alexametrics
32.3 C
Bojonegoro
Wednesday, October 5, 2022

Sejak 2019 Desa Terdampak Alami Penurunan

Potensi Kekeringan di Bojonegoro Diprediksi Rendah

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Potensi kekeringan tahun ini diprediksi rendah. Pemetaan potensi kekeringan selama musim kemarau mulai dilakukan. Namun, sejak 2019 hingga 2021 terus alami penurunan.

 

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, sebanyak 79 desa dari 22 kecamatan di Bojonegoro terdampak kekeringan pada 2019. Pada 2020, sebanyak 42 desa dari 16 kecamatan. Dan 2021 sebanyak 19 desa di 8 kecamatan.

Selama tiga tahun ke belakang karakteristik musim kemarau tidak jauh berbeda. Saat musim kemarau, masih kerap turun hujan akibat fenomena la nina.

 

- Advertisement -

Sekretaris BPBD Bojonegoro Zaenul Ma’arif mengatakan, turunnya jumlah desa terdampak kekeringan tidak hanya karena fenomena alam. Tapi, juga banyak desa sebelumnya kerap kesulitan air bersih, kini sudah teraliri air bersih.

Baca Juga :  Meresahkan, Geng Preman Pantura Dilumpuhkan

 

“Setiap tahun kan ada proyek pipanisasi air bersih oleh dinas perumahan, kawasan permukiman, dan cipta karya (DPKCK). Lalu proyek cek dam oleh dinas pekerjaan umum sumber daya air, dan pamsimas oleh bappeda,” tuturnya.

 

Hingga sekarang belum ada permintaan dropping air bersih. Apabila mengacu data kekeringan tahun lalu, tujuh kecamatan masih berpotensi terdampak kekeringan. Meliputi Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Ngasem, Dander, Sumberrejo, Ngraho, Temayang, dan Kasiman.

 

“BPBD Bojonegoro mengalokasikan sekitar 400 tangki air bersih,” ucapnya. Sementara itu, berdasar tahun lalu setidaknya sebanyak 2.088 kepala keluarga (KK) atau 5.833 jiwa yang terdampak kekeringan. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Potensi kekeringan tahun ini diprediksi rendah. Pemetaan potensi kekeringan selama musim kemarau mulai dilakukan. Namun, sejak 2019 hingga 2021 terus alami penurunan.

 

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, sebanyak 79 desa dari 22 kecamatan di Bojonegoro terdampak kekeringan pada 2019. Pada 2020, sebanyak 42 desa dari 16 kecamatan. Dan 2021 sebanyak 19 desa di 8 kecamatan.

Selama tiga tahun ke belakang karakteristik musim kemarau tidak jauh berbeda. Saat musim kemarau, masih kerap turun hujan akibat fenomena la nina.

 

- Advertisement -

Sekretaris BPBD Bojonegoro Zaenul Ma’arif mengatakan, turunnya jumlah desa terdampak kekeringan tidak hanya karena fenomena alam. Tapi, juga banyak desa sebelumnya kerap kesulitan air bersih, kini sudah teraliri air bersih.

Baca Juga :  Kawasan Selatan Bojonegoro Berpotensi Gempa, Pasang Alat Deteksi Dini

 

“Setiap tahun kan ada proyek pipanisasi air bersih oleh dinas perumahan, kawasan permukiman, dan cipta karya (DPKCK). Lalu proyek cek dam oleh dinas pekerjaan umum sumber daya air, dan pamsimas oleh bappeda,” tuturnya.

 

Hingga sekarang belum ada permintaan dropping air bersih. Apabila mengacu data kekeringan tahun lalu, tujuh kecamatan masih berpotensi terdampak kekeringan. Meliputi Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Ngasem, Dander, Sumberrejo, Ngraho, Temayang, dan Kasiman.

 

“BPBD Bojonegoro mengalokasikan sekitar 400 tangki air bersih,” ucapnya. Sementara itu, berdasar tahun lalu setidaknya sebanyak 2.088 kepala keluarga (KK) atau 5.833 jiwa yang terdampak kekeringan. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/