alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Damkar Bojonegoro : Saat Musim Kemarau, Waspada Kebakaran

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Awal masuk kemarau jatuh pada Mei, salah satu hal yang perlu diwaspadai ialah kebakaran. Karena setiap tahunnya angka kejadian kebakaran meningkat saat kemarau. Tak hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tapi juga kebakaran rumah, kandang, maupun gudang oven tembakau.

 

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Achmad Gunawan menyampaikan, bahwa sebenarnya musim kemarau maupun hujan tidak bisa jadi patokan tingginya kejadian kebakaran. Namun, kebetulan beberapa tahun terakhir saat kemarau adanya peningkatan kejadian kebakaran. Sebab kebakaran terjadi rerata akibat kelalaian.

 

“Contohnya seperti kebakaran gudang oven tembakau yang sering terjadi saat kemarau itu tentu akibat kelalaian. Karena seharusnya saat mengoven tembakau tidak boleh ditinggal, harus dijaga,” ujar Gunawan.

Baca Juga :  Mengajak Anak Bermain di Taman

 

Berdasar data kebakaran 2021, totalnya 150 kejadian terdiri atas 86 kejadian saat musim kemarau dan 64 kejadian saat musim hujan. Penyebab kebakaran masih didominasi korsleting listrik bangunan rumah. Imbauannya agar warga mengintalasi listrik menggunakan kabel atau stop kontak dengan label standar nasional Indonesia (SNI).

 

Kepala Bidang (Kabid) Pemadaman dan Penyelematan Dinas Damkar Bojonegoro Ahmad Adi Winarto mengungkapkan, bahwa mulai Januari hingga kemarin (12/5) telah terjadi 36 kejadian kebakaran. Awal musim kemarau pada Mei sudah ada enam kejadian kebakaran. Kebakaran terakhir terjadi di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen pada Sabtu lalu (7/5). Kebakaran gudang oven tembakau.

 

“Sekitar sepuluh ton tembakau terbakar. Kerugian material ditaksir Rp 100 juta,” kata Adi.

Baca Juga :  Alokasi Belanja Bansos di Bojonegoro Naik

 

Menurutnya, karhutla saat musim kemarau tetap harus diwaspadai. Imbauannya agar warga dekat dengan hutan atau lahan tidak membakar sampah secara sembarangan. Sebisa mungkin saat meninggalkan lokasi membakar sampah atau daun kering harus memastikan api benar-benar sudah mati. (bgs/msu)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Awal masuk kemarau jatuh pada Mei, salah satu hal yang perlu diwaspadai ialah kebakaran. Karena setiap tahunnya angka kejadian kebakaran meningkat saat kemarau. Tak hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tapi juga kebakaran rumah, kandang, maupun gudang oven tembakau.

 

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Achmad Gunawan menyampaikan, bahwa sebenarnya musim kemarau maupun hujan tidak bisa jadi patokan tingginya kejadian kebakaran. Namun, kebetulan beberapa tahun terakhir saat kemarau adanya peningkatan kejadian kebakaran. Sebab kebakaran terjadi rerata akibat kelalaian.

 

“Contohnya seperti kebakaran gudang oven tembakau yang sering terjadi saat kemarau itu tentu akibat kelalaian. Karena seharusnya saat mengoven tembakau tidak boleh ditinggal, harus dijaga,” ujar Gunawan.

Baca Juga :  Dana Bagi Hasil 11 Desa Terancam Dikepras

 

Berdasar data kebakaran 2021, totalnya 150 kejadian terdiri atas 86 kejadian saat musim kemarau dan 64 kejadian saat musim hujan. Penyebab kebakaran masih didominasi korsleting listrik bangunan rumah. Imbauannya agar warga mengintalasi listrik menggunakan kabel atau stop kontak dengan label standar nasional Indonesia (SNI).

 

Kepala Bidang (Kabid) Pemadaman dan Penyelematan Dinas Damkar Bojonegoro Ahmad Adi Winarto mengungkapkan, bahwa mulai Januari hingga kemarin (12/5) telah terjadi 36 kejadian kebakaran. Awal musim kemarau pada Mei sudah ada enam kejadian kebakaran. Kebakaran terakhir terjadi di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen pada Sabtu lalu (7/5). Kebakaran gudang oven tembakau.

 

“Sekitar sepuluh ton tembakau terbakar. Kerugian material ditaksir Rp 100 juta,” kata Adi.

Baca Juga :  Alokasi Belanja Bansos di Bojonegoro Naik

 

Menurutnya, karhutla saat musim kemarau tetap harus diwaspadai. Imbauannya agar warga dekat dengan hutan atau lahan tidak membakar sampah secara sembarangan. Sebisa mungkin saat meninggalkan lokasi membakar sampah atau daun kering harus memastikan api benar-benar sudah mati. (bgs/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/