alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Namanya Diabadikan sebagai Stadion

LETJEN H. Soedirman pahlawan nasional yang namanya akan abadi bagi masyarakat Bojonegoro. Pahlawan kelahiran Desa Ngringinrejo yang hidup di empat masa. Prajurit kelahiran 1913 yang wafat di usia 80 tahun itu mengarungi hidup di masa penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru. Prajurit dikenal sebagai sosok humanis dan relijius ini memiliki kegemaran pada sepak bola dan tulis menulis.
Di dalam buku Renungan Indonesia Raya Soedirman dituliskan, bahwa Soedirman gemar berbagai cabang olahraga. Salah satunya sepak bola. Soedirman muda pernah tergabung dalam tim kesebelasan Brigade dengan posisi sebagai penyerang tengah.
Rekam jejaknya sebagai penggemar sepak bola cukup beralasan. Nama Soedirman diabadikan menjadi nama stadion sepak bola yang juga merupakan markas tim Persibo Bojonegoro. Diperkirakan stadion tersebut dibangun medio 1990-an.
Selain sepak bola, Soedirman gemar bermain atletik, bulutangkis, dan bersepeda. Semasa kanak-kanak hingga remaja, Soedirman juga menggeluti beragam kesenian sepeti menari dan menyanyi. Sosok Soedirman dikenal tak pernah lupa dengan desa kelahirannya Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.
Dikutip dalam buku tersebut, Hampir setiap hari raya Idulfitri, Soedirman pulang kampung membawakan oleh-oleh untuk warga Desa Ngringinrejo berupa sarung, jarik, dan lain-lain.
Hal itu tentu dibenarkan oleh Moch Ghosni keponakan Letjen Soedirman, yang menempati rumahnya. Dia masih ingat pamannya dan saudara lainnya biasa diminta mencari rambanan  atau dedaunan hijau untuk santapan makanan bersama.
Soedirman merintis madrasah ibtidaiyah (MI) di Desa Ngringinrejo dan masjid.  “Tanah milik bapaknya Pak Soedirman, beliau yang kemudian meneruskannya untuk dibangun dan perbaikan masjid,” ujar Ghosni.
Winardi, warga Desa Ngringinrejo mengatakan, bayangan masih melekat sosok Letjen Soedirman ialah kepeduliannya kepada orang susah. Ia mengaku bapak ibunya dahulu juga pernah diberi bantuan. “Saat itu saya masih kecil sekitar usia tujuh tahun, saat ini yang menjaga dan menempati rumah adalah kakak saya,” jelasnya. (luk)

Baca Juga :  Berinovasi dan Berprestasi di Tengah Pandemi

LETJEN H. Soedirman pahlawan nasional yang namanya akan abadi bagi masyarakat Bojonegoro. Pahlawan kelahiran Desa Ngringinrejo yang hidup di empat masa. Prajurit kelahiran 1913 yang wafat di usia 80 tahun itu mengarungi hidup di masa penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru. Prajurit dikenal sebagai sosok humanis dan relijius ini memiliki kegemaran pada sepak bola dan tulis menulis.
Di dalam buku Renungan Indonesia Raya Soedirman dituliskan, bahwa Soedirman gemar berbagai cabang olahraga. Salah satunya sepak bola. Soedirman muda pernah tergabung dalam tim kesebelasan Brigade dengan posisi sebagai penyerang tengah.
Rekam jejaknya sebagai penggemar sepak bola cukup beralasan. Nama Soedirman diabadikan menjadi nama stadion sepak bola yang juga merupakan markas tim Persibo Bojonegoro. Diperkirakan stadion tersebut dibangun medio 1990-an.
Selain sepak bola, Soedirman gemar bermain atletik, bulutangkis, dan bersepeda. Semasa kanak-kanak hingga remaja, Soedirman juga menggeluti beragam kesenian sepeti menari dan menyanyi. Sosok Soedirman dikenal tak pernah lupa dengan desa kelahirannya Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.
Dikutip dalam buku tersebut, Hampir setiap hari raya Idulfitri, Soedirman pulang kampung membawakan oleh-oleh untuk warga Desa Ngringinrejo berupa sarung, jarik, dan lain-lain.
Hal itu tentu dibenarkan oleh Moch Ghosni keponakan Letjen Soedirman, yang menempati rumahnya. Dia masih ingat pamannya dan saudara lainnya biasa diminta mencari rambanan  atau dedaunan hijau untuk santapan makanan bersama.
Soedirman merintis madrasah ibtidaiyah (MI) di Desa Ngringinrejo dan masjid.  “Tanah milik bapaknya Pak Soedirman, beliau yang kemudian meneruskannya untuk dibangun dan perbaikan masjid,” ujar Ghosni.
Winardi, warga Desa Ngringinrejo mengatakan, bayangan masih melekat sosok Letjen Soedirman ialah kepeduliannya kepada orang susah. Ia mengaku bapak ibunya dahulu juga pernah diberi bantuan. “Saat itu saya masih kecil sekitar usia tujuh tahun, saat ini yang menjaga dan menempati rumah adalah kakak saya,” jelasnya. (luk)

Baca Juga :  Proyek JTB Rekrut 1.183 Pekerja Lokal dan 451 Luar Daerah

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/