alexametrics
27 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Masih Lestari, Pembuat Ampo di Tuban

Radar Tuban – Ampo atau penganan dari tanah yang diproduksi turun-temurun warga di Dusun Traulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding sampai kini masih lestari. Rasimah adalah satu-satunya pembuat ampo yang masih bertahan di tengah gerusan zaman.

Dia adalah generasi keempat pembuat penganan yang dianggap masyarakat umum tak lazim tersebut. ‘’Sehari bisa membuat hingga 15 kilogram,’’ ujar perempuan 70 tahun itu ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.

Rasimah mengatakan, setelah dirinya tiada, Sarpik, 45, anak pertamanya yang akan meneruskan usaha membuat penganan dari gulungan tanah yang dibakar setengah matang tersebut. Sarpik siap melanjutkan tongkat es ta fet pembuat ampo di Traulan.

Sejak kecil, dia sudah diajak memproduksi dan mewarisi ilmu kuno membuat ampo. Rasimah menuturkan, penjualan ampo sejak dulu tak berubah. Yakni di pasar tradisional. Salah satunya Pasar Baru Tuban. Sekali waktu, pesanan diterima dari pedagang Pasar Bojonegoro. Per kilogramnya, ampo dijual dengan harga Rp 10 ribu.

Baca Juga :  Pedagang Berdatangan, Ramai Warga Penasaran Jembatan Bojonegoro-Blora

Untuk mendapatkan tanah untuk bahan baku membuat ampo, nenek lima anak ini mengaku tak kesulitan. Di desanya tanah liat cukup melimpah. Rasimah menuturkan, tanah liat yang dipilih untuk membuat ampo tidak sembarangan. Tanah harus bersih. Tidak boleh ada gumpalan kerikil sedikit pun.

Untuk memproduksi sangat mudah. Wartawan koran ini yang menunggui, melihat Rasimah mengolah segumpal tanah hingga benar-benar padat. Setelah itu, dengan sebilah bambu, dia memotong tipis tipis gumpalan tanah liat tersebut menjadi gulungan. Setelah itu, tanah gulung tersebut dipanggang.

Ampo merupakan penganan tradisional yang dikonsumsi sejumlah masyarakat di Tuban untuk camilan. Sebagian mengonsumsi untuk obat. Antara lain, mengobati gatal-gatal dan sakit panas. Entah, apa kandungan dalam tanah ini, sehingga dipercaya sebagian masyarakat bisa mengobati penyakit tertentu. (dik)

Baca Juga :  Jalan Wisata Rusak, Pemkab Janji perbaiki Segera

Radar Tuban – Ampo atau penganan dari tanah yang diproduksi turun-temurun warga di Dusun Traulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding sampai kini masih lestari. Rasimah adalah satu-satunya pembuat ampo yang masih bertahan di tengah gerusan zaman.

Dia adalah generasi keempat pembuat penganan yang dianggap masyarakat umum tak lazim tersebut. ‘’Sehari bisa membuat hingga 15 kilogram,’’ ujar perempuan 70 tahun itu ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.

Rasimah mengatakan, setelah dirinya tiada, Sarpik, 45, anak pertamanya yang akan meneruskan usaha membuat penganan dari gulungan tanah yang dibakar setengah matang tersebut. Sarpik siap melanjutkan tongkat es ta fet pembuat ampo di Traulan.

Sejak kecil, dia sudah diajak memproduksi dan mewarisi ilmu kuno membuat ampo. Rasimah menuturkan, penjualan ampo sejak dulu tak berubah. Yakni di pasar tradisional. Salah satunya Pasar Baru Tuban. Sekali waktu, pesanan diterima dari pedagang Pasar Bojonegoro. Per kilogramnya, ampo dijual dengan harga Rp 10 ribu.

Baca Juga :  Imbau Pengusaha Hotel Tak Naikkan Tarif

Untuk mendapatkan tanah untuk bahan baku membuat ampo, nenek lima anak ini mengaku tak kesulitan. Di desanya tanah liat cukup melimpah. Rasimah menuturkan, tanah liat yang dipilih untuk membuat ampo tidak sembarangan. Tanah harus bersih. Tidak boleh ada gumpalan kerikil sedikit pun.

Untuk memproduksi sangat mudah. Wartawan koran ini yang menunggui, melihat Rasimah mengolah segumpal tanah hingga benar-benar padat. Setelah itu, dengan sebilah bambu, dia memotong tipis tipis gumpalan tanah liat tersebut menjadi gulungan. Setelah itu, tanah gulung tersebut dipanggang.

Ampo merupakan penganan tradisional yang dikonsumsi sejumlah masyarakat di Tuban untuk camilan. Sebagian mengonsumsi untuk obat. Antara lain, mengobati gatal-gatal dan sakit panas. Entah, apa kandungan dalam tanah ini, sehingga dipercaya sebagian masyarakat bisa mengobati penyakit tertentu. (dik)

Baca Juga :  Pedagang Berdatangan, Ramai Warga Penasaran Jembatan Bojonegoro-Blora

Artikel Terkait

Most Read

Pemprov Pantau Pansel Sekda

25 Desa Minta Bantuan Air

Artikel Terbaru


/