK, tetap aman dikonsumsi. Beberapa bagian sapi seperti mulut, kuku, dan jeroan, sebaiknya jangan dikonsumsi untuk antisipasi,” tuturnya.

Baca Juga :  Pengiriman Obat Terlambat, Permintaan Semakin Tinggi

 

Hingga saat ini belum ada laporan sapi yang terindikasi mengidap PMK. Namun, terdapat beberapa laporan sapi yang sakit. Karena itu, pihaknya mengimbau agar para peternak sapi semakin waspada dan segera melapor apabila ada gejala-gejala menjurus PMK.

 

Secara umum, gejala klinis PMK di antaranya demam mencapai 39 derajat Celsius selama beberapa hari. Tidak nafsu makan, dan berliur berlebihan pada daerah mulut, dan kepincangan. “PMK ini disebabkan oleh virus, sifatnya akut dan menular sangat cepat. Bahkan tingkat penularannya mencapai 90 persen. Jadi wajib waspada,” ujarnya.

 

Di sisi lain, tingkat kematian PMK sangat rendah. Tetapi, bisa menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar kibat penurunan berat badan sapi. PMK ini menyerang hewan-hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, babi, dan domba. “Tapi yang paling rentan tertular PMK itu sapi,” bebernya.

Baca Juga :  Surat dari Suporter Persibo Tak Kunjung Ditindak Lanjuti

 

Sementara itu, pihaknya fokus membatasi peredaran sapi dari luar daerah guna upaya pencegahan. Mengingat penyebaran PMK pada hewan ternak di Jawa Timur terus meluas di antaranya di Kabupaten Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. “Lalu lintas peredaran hewan ternak terus kami pantau, khusus membatasi hewan ternak dari luar Bojonegoro,” pungkasnya. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Meski wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sudah menyebar, masyarakat diimbau tidak terlalu khawatir berlebihan. Bahkan, daging sapi sudah terinfeksi PMK tetap aman dikonsumsi. Namun, sebaiknya tidak mengonsumsi beberapa bagian seperti mulut, kuku, dan jeroan.

 

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Sugiharti  Sri Rahaju menerangkan, daging sapi terinfeksi PMK tetap aman dikonsumsi. Sebisa mungkin para penjual daging sapi jangan sampai menjual daging sapi terserang PMK.

 

“Kalaupun ada daging sapi terinfeksi PMK, tetap aman dikonsumsi. Beberapa bagian sapi seperti mulut, kuku, dan jeroan, sebaiknya jangan dikonsumsi untuk antisipasi,” tuturnya.

Baca Juga :  10 Koruptor di Bojonegoro Tidak Dapat Remisi

 

Hingga saat ini belum ada laporan sapi yang terindikasi mengidap PMK. Namun, terdapat beberapa laporan sapi yang sakit. Karena itu, pihaknya mengimbau agar para peternak sapi semakin waspada dan segera melapor apabila ada gejala-gejala menjurus PMK.

 

Secara umum, gejala klinis PMK di antaranya demam mencapai 39 derajat Celsius selama beberapa hari. Tidak nafsu makan, dan berliur berlebihan pada daerah mulut, dan kepincangan. “PMK ini disebabkan oleh virus, sifatnya akut dan menular sangat cepat. Bahkan tingkat penularannya mencapai 90 persen. Jadi wajib waspada,” ujarnya.

 

Di sisi lain, tingkat kematian PMK sangat rendah. Tetapi, bisa menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar kibat penurunan berat badan sapi. PMK ini menyerang hewan-hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, babi, dan domba. “Tapi yang paling rentan tertular PMK itu sapi,” bebernya.

Baca Juga :  Pasar dan Swalayan Disidak Antisipasi Daging Tak Layak

 

Sementara itu, pihaknya fokus membatasi peredaran sapi dari luar daerah guna upaya pencegahan. Mengingat penyebaran PMK pada hewan ternak di Jawa Timur terus meluas di antaranya di Kabupaten Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. “Lalu lintas peredaran hewan ternak terus kami pantau, khusus membatasi hewan ternak dari luar Bojonegoro,” pungkasnya. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/