alexametrics
26.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Temukan Anak Dipaksa Menikah Dini

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Anak dipaksa menikah dini oleh orang tua. Fenomena ini menjadi temuan penelitian terhadap masyarakat berada di kantong kemiskinan. Alasan utamanya, karena faktor ekonomi dengan terkendala biaya hidup.
Pernikahan dini masih menjadi problem sosial. Hingga awal Desember ini pengajuan dispensasi kawin (diska) mencapai 593 anak. Dari jumlah itu terdapat dua kecamatan mendominasi yakni Kedungadem dan Tambakrejo. Dua kecamatan itu masuk program pengentasan kemiskinan.
Faktor ekonomi dan pendidikan mendominasi pengajuan diska.  “Kami pernah melakukan penelitian terkait diska di salah satu kecamatan kantong kemiskinan, memang rerata mereka dari keluaraga tidak mampu secara ekonomi. Berlatar belakang pendidikan rendah,” tutur Rismawati koordinator daerah Yayasan Kesehatan Perempuan.
Risma mengatakan, kondisi perekonomian dan pendidikan berpengaruh besar pada pernikahan anak. Disusul sosial dan budaya masyarakat. Tentu pernikahan dini bisa diminimalisir, salah satunya dengan pendekatan menyasar ke kantong-kantong kemiskinan. “Apalagi saat ini juga ada program sarjana desa dan pengentasan kemiskinan ekstrem,” tuturnya.
Pernikahan dini perlu ditekan angkanya. Sebab ada dampak kesehatan dan psikologi anak yang dinikahkan dini. Saat penelitian, pihaknya menemukan, anak yang dipaksa orang tua menikah. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, “Mereka mempunyai utang,” tuturnya.
Ketua Panitera Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro Solikhin Jamik menjelaskan, kemiskinan berkorelasi dengan banyaknya pengaju diska di suatu wilayah. Ia memaparkan terdapat empat kecamatan mempunyai jumlah pengaju diska terbanyak. Yakni Kecamatan Kedungadem 57 anak, Ngasem 44 anak, Dander 42 anak, Tambakrejo 38 anak, dan Sumberrejo 33 anak.
Dua kecamatan tersebut, ada yang masuk dalam program pengentasan kemiskinan ekstrem. Tentu, menurut Solikhin, diharapkan program pengentasan berjalan maksimal. Daerah kantong kemiskinan tiap tahun menjadi penyumbang pengaju diska terbanyak.
“Program tersebut bagus untuk meminimalisir pengaju diska di kantong kemiskinan,” tuturnya.
Menurut dia, pengajuan diska berlatar belakang ekonomi menjadi alasan umum. Penanganan kemiskinan dapat memperkecil pengajuan diska. Biasanya orang tua ingin cepat menikahkan anak. Terkendala biaya hidup. Juga faktor pendidikan menyumbang tingginya angka diska. “Keadaan perekonomian yang mendorong orang tua, padahal menikahkan anak di usia muda cukup berisiko,” terangnya.
Solikhin mengatakan, tahun ini pengaju diska mencapai 593 anak dengan didominasi pendidikan SMP tertinggi. Yakni mecapai 304 pengaju. Sedangkan pendidikan SMA ada 201 anak. SD 80 anak dan tidak sekolah 8 anak. “Pendidikan menentukan pemahaman masyarakat tentang pernikahan ideal,” jelasnya. (luk)

Baca Juga :  Pasang Dua Sirene Banjir

Potret Nikah Dini Cukup Berisiko
-Angka dispensasi menikah tembus 593 pengajuan.
-Didominasi pendidikan SMP 304 pengajuan.
-Pendidikan SMA 201 orang.
-SD 80 orang dan tidak sekolah 8 orang.
-Berada di daerah kantong kemiskinan, Kecamatan Kedungadem, Ngasem, Dander, Tambakrejo, Sumberrejo.
-Orang tua memaksa nikah dini karena biaya hidup.
-Dengan menikah biaya ditanggung suaminya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Anak dipaksa menikah dini oleh orang tua. Fenomena ini menjadi temuan penelitian terhadap masyarakat berada di kantong kemiskinan. Alasan utamanya, karena faktor ekonomi dengan terkendala biaya hidup.
Pernikahan dini masih menjadi problem sosial. Hingga awal Desember ini pengajuan dispensasi kawin (diska) mencapai 593 anak. Dari jumlah itu terdapat dua kecamatan mendominasi yakni Kedungadem dan Tambakrejo. Dua kecamatan itu masuk program pengentasan kemiskinan.
Faktor ekonomi dan pendidikan mendominasi pengajuan diska.  “Kami pernah melakukan penelitian terkait diska di salah satu kecamatan kantong kemiskinan, memang rerata mereka dari keluaraga tidak mampu secara ekonomi. Berlatar belakang pendidikan rendah,” tutur Rismawati koordinator daerah Yayasan Kesehatan Perempuan.
Risma mengatakan, kondisi perekonomian dan pendidikan berpengaruh besar pada pernikahan anak. Disusul sosial dan budaya masyarakat. Tentu pernikahan dini bisa diminimalisir, salah satunya dengan pendekatan menyasar ke kantong-kantong kemiskinan. “Apalagi saat ini juga ada program sarjana desa dan pengentasan kemiskinan ekstrem,” tuturnya.
Pernikahan dini perlu ditekan angkanya. Sebab ada dampak kesehatan dan psikologi anak yang dinikahkan dini. Saat penelitian, pihaknya menemukan, anak yang dipaksa orang tua menikah. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, “Mereka mempunyai utang,” tuturnya.
Ketua Panitera Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro Solikhin Jamik menjelaskan, kemiskinan berkorelasi dengan banyaknya pengaju diska di suatu wilayah. Ia memaparkan terdapat empat kecamatan mempunyai jumlah pengaju diska terbanyak. Yakni Kecamatan Kedungadem 57 anak, Ngasem 44 anak, Dander 42 anak, Tambakrejo 38 anak, dan Sumberrejo 33 anak.
Dua kecamatan tersebut, ada yang masuk dalam program pengentasan kemiskinan ekstrem. Tentu, menurut Solikhin, diharapkan program pengentasan berjalan maksimal. Daerah kantong kemiskinan tiap tahun menjadi penyumbang pengaju diska terbanyak.
“Program tersebut bagus untuk meminimalisir pengaju diska di kantong kemiskinan,” tuturnya.
Menurut dia, pengajuan diska berlatar belakang ekonomi menjadi alasan umum. Penanganan kemiskinan dapat memperkecil pengajuan diska. Biasanya orang tua ingin cepat menikahkan anak. Terkendala biaya hidup. Juga faktor pendidikan menyumbang tingginya angka diska. “Keadaan perekonomian yang mendorong orang tua, padahal menikahkan anak di usia muda cukup berisiko,” terangnya.
Solikhin mengatakan, tahun ini pengaju diska mencapai 593 anak dengan didominasi pendidikan SMP tertinggi. Yakni mecapai 304 pengaju. Sedangkan pendidikan SMA ada 201 anak. SD 80 anak dan tidak sekolah 8 anak. “Pendidikan menentukan pemahaman masyarakat tentang pernikahan ideal,” jelasnya. (luk)

Baca Juga :  Dinkes Bojonegoro: Penetapan Istithaah Tunggu Kepastian Kuota Haji

Potret Nikah Dini Cukup Berisiko
-Angka dispensasi menikah tembus 593 pengajuan.
-Didominasi pendidikan SMP 304 pengajuan.
-Pendidikan SMA 201 orang.
-SD 80 orang dan tidak sekolah 8 orang.
-Berada di daerah kantong kemiskinan, Kecamatan Kedungadem, Ngasem, Dander, Tambakrejo, Sumberrejo.
-Orang tua memaksa nikah dini karena biaya hidup.
-Dengan menikah biaya ditanggung suaminya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/