alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

MUI Bojonegoro Minta Masyarakat Gembira Sambut Ramadan

Kupatan Sambut Malam Nisfu Sya’ban

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Dua minggu menjelang puasa Ramadan, atau tepatnya malam Nisfu Sya’ban identik dengan ketupat. Sehingga beberapa hari ini mulai banyak penjual janur hingga ketupat sudah jadi.

 

Tradisi ketupat malam Nisfu Sya’ban menjadi simbol ungkapan maaf masyarakat kepada Sang Pencipta maupun sesama. Sekaligus tradisi agar bisa menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk.

 

Suyanto budayawan Bojonegoro mengatakan, ketupat atau dalam Bahasa Jawa kupat berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Sehingga ketupat menjelang bulan Ramadan merupakan simbol ungkapan maaf. Serta agar mampu menjalankan ibadah puasa maupun lainnya dengan khusyuk.

 

“Biasanya ketupat ada di dua minggu sebelum bulan puasa,” ungkapnya kemarin (16/3).

Baca Juga :  Ekonomi Membaik, Penambahan Kasus Baru Tak Terbendung

 

Yanto sapaanya menjelaskan, tradisi ketupat hanya ada di masyarakat Jawa, keturunan Jawa, maupun dearah dengan pengaruh Jawa. Sedangkan, di wilayah lain tidak semua ada. “Masyarakat Jawa suka menyibolkan sesuatu dengan bentuk,” jelasnya.

 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro KH. Alamul Huda meminta masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh gembira. Hendaknya menjauhi maksiat. ‘’Mari bulan Ramadan diisi amal-amal saleh,’’ ujarnya. (irv/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Dua minggu menjelang puasa Ramadan, atau tepatnya malam Nisfu Sya’ban identik dengan ketupat. Sehingga beberapa hari ini mulai banyak penjual janur hingga ketupat sudah jadi.

 

Tradisi ketupat malam Nisfu Sya’ban menjadi simbol ungkapan maaf masyarakat kepada Sang Pencipta maupun sesama. Sekaligus tradisi agar bisa menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk.

 

Suyanto budayawan Bojonegoro mengatakan, ketupat atau dalam Bahasa Jawa kupat berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Sehingga ketupat menjelang bulan Ramadan merupakan simbol ungkapan maaf. Serta agar mampu menjalankan ibadah puasa maupun lainnya dengan khusyuk.

 

“Biasanya ketupat ada di dua minggu sebelum bulan puasa,” ungkapnya kemarin (16/3).

Baca Juga :  Perajin Gerabah: Tokoh Wayang Lebih Menarik

 

Yanto sapaanya menjelaskan, tradisi ketupat hanya ada di masyarakat Jawa, keturunan Jawa, maupun dearah dengan pengaruh Jawa. Sedangkan, di wilayah lain tidak semua ada. “Masyarakat Jawa suka menyibolkan sesuatu dengan bentuk,” jelasnya.

 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro KH. Alamul Huda meminta masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh gembira. Hendaknya menjauhi maksiat. ‘’Mari bulan Ramadan diisi amal-amal saleh,’’ ujarnya. (irv/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/