alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Daging Tak Layak Konsumsi Hanya di Jenu

Radar Tuban – Badan usaha milik daerah (BUMD) Ronggolawe Sukses Mandiri, supplier daging ayam program Bantuan Pangan Nontunai (BP­NT) mengklaim, kasus daging ayam BPNT tidak yang layak konsumsi hanya terjadi di wi­la­yah Kecamatan Jenu.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Direktur BUMD Rong­go­lawe Sukses Mandiri Amin Jaya menegaskan, dari 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban hanya di Kecamatan Jenu yang bermasalah.

Disampaikan Amin, untuk Agustus ini, khusus wilayah Kecamatan Jenu tidak ditangani langsung BUMD, melainkan pengusaha daging ayam lokal. ‘’Kami tidak masuk (pemasok, Red) Kecamatan Jenu. Jenu kami lepas dan kami be­rikan kepada kearifan lokal (pengu­saha lokal, Red),’’ kata dia kemarin (13/8).

Disampaikan Amin, pengadaan daging ayam yang diberikan kepada pengusaha lokal itu me­nyusul hasil dengar pendapat di DPRD Tuban dua bulan lalu. Tu­juannya, memfasilitasi pengu­saha lokal untuk ikut berperan dalam meng­angkat produk lokal. ‘’Kami me-follow up hasil hearing dua bulan lalu dengan dewan agar sedianya ada kearifan local. Jadi, Agustus ini untuk wilayah Jenu kita serahkan pengusaha lokal,’’ tegas Amin.

Baca Juga :  Momentum Menumbuhkan Kebanggaan terhadap Kearifan Lokal

Karena itulah, dia memberikan kesempatan kepada pengusaha daging ayam lokal untuk drop­ping di wilayah Kecamatan Jenu. Namun, praktiknya tidak mampu memenuhi spesifikasi kualitas yang menjadi standar. Berbeda dengan dropping BUMD yang di­datangkan langsung dari pabrik dengan standar kemasan frozen atau beku. ‘’Kapan lagi kita berani memulai memberikan peran kepada lokal (pengusaha lokal, Red) kalau tidak dari sekarang. Cuma kualitasnya perlu di­perbaiki,’’ tuturnya.

Meski demikian, BUMD tetap mem­berikan kesempatan kepada pengusaha yang bersangkutan agar tidak langsung menghen­tikan dropping. ‘’Ada evaluasi un­tuk jaga mutu. Kalau nanti masih be­lum bisa memenuhi standar yang layak, ya kita cut. Sementara kita evaluasi dulu,’’ tegas dia.

Dengan kejadian ini, Amin me­minta kepada pihak pengu­saha untuk bertanggung jawab meng­ganti semua daging yang tidak layak konsumsi tersebut. ‘’Dan, mereka bertanggung ja­wab. Ba­rangnya langsung di­ganti semua. Sikap ini (bertang­gung jawab, Red) yang saya apre­siasi,’’ kata dia.

Baca Juga :  Pandemi Turunkan Angka Kecelakaan

Soal nama BUMD yang ter­coreng, Amin menegaskan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya de­ngan pertaruhan nama BUMD. ‘’BUMD ini kan perusahaan daerah. Jadi, harus berani meli­batkan kearifan lokal,’’ ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, pe­nya­luran program BPNT di Tuban kembali menuai masalah. Setelah beras bau dan berkutu reda, Rabu (12/8) lalu giliran komoditas daging ayam tidak layak konsumsi yang dikeluhkan keluarga penerima manfaat (KPM) di Desa Socorejo, Keca­matan Jenu. Daging ayam yang merupakan paket bantuan pro­gram BPNT itu diterima KPM dalam kondisi tidak layak kon­sumsi. Temuan tersebut disampaikan Kepala Desa Socorejo Zubas Arif Rahman Hakim sete­lah me­nerima laporan warganya. Temuan daging ayam tak layak konsumsi paket BPNT itu dite­mukan hampir merata di Dusun Borosoco, desa setempat. Total pe­nerimanya sekitar 60-an ke­luarga. Dia me­ngatakan, daging tersebut dari satu agen yang sa­ma.

Radar Tuban – Badan usaha milik daerah (BUMD) Ronggolawe Sukses Mandiri, supplier daging ayam program Bantuan Pangan Nontunai (BP­NT) mengklaim, kasus daging ayam BPNT tidak yang layak konsumsi hanya terjadi di wi­la­yah Kecamatan Jenu.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Direktur BUMD Rong­go­lawe Sukses Mandiri Amin Jaya menegaskan, dari 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban hanya di Kecamatan Jenu yang bermasalah.

Disampaikan Amin, untuk Agustus ini, khusus wilayah Kecamatan Jenu tidak ditangani langsung BUMD, melainkan pengusaha daging ayam lokal. ‘’Kami tidak masuk (pemasok, Red) Kecamatan Jenu. Jenu kami lepas dan kami be­rikan kepada kearifan lokal (pengu­saha lokal, Red),’’ kata dia kemarin (13/8).

Disampaikan Amin, pengadaan daging ayam yang diberikan kepada pengusaha lokal itu me­nyusul hasil dengar pendapat di DPRD Tuban dua bulan lalu. Tu­juannya, memfasilitasi pengu­saha lokal untuk ikut berperan dalam meng­angkat produk lokal. ‘’Kami me-follow up hasil hearing dua bulan lalu dengan dewan agar sedianya ada kearifan local. Jadi, Agustus ini untuk wilayah Jenu kita serahkan pengusaha lokal,’’ tegas Amin.

Baca Juga :  Sekolah Tatap Muka Diuji Coba Bulan Ini

Karena itulah, dia memberikan kesempatan kepada pengusaha daging ayam lokal untuk drop­ping di wilayah Kecamatan Jenu. Namun, praktiknya tidak mampu memenuhi spesifikasi kualitas yang menjadi standar. Berbeda dengan dropping BUMD yang di­datangkan langsung dari pabrik dengan standar kemasan frozen atau beku. ‘’Kapan lagi kita berani memulai memberikan peran kepada lokal (pengusaha lokal, Red) kalau tidak dari sekarang. Cuma kualitasnya perlu di­perbaiki,’’ tuturnya.

Meski demikian, BUMD tetap mem­berikan kesempatan kepada pengusaha yang bersangkutan agar tidak langsung menghen­tikan dropping. ‘’Ada evaluasi un­tuk jaga mutu. Kalau nanti masih be­lum bisa memenuhi standar yang layak, ya kita cut. Sementara kita evaluasi dulu,’’ tegas dia.

Dengan kejadian ini, Amin me­minta kepada pihak pengu­saha untuk bertanggung jawab meng­ganti semua daging yang tidak layak konsumsi tersebut. ‘’Dan, mereka bertanggung ja­wab. Ba­rangnya langsung di­ganti semua. Sikap ini (bertang­gung jawab, Red) yang saya apre­siasi,’’ kata dia.

Baca Juga :  Setahun, Sumbang Pajak Kendaraan Bermotor Minimal 1 Miliar

Soal nama BUMD yang ter­coreng, Amin menegaskan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya de­ngan pertaruhan nama BUMD. ‘’BUMD ini kan perusahaan daerah. Jadi, harus berani meli­batkan kearifan lokal,’’ ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, pe­nya­luran program BPNT di Tuban kembali menuai masalah. Setelah beras bau dan berkutu reda, Rabu (12/8) lalu giliran komoditas daging ayam tidak layak konsumsi yang dikeluhkan keluarga penerima manfaat (KPM) di Desa Socorejo, Keca­matan Jenu. Daging ayam yang merupakan paket bantuan pro­gram BPNT itu diterima KPM dalam kondisi tidak layak kon­sumsi. Temuan tersebut disampaikan Kepala Desa Socorejo Zubas Arif Rahman Hakim sete­lah me­nerima laporan warganya. Temuan daging ayam tak layak konsumsi paket BPNT itu dite­mukan hampir merata di Dusun Borosoco, desa setempat. Total pe­nerimanya sekitar 60-an ke­luarga. Dia me­ngatakan, daging tersebut dari satu agen yang sa­ma.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/