alexametrics
27.5 C
Bojonegoro
Saturday, August 13, 2022

Melihat 50 Kedai Kopi di Kawasan Perkotaan

Pahit yang Memikat

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Aroma kopi dari kedai dan warung terasa menenangkan. Hal itu membuat kedai kopi mulai bermunculan. Dua tahun terakhir, di sekitar kawasan Bojonegoro Kota, jumlahnya mencapai 50 lebih. Kedai-kedai ini menyediakan berbagai ragam kopi murni.

Kedai kopi menjamur sejak pandemi Covid-19 melanda awal 2020 lalu. Kala itu banyak orang perantauan di kota-kota besar pulang kampung. Saat di Bojonegoro, mereka mencari kedai secara khusus menyediakan aneka kopi. Penyaji kopinya sekelas bartender. Harus pandai meracik kopi.

‘’Para pecinta kopi tidak akan mau minum kopi di sembarang warung. Mereka pasti mencari kedai menyediakan kopi asli,’’ jelas Tony Hermawan, salah satu pemilik kedai kopi.

Kedai kopi memang berbeda dengan warung kopi. Warung kopi hanya menyediakan kopi dengan satu cara penyajian, yaitu seduh. Sedangkan, di kedai kopi cara penyajiannya berbeda. Misalnya, ekspreso penyajiannya dengan memeras sari kopi. Sehingga, menghasilkan sari kopi rasa asli.

Baca Juga :  Jaga Persatuan-Kesatuan Bangsa, Guyup Rukun, Tenteram, dan Sejahtera

‘’Disebut ekspreso karena proses pembuatanya dipres. Jadi, keluar sari kopinya,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Cara minumnya pun berbeda. Satu cangkir kecil sari kopi ekspreso disajikan tanpa gula. Bagi pecinta kopi, rasa pahit kopi asli itu memberikan sensasi tersendiri. ‘’Bisa juga disajikan segelas air putih sebagai penawar,’’ tuturnya.

Tidak hanya proses penyajian, kedai kopi juga memperhatikan asal-usul biji kopi. Sebab, itu yang menentukan kualitas dan rasa. Misalnya, kopi ijen, kopi gayo, dan kopi toraja. Itu adalah jenis kopi berdasar daerah asal kopi itu ditanam.

‘’Kami tidak mau membeli kopi asal usulnya tidak jelas,’’ jelas pria juga pengusaha bengkel itu.

Pada dasarnya kopi beredar di Indonesia hanya ada dua. Yaitu, robusta dan arabika. Namun, daerah menanamnya berbeda-beda. Sehingga, dinamai dari mana daerah kopi itu ditanam.

Baca Juga :  Siswa Baru Lulus Gagal Terima DAK Pendidikan

‘’Sebenarnnya ada satu jenis lagi, yakni liberika. Namun, jenis ini tidak begitu banyak diminati di Indonesia,’’ jelas pria 24 tahun itu.

Di kedai kopi, biji kopi dipanggang dengan mesin. Pemanggangan mesin akan menghasilkan kualitas lebih bagus. Yakni, sesuai tujuan dibuatnya kopi. Misalnya, biji kopi akan dibuat ekpreso memiliki standar kematangan tersendiri. Beda standar kematangan tidak akan menghasilkan ekspreso yang enak.

Kafe menyajikan aneka minuman varian kopi kian banyak. Bahkan, jumlah ini jauh lebih banyak. Kafe-kafe ini menyediakan minuman kopi dipadu aneka bahan lainnya. Misalnya, kopi pandan, kopi gula kelapa, hingga kopi vanilla.

‘’Biasanya penikmat kopi kekinian adalah anak remaja milenial,’’ ungkap Gusti Bintang Deva Winendra, salah satu pemilik usaha kafe. (zim/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Aroma kopi dari kedai dan warung terasa menenangkan. Hal itu membuat kedai kopi mulai bermunculan. Dua tahun terakhir, di sekitar kawasan Bojonegoro Kota, jumlahnya mencapai 50 lebih. Kedai-kedai ini menyediakan berbagai ragam kopi murni.

Kedai kopi menjamur sejak pandemi Covid-19 melanda awal 2020 lalu. Kala itu banyak orang perantauan di kota-kota besar pulang kampung. Saat di Bojonegoro, mereka mencari kedai secara khusus menyediakan aneka kopi. Penyaji kopinya sekelas bartender. Harus pandai meracik kopi.

‘’Para pecinta kopi tidak akan mau minum kopi di sembarang warung. Mereka pasti mencari kedai menyediakan kopi asli,’’ jelas Tony Hermawan, salah satu pemilik kedai kopi.

Kedai kopi memang berbeda dengan warung kopi. Warung kopi hanya menyediakan kopi dengan satu cara penyajian, yaitu seduh. Sedangkan, di kedai kopi cara penyajiannya berbeda. Misalnya, ekspreso penyajiannya dengan memeras sari kopi. Sehingga, menghasilkan sari kopi rasa asli.

Baca Juga :  Lelang Belum Kelar, Proyek 13 Trotoar di Bojonegoro Sisa Lima Bulan

‘’Disebut ekspreso karena proses pembuatanya dipres. Jadi, keluar sari kopinya,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Cara minumnya pun berbeda. Satu cangkir kecil sari kopi ekspreso disajikan tanpa gula. Bagi pecinta kopi, rasa pahit kopi asli itu memberikan sensasi tersendiri. ‘’Bisa juga disajikan segelas air putih sebagai penawar,’’ tuturnya.

Tidak hanya proses penyajian, kedai kopi juga memperhatikan asal-usul biji kopi. Sebab, itu yang menentukan kualitas dan rasa. Misalnya, kopi ijen, kopi gayo, dan kopi toraja. Itu adalah jenis kopi berdasar daerah asal kopi itu ditanam.

‘’Kami tidak mau membeli kopi asal usulnya tidak jelas,’’ jelas pria juga pengusaha bengkel itu.

Pada dasarnya kopi beredar di Indonesia hanya ada dua. Yaitu, robusta dan arabika. Namun, daerah menanamnya berbeda-beda. Sehingga, dinamai dari mana daerah kopi itu ditanam.

Baca Juga :  Inovasi Kopi dengan Campuran Rasa Buah 

‘’Sebenarnnya ada satu jenis lagi, yakni liberika. Namun, jenis ini tidak begitu banyak diminati di Indonesia,’’ jelas pria 24 tahun itu.

Di kedai kopi, biji kopi dipanggang dengan mesin. Pemanggangan mesin akan menghasilkan kualitas lebih bagus. Yakni, sesuai tujuan dibuatnya kopi. Misalnya, biji kopi akan dibuat ekpreso memiliki standar kematangan tersendiri. Beda standar kematangan tidak akan menghasilkan ekspreso yang enak.

Kafe menyajikan aneka minuman varian kopi kian banyak. Bahkan, jumlah ini jauh lebih banyak. Kafe-kafe ini menyediakan minuman kopi dipadu aneka bahan lainnya. Misalnya, kopi pandan, kopi gula kelapa, hingga kopi vanilla.

‘’Biasanya penikmat kopi kekinian adalah anak remaja milenial,’’ ungkap Gusti Bintang Deva Winendra, salah satu pemilik usaha kafe. (zim/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/