alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Standar Kecantikan Picu Penyakit Mental

TUBAN, Radar Tuban – Di zaman sekarang ini, seakan-akan berkulit putih bersih dan berpostur ideal merupakan standar kecantikan. Didukung oleh pertumbuhan media sosial, hal tersebut kian menjadi-jadi. Tentu, aman bagi perempuan yang sudah berkulit putih bersih dan berpostur ideal dari genetika orang tua. Tapi bagi mereka yang tak punya genetika seperti itu, tak ayal menderita stres.
Salah seorang perempuan yang ditemui Jawa Pos Radar Tuban saat car free day (CFD) di GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban mengatakan, sangat kewalahan mengikuti standar tersebut. Dia minder melihat perempuan-perempuan lain yang sesuai standar kecantikan berseliweran di media sosial maupun di jalanan. Menurutnya, saat ini kecantikannya belum memenuhi standar umum. Hal tersebut menyebabkan dia terus berupaya mencapainya.
“Salah satunya jogging ini. Supaya berat badan ideal,” ungkap perempuan yang tak mau disebutkan namanya tersebut.
Dia bahkan menyampaikan, saat ini enggan memposting konten di media sosial. Menurutnya, hal tersebut tidak akan dilakukan sebelum mencapai standar kecantikan. Dia menghindari komentar-komentar yang menyakitkan.
“Mereka (komentator, Red) membanding-bandingkan. Lebih fatalnya, menghina fisik,” terangnya.
Wanita tersebut menyampaikan, komentar-komentar seperti itu sangat menjatuhkan mental. Menurutnya, hal tersebut membuat kepercayaan dan rasa syukur atas diri menjadi lenyap. Perempuan berumur 18 tahun itu mengungkapkan, saat ini menjadi perempuan betul-betul rumit.
Berpindah ke perempuan lain, wartawan koran ini mendapatkan narasumber yang tiga tahun lebih tua. Dari penampilannya, bisa dianggap sudah mencapai standar umum kecantikan. Ketika ditanya soal standar kecantikan, dia menjawab standar itu merupakan beban. Selama setahun, upaya dan biaya yang dikeluarkannya cukup besar.
“Jogging, diet, beli skincare,” beber perempuan yang mengaku bernama Anggraini itu.
Dari tiga itu, paling besar biayanya adalah skincare. Perempuan 21 tahun itu mengatakan, paling tidak dalam satu bulan dia mengeluarkan uang sekitar Rp 500–600 ribu. Mahasiswi di salah satu universitas swasta Surabaya itu mengemukakan, pemilihan skincare pun sangat rumit dan butuh waktu. Skincare tidak sekali beli langsung cocok dipakai. Kenangnya, dia harus mencoba-coba sesuai rekomendasi.
“Beli ini tak cocok, beli lagi yang lain. Uang keluar lagi,” keluhnya.
Dia menuturkan, standar kecantikan alangkah baik jika diikuti oleh mereka yang sudah berpenghasilan saja. Perempuan yang juga bekerja sebagai barista di Surabaya itu menyampaikan, standar kecantikan amat kejam. Pesannya, lebih baik menghindar jika belum waktunya. “Supaya tidak minder dan stres,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Anfuyatin menyampaikan, standar kecantikan memang jadi problem perempuan saat ini. “Memicu masalah mental,” terangnya.
Dia sepakat, perempuan yang berolahraga di seputaran GOR Rangga Jaya Anoraga tidak hanya untuk kesehatan. Perempuan yang pernah bertugas sebagai kepala bagian pelaporan RSUD dr R. Koesma itu menyampaikan, ada tujuan lain para perempuan di situ yakni untuk mencapai postur ideal. “Supaya good looking,” jelasnya.
Menghadapi hal tersebut, dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab, jangkauannya sangat luas. Standar kecantikan, upaya, dan dampak para perempuan mencapainya terjadi di semua tempat dan lini. Anfujatin hanya berpesan, perempuan hendaknya melawan standar tersebut. Menurutnya, yang lebih penting dari good looking adalah inner beauty atau kecantikan dari dalam.
“Cantik doang, kalau tindak-tanduknya tidak menenteramkan hati pasangannya untuk apa?” tuturnya sambil tersenyum. (sab)

Baca Juga :  Mengetuk Pintu Surga

TUBAN, Radar Tuban – Di zaman sekarang ini, seakan-akan berkulit putih bersih dan berpostur ideal merupakan standar kecantikan. Didukung oleh pertumbuhan media sosial, hal tersebut kian menjadi-jadi. Tentu, aman bagi perempuan yang sudah berkulit putih bersih dan berpostur ideal dari genetika orang tua. Tapi bagi mereka yang tak punya genetika seperti itu, tak ayal menderita stres.
Salah seorang perempuan yang ditemui Jawa Pos Radar Tuban saat car free day (CFD) di GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban mengatakan, sangat kewalahan mengikuti standar tersebut. Dia minder melihat perempuan-perempuan lain yang sesuai standar kecantikan berseliweran di media sosial maupun di jalanan. Menurutnya, saat ini kecantikannya belum memenuhi standar umum. Hal tersebut menyebabkan dia terus berupaya mencapainya.
“Salah satunya jogging ini. Supaya berat badan ideal,” ungkap perempuan yang tak mau disebutkan namanya tersebut.
Dia bahkan menyampaikan, saat ini enggan memposting konten di media sosial. Menurutnya, hal tersebut tidak akan dilakukan sebelum mencapai standar kecantikan. Dia menghindari komentar-komentar yang menyakitkan.
“Mereka (komentator, Red) membanding-bandingkan. Lebih fatalnya, menghina fisik,” terangnya.
Wanita tersebut menyampaikan, komentar-komentar seperti itu sangat menjatuhkan mental. Menurutnya, hal tersebut membuat kepercayaan dan rasa syukur atas diri menjadi lenyap. Perempuan berumur 18 tahun itu mengungkapkan, saat ini menjadi perempuan betul-betul rumit.
Berpindah ke perempuan lain, wartawan koran ini mendapatkan narasumber yang tiga tahun lebih tua. Dari penampilannya, bisa dianggap sudah mencapai standar umum kecantikan. Ketika ditanya soal standar kecantikan, dia menjawab standar itu merupakan beban. Selama setahun, upaya dan biaya yang dikeluarkannya cukup besar.
“Jogging, diet, beli skincare,” beber perempuan yang mengaku bernama Anggraini itu.
Dari tiga itu, paling besar biayanya adalah skincare. Perempuan 21 tahun itu mengatakan, paling tidak dalam satu bulan dia mengeluarkan uang sekitar Rp 500–600 ribu. Mahasiswi di salah satu universitas swasta Surabaya itu mengemukakan, pemilihan skincare pun sangat rumit dan butuh waktu. Skincare tidak sekali beli langsung cocok dipakai. Kenangnya, dia harus mencoba-coba sesuai rekomendasi.
“Beli ini tak cocok, beli lagi yang lain. Uang keluar lagi,” keluhnya.
Dia menuturkan, standar kecantikan alangkah baik jika diikuti oleh mereka yang sudah berpenghasilan saja. Perempuan yang juga bekerja sebagai barista di Surabaya itu menyampaikan, standar kecantikan amat kejam. Pesannya, lebih baik menghindar jika belum waktunya. “Supaya tidak minder dan stres,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Anfuyatin menyampaikan, standar kecantikan memang jadi problem perempuan saat ini. “Memicu masalah mental,” terangnya.
Dia sepakat, perempuan yang berolahraga di seputaran GOR Rangga Jaya Anoraga tidak hanya untuk kesehatan. Perempuan yang pernah bertugas sebagai kepala bagian pelaporan RSUD dr R. Koesma itu menyampaikan, ada tujuan lain para perempuan di situ yakni untuk mencapai postur ideal. “Supaya good looking,” jelasnya.
Menghadapi hal tersebut, dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab, jangkauannya sangat luas. Standar kecantikan, upaya, dan dampak para perempuan mencapainya terjadi di semua tempat dan lini. Anfujatin hanya berpesan, perempuan hendaknya melawan standar tersebut. Menurutnya, yang lebih penting dari good looking adalah inner beauty atau kecantikan dari dalam.
“Cantik doang, kalau tindak-tanduknya tidak menenteramkan hati pasangannya untuk apa?” tuturnya sambil tersenyum. (sab)

Baca Juga :  PICU SEMANGAT RAIH PRESTSI DI PORPROV JATIM 2022

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/