alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Tingkat Penularan Covid Semakin Masif

TUBAN, Radar Tuban – Persebaran coronavirus disease 19 (Covid-19) terus meluas. Begitu juga dengan potensi penularannya, semakin masif. Penyebabnya, jumlah orang yang menjadi silent carrier terus bertambah. Sehingga, penularan virus SARS-Cov-2 ini sulit dikendalikan. Sebaliknya, orang-orang yang menjadi silent carrier atau orang tanpa gejala (OTG) ini diprediksi akan terus bertambah seiring meningkatnya kasus pasien baru positif Covid-19.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban Bambang Priyo Utomo menyatakan, saat ini penularan virus korona semakin sulit terdeteksi. Sebab, mereka yang menjadi carrier atau penular tak lagi memiliki gejala sakit, seperti awal kemunculan virus ini. Jika sebelumnya penularan virus korona ini bisa terdeteksi dari pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) karena mengeluh sakit dengan gejala awal yang mirip virus korana. Sekarang sebaliknya, orang-orang menjadi carrier tidak mengalami gejala sakit apapun.

‘’Mereka yang menjadi silent carrier ini baru diketahui terpapar virus korona setelah melalui uji swab. Saat dinyatakan ter-confirm (positif, Red), tentu dia sudah menularkan ke yang lain dengan tanpa sengaja, karena kondisinya yang sehat tadi,’’ kata Bambang ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (14/6).

Disampaikan Bambang, tren penularan virus dari silent carrier atau OTG ini terlihat dari grafis tracing yang dilakukan gugus tugas. Jumlah OTG yang terdeteksi telah melampaui angka PDP dan ODP. Hingga kemarin, jumlah kumulatif OTG telah mencapai 793 orang. Sedangkan ODP sebanyak 641 orang dan PDP 83 orang. Mirisnya lagi, orang-orang yang berstatus OTG ini lebih berpotensi terpapar ketimbang ODP. Berdasar data yang ada, hampir semua ODP selesai pemantauan. Artinya, mereka tidak terpapar Covid-19. Berbeda dengan OTG, sebagian besar kasus pasien positif di Tuban saat ini bermula dari status OTG. Yakni, orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien positif, namun kondisinya sehat. ‘’Dan, trennya sekarang seperti itu, rata-rata pasien positif ini berasal dari OTG,’’ terang kepala dinas kesehatan itu.

Baca Juga :  Jangan Takut Rapid Test Karena Belum Tentu Positif Covid-19 

Ini artinya, lanjut mantan kepala Puskesmas Tambakboyo ini, sekarang orang yang terpapar virus korona lebih banyak yang tanpa gejala ketimbang yang memiliki gejala awal. ‘’Semakin banyak OTG yang ter-confirm positif, maka akan semakin banyak pula OTG baru yang muncul,’’ terang dia.

Lindungi Kelompok Berisiko

Juru Bicara Gugus Tugas Endah Nurul Kumarijati menambahkan, dengan kondisi yang seperti ini, maka yang bisa dilakukan saat ini adalah melindungi kelompok berisiko. Diantara orang-orang yang berisiko apabila tertular virus korona ini adalah lansia, anak-anak dan balita, dan ibu hamil. Terlebih, bagi orang tua dengan penyakit penyerta yang sudah kronis. Seperti terkena diabetes, jantung, gagal ginjal, paru-paru basah, dan penyakit komorbid lainnya yang sudah kondisinya sudah kronis. ‘’Kelompok berisiko dengan penyakit penyerta ini sangat-sangat bahaya,’’ terang Endah, sapaan akrabnya.

Untuk itu, kata Endah, salah satu kunci untuk menyelamatkan kelompok berisiko ini adalah dengan melindunginya. Yang dimaksud melindunginya yakni selalu menjaga jarak terhadap orang-orang yang berisiko tersebut. Jika di dalam keluarga, maka yang harus selalu dilakukan adalah mengenakan masker dan tidak melakukan kontak erat. 

‘’Jika Anda menyayangi mereka (orang-orang yang berisiko, Red), maka Anda harus melindunginya agar jangan sampai tertular (virus korona, Red),’’ ujar sekretaris dinas kesehatan itu.

Baca Juga :  Angin Segar Akhir Tahun, Kebun Belimbing Mengerek Pengunjung Wisata

Disampaikan Endah, melindungi orang-orang yang berisiko ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. ‘’Diperlukan peran serta semua masyarakat, karena ini adalah tugas kita bersama untuk melindungi mereka (kelompok berisiko, Red),’’ tegasnya.

Berdasar data yang dirilis gugus tugas, kemarin jumlah tracing OTG kembali melonjak. Ditemukan sebanyak 35 orang. Disampaikan Endah, mereka adalah orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien positif baru Covid-19. Baik yang berasal dari keluarga, kerabat, dan rekan kerja. 

‘’Setiap kali ada OTG yang positif langsung kita lakukan tracing. Dan, rerata mereka sudah melakukan kontak erat kondisinya sehat, baik-baik saja,’’ jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, mereka yang berstatus OTG diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sambil menunggu hasil tes swab keluar. Apakah negatif atau positif. ‘’Saat isolasi mandiri di rumah, kami juga minta untuk selalu menjaga jarak dengan keluarga yang lain. Selalu mengenakan masker dan tidak melakukan kontak erat,’’ tandasnya.

Sementara itu, dari 29 pasien positif yang masih menjalani perawatan sambil menunggu hasil tes swab lanjutan, tinggal tiga pasien saja yang menjalani perawatan di rumah sakit. Yakni, dua pasien dirawat di RSUD Koesma dan satu pasien dirawat di RS Ali Mansyur Jatirogo. Selebihnya sehat semua. Rinciannya, 16 pasien menjalani isolasi di rumah isolasi dan 10 orang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Untuk pasien yang sembuh totalnya sebanyak 30 orang dan meninggal lima orang dari total kumulatif pasien positif Covid-19 sebanyak 64 orang.

TUBAN, Radar Tuban – Persebaran coronavirus disease 19 (Covid-19) terus meluas. Begitu juga dengan potensi penularannya, semakin masif. Penyebabnya, jumlah orang yang menjadi silent carrier terus bertambah. Sehingga, penularan virus SARS-Cov-2 ini sulit dikendalikan. Sebaliknya, orang-orang yang menjadi silent carrier atau orang tanpa gejala (OTG) ini diprediksi akan terus bertambah seiring meningkatnya kasus pasien baru positif Covid-19.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban Bambang Priyo Utomo menyatakan, saat ini penularan virus korona semakin sulit terdeteksi. Sebab, mereka yang menjadi carrier atau penular tak lagi memiliki gejala sakit, seperti awal kemunculan virus ini. Jika sebelumnya penularan virus korona ini bisa terdeteksi dari pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) karena mengeluh sakit dengan gejala awal yang mirip virus korana. Sekarang sebaliknya, orang-orang menjadi carrier tidak mengalami gejala sakit apapun.

‘’Mereka yang menjadi silent carrier ini baru diketahui terpapar virus korona setelah melalui uji swab. Saat dinyatakan ter-confirm (positif, Red), tentu dia sudah menularkan ke yang lain dengan tanpa sengaja, karena kondisinya yang sehat tadi,’’ kata Bambang ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (14/6).

Disampaikan Bambang, tren penularan virus dari silent carrier atau OTG ini terlihat dari grafis tracing yang dilakukan gugus tugas. Jumlah OTG yang terdeteksi telah melampaui angka PDP dan ODP. Hingga kemarin, jumlah kumulatif OTG telah mencapai 793 orang. Sedangkan ODP sebanyak 641 orang dan PDP 83 orang. Mirisnya lagi, orang-orang yang berstatus OTG ini lebih berpotensi terpapar ketimbang ODP. Berdasar data yang ada, hampir semua ODP selesai pemantauan. Artinya, mereka tidak terpapar Covid-19. Berbeda dengan OTG, sebagian besar kasus pasien positif di Tuban saat ini bermula dari status OTG. Yakni, orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien positif, namun kondisinya sehat. ‘’Dan, trennya sekarang seperti itu, rata-rata pasien positif ini berasal dari OTG,’’ terang kepala dinas kesehatan itu.

Baca Juga :  Perawatan Gedung Pemkab Dialokasikan Rp 700 Juta

Ini artinya, lanjut mantan kepala Puskesmas Tambakboyo ini, sekarang orang yang terpapar virus korona lebih banyak yang tanpa gejala ketimbang yang memiliki gejala awal. ‘’Semakin banyak OTG yang ter-confirm positif, maka akan semakin banyak pula OTG baru yang muncul,’’ terang dia.

Lindungi Kelompok Berisiko

Juru Bicara Gugus Tugas Endah Nurul Kumarijati menambahkan, dengan kondisi yang seperti ini, maka yang bisa dilakukan saat ini adalah melindungi kelompok berisiko. Diantara orang-orang yang berisiko apabila tertular virus korona ini adalah lansia, anak-anak dan balita, dan ibu hamil. Terlebih, bagi orang tua dengan penyakit penyerta yang sudah kronis. Seperti terkena diabetes, jantung, gagal ginjal, paru-paru basah, dan penyakit komorbid lainnya yang sudah kondisinya sudah kronis. ‘’Kelompok berisiko dengan penyakit penyerta ini sangat-sangat bahaya,’’ terang Endah, sapaan akrabnya.

Untuk itu, kata Endah, salah satu kunci untuk menyelamatkan kelompok berisiko ini adalah dengan melindunginya. Yang dimaksud melindunginya yakni selalu menjaga jarak terhadap orang-orang yang berisiko tersebut. Jika di dalam keluarga, maka yang harus selalu dilakukan adalah mengenakan masker dan tidak melakukan kontak erat. 

‘’Jika Anda menyayangi mereka (orang-orang yang berisiko, Red), maka Anda harus melindunginya agar jangan sampai tertular (virus korona, Red),’’ ujar sekretaris dinas kesehatan itu.

Baca Juga :  Rumah-Rumah Tua yang Masih Terjaga di Bojonegoro

Disampaikan Endah, melindungi orang-orang yang berisiko ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. ‘’Diperlukan peran serta semua masyarakat, karena ini adalah tugas kita bersama untuk melindungi mereka (kelompok berisiko, Red),’’ tegasnya.

Berdasar data yang dirilis gugus tugas, kemarin jumlah tracing OTG kembali melonjak. Ditemukan sebanyak 35 orang. Disampaikan Endah, mereka adalah orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien positif baru Covid-19. Baik yang berasal dari keluarga, kerabat, dan rekan kerja. 

‘’Setiap kali ada OTG yang positif langsung kita lakukan tracing. Dan, rerata mereka sudah melakukan kontak erat kondisinya sehat, baik-baik saja,’’ jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, mereka yang berstatus OTG diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sambil menunggu hasil tes swab keluar. Apakah negatif atau positif. ‘’Saat isolasi mandiri di rumah, kami juga minta untuk selalu menjaga jarak dengan keluarga yang lain. Selalu mengenakan masker dan tidak melakukan kontak erat,’’ tandasnya.

Sementara itu, dari 29 pasien positif yang masih menjalani perawatan sambil menunggu hasil tes swab lanjutan, tinggal tiga pasien saja yang menjalani perawatan di rumah sakit. Yakni, dua pasien dirawat di RSUD Koesma dan satu pasien dirawat di RS Ali Mansyur Jatirogo. Selebihnya sehat semua. Rinciannya, 16 pasien menjalani isolasi di rumah isolasi dan 10 orang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Untuk pasien yang sembuh totalnya sebanyak 30 orang dan meninggal lima orang dari total kumulatif pasien positif Covid-19 sebanyak 64 orang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/