alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Hasil Pilkada Tuban 2020 Bak Pertarungan Bani Haeny dan Huda

Radar Tuban – Kontestan calon bupati dan wakil bupati pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 di Tuban boleh jadi tidak menghadirkan bani Fathul Huda.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, pertarungan antara kubu Fathul Huda dan Haeny Relawati Rini Widyastuti, bupati Tuban periode 2001- 2011 itu masih tampak jelas. Hanya saja, pada pilkada kali ini yang tampil adalah bani Haeny yang diwakili putranya, Aditya Halindra Farizky. Sedangkan bani Huda tidak maju.

Logika pertarungan dua kubu itu terlihat dari hasil rekapitulasi suara yang dilakukan KPUK Tuban. Mengacu perolehan suara, sepertinya penyumbang suara terbanyak atas kemenangan Lindra yang berpasangan dengan Riyadi merupakan pen dukung fanatik Haeny.

Sementara pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar yang notabene diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dulu juga mengusung pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein (Hudanor) pada pilkada 2011 dan 2015, seakan kehilangan suara karena bani Huda tidak ikut bertarung pada pilkada kali ini.

Jika dilihat dari perolehan suara dari ketiga pasangan calon (paslon) yang maju di Pilkada Tuban, yakni pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar (Aman), pasangan Aditya Halindra Farizky-Riyadi (DaDi), dan pasangan Setiajit-Armaya Mangkunegara (Setia Negara), suara pasangan Aman tidak jauh dengan perolehan suara PKB pada pileg 2019, bahkan lebih sedikit.

Pada pemilu serentak pertama 2019, suara PKB di Tuban sebanyak 189.399 berbanding suara pasangan Aman pada pilkada kali ini sebanyak 170.955. Padahal, perolehan suara paslon Hudanor, yang notabene sama-sama diusung PKB pada pilkada 2011 mencapai 374.147 suara atau sekitar 55,18 persen.

Baca Juga :  Mengabdi, Berkolaborasi Membangun Generasi Berkarakter, dan Berprestas

Artinya, jika dilihat dari perbandingan perolehan suara tersebut, terjadi penyusutan suara yang sangat banyak. Sementara di sisi lain, suara pasangan DaDi, yang notabene diusung Partai Golkar menjadi berlipat-lipat dibanding suara partai beringin pada pileg 2019.

Pada pileg tahun lalu Partai Golkar hanya mendapat 110.992 suara, jauh lebih banyak dari suara pasangan DaDi pada pilkada kali ini yang mencapai 423.236. Bahkan, perolehan suara pasangan DaDi mencapai dua kali lipat dari perolehan suara pasangan Kristiawan-Haeny (Krishaen) yang sama-sama diusung Partai Golkar pada pilkada 2011, yakni sebanyak 207.894 suara atau sekitar 30,66 persen.

Dosen komunikasi politik Unirow Tuban Satya Irawati Ningrum tidak menampik bahwa pilkada 2020 ini masih tidak bisa dilepaskan dari pertarungan kubu Haeny dan Huda. Dari kacamata ko munikasi politik, Ira —sapaan akrabnya, membaca mesin politik yang menjadi pengusung pasangan Aman tidak begitu jalan dan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Apakah karena tidak majunya bani Huda? ‘’Salah satunya,’’ katanya.

Jika dilihat dari konstelasi politik yang sudah berjalan, sejak awal ada keinginan dari bani Huda untuk maju dalam pilkada. Namun, karena tidak mendapatkan rekomendasi dari pengurus pusat PKB, menjadikan konsolidasi internal seakan terhambat.

Namun demikian, Ira enggan menjustifikasi bahwa bani Huda tidak mendukung dalam pancalonan pasangan Aman. ‘’Ini hanya kemungkinan yang kemudian menghambat konsolidasi di internal,’’ terang dia.

Baca Juga :  Silpa Bakal Kembali Tembus Rp 2 Triliun

Diakui Ira, pertarungan akan terasa beda jika yang maju adalah bani Huda. Sebab, ini sekaligus mempertemukan dua kubu yang sebelumnya bertarung pada 2011 dan dimenangkan oleh kubu Fathul Huda. Namun, karena kubu bani Huda tidak maju, sehingga pertarungan pilkada terasa beda.

Bahkan, Ira pun sempat tidak percaya dengan perolehan suara pasangan DaDi di Kecamatan Montong menang telak. Sebab, Montong merupakan basis bani Huda sekaligus lumbung suara PKB pada pileg.

‘’Ini kelihatan sekali, Montong yang merupakan basis Pak Huda, tapi ternyata kalah,’’ terang ibu tiga anak itu. Soal suara Lindra yang berhasil menang mutlak di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban, Ira menilai, suara pasangan DaDi tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih suara pendukung fanatik Haeny.

Menurutnya, keberhasilan Haeny dalam menjalankan konsolidasi internal menjadikan suara pendukung fanatiknya utuh. ‘’Bu Haeny masih memiliki pengaruh yang cukup besar, mungkin sampai 60 persen dari suara pasangan DaDi adalah suara pendukung fanatik Bu Haeny,’’ tandasnya.

Sementara itu hasil rekap di tingkat kabupaten kemarin tidak jauh beda dengan hasil penghitungan cepat yang dilakukan masiang-masing paslon. Yakni, pasangan nomor urut 01 meraih suara sebanyak 170.955 atau 24,24 persen. Kemudian paslon nomor urut 02 sebanyak 423.236 suara atau 60,01 persen dan paslon nomor urut 03 sebanyak 110.998 suara 15,74 persen.

Radar Tuban – Kontestan calon bupati dan wakil bupati pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 di Tuban boleh jadi tidak menghadirkan bani Fathul Huda.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, pertarungan antara kubu Fathul Huda dan Haeny Relawati Rini Widyastuti, bupati Tuban periode 2001- 2011 itu masih tampak jelas. Hanya saja, pada pilkada kali ini yang tampil adalah bani Haeny yang diwakili putranya, Aditya Halindra Farizky. Sedangkan bani Huda tidak maju.

Logika pertarungan dua kubu itu terlihat dari hasil rekapitulasi suara yang dilakukan KPUK Tuban. Mengacu perolehan suara, sepertinya penyumbang suara terbanyak atas kemenangan Lindra yang berpasangan dengan Riyadi merupakan pen dukung fanatik Haeny.

Sementara pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar yang notabene diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dulu juga mengusung pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein (Hudanor) pada pilkada 2011 dan 2015, seakan kehilangan suara karena bani Huda tidak ikut bertarung pada pilkada kali ini.

Jika dilihat dari perolehan suara dari ketiga pasangan calon (paslon) yang maju di Pilkada Tuban, yakni pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar (Aman), pasangan Aditya Halindra Farizky-Riyadi (DaDi), dan pasangan Setiajit-Armaya Mangkunegara (Setia Negara), suara pasangan Aman tidak jauh dengan perolehan suara PKB pada pileg 2019, bahkan lebih sedikit.

Pada pemilu serentak pertama 2019, suara PKB di Tuban sebanyak 189.399 berbanding suara pasangan Aman pada pilkada kali ini sebanyak 170.955. Padahal, perolehan suara paslon Hudanor, yang notabene sama-sama diusung PKB pada pilkada 2011 mencapai 374.147 suara atau sekitar 55,18 persen.

Baca Juga :  Damkar Bojonegoro : Saat Musim Kemarau, Waspada Kebakaran

Artinya, jika dilihat dari perbandingan perolehan suara tersebut, terjadi penyusutan suara yang sangat banyak. Sementara di sisi lain, suara pasangan DaDi, yang notabene diusung Partai Golkar menjadi berlipat-lipat dibanding suara partai beringin pada pileg 2019.

Pada pileg tahun lalu Partai Golkar hanya mendapat 110.992 suara, jauh lebih banyak dari suara pasangan DaDi pada pilkada kali ini yang mencapai 423.236. Bahkan, perolehan suara pasangan DaDi mencapai dua kali lipat dari perolehan suara pasangan Kristiawan-Haeny (Krishaen) yang sama-sama diusung Partai Golkar pada pilkada 2011, yakni sebanyak 207.894 suara atau sekitar 30,66 persen.

Dosen komunikasi politik Unirow Tuban Satya Irawati Ningrum tidak menampik bahwa pilkada 2020 ini masih tidak bisa dilepaskan dari pertarungan kubu Haeny dan Huda. Dari kacamata ko munikasi politik, Ira —sapaan akrabnya, membaca mesin politik yang menjadi pengusung pasangan Aman tidak begitu jalan dan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Apakah karena tidak majunya bani Huda? ‘’Salah satunya,’’ katanya.

Jika dilihat dari konstelasi politik yang sudah berjalan, sejak awal ada keinginan dari bani Huda untuk maju dalam pilkada. Namun, karena tidak mendapatkan rekomendasi dari pengurus pusat PKB, menjadikan konsolidasi internal seakan terhambat.

Namun demikian, Ira enggan menjustifikasi bahwa bani Huda tidak mendukung dalam pancalonan pasangan Aman. ‘’Ini hanya kemungkinan yang kemudian menghambat konsolidasi di internal,’’ terang dia.

Baca Juga :  Sidang Virtual Hemat Biaya Makan Tahanan

Diakui Ira, pertarungan akan terasa beda jika yang maju adalah bani Huda. Sebab, ini sekaligus mempertemukan dua kubu yang sebelumnya bertarung pada 2011 dan dimenangkan oleh kubu Fathul Huda. Namun, karena kubu bani Huda tidak maju, sehingga pertarungan pilkada terasa beda.

Bahkan, Ira pun sempat tidak percaya dengan perolehan suara pasangan DaDi di Kecamatan Montong menang telak. Sebab, Montong merupakan basis bani Huda sekaligus lumbung suara PKB pada pileg.

‘’Ini kelihatan sekali, Montong yang merupakan basis Pak Huda, tapi ternyata kalah,’’ terang ibu tiga anak itu. Soal suara Lindra yang berhasil menang mutlak di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban, Ira menilai, suara pasangan DaDi tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih suara pendukung fanatik Haeny.

Menurutnya, keberhasilan Haeny dalam menjalankan konsolidasi internal menjadikan suara pendukung fanatiknya utuh. ‘’Bu Haeny masih memiliki pengaruh yang cukup besar, mungkin sampai 60 persen dari suara pasangan DaDi adalah suara pendukung fanatik Bu Haeny,’’ tandasnya.

Sementara itu hasil rekap di tingkat kabupaten kemarin tidak jauh beda dengan hasil penghitungan cepat yang dilakukan masiang-masing paslon. Yakni, pasangan nomor urut 01 meraih suara sebanyak 170.955 atau 24,24 persen. Kemudian paslon nomor urut 02 sebanyak 423.236 suara atau 60,01 persen dan paslon nomor urut 03 sebanyak 110.998 suara 15,74 persen.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/