alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

PPKM Mikro Jilid Tiga Diperpanjang Hingga 22 Maret

- Advertisement -

Radar Tuban – Pemerintah pusat kembali menetapkan Jawa Timur sebagai daerah yang wajib melakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Mengacu instruksi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Nomor 5 Tahun 2021, PPKM Mikro jilid tiga ini mulai diterapkan Selasa hari ini (9/3) hingga 22 Maret atau dua pekan.

Kepala Dinas Kesehatan (Din kes) Tuban Bambang Priyo Utomo menjelaskan mengacu surat dari Kemendagri, sementara diputuskan Tuban ikut dalam perpanjangan PPKM Mikro. Sebab, dalam surat tertulis perpanjangan PPKM Mikro berlaku untuk seluruh provinsi di Pulau Jawa dan beberapa provinsi lain. ‘’Mengacu surat tersebut, praktis Tuban ikut perpanjangan PPKM Mikro,’’ tuturnya.

Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan pertimbangan perpanjangan PPKM Mikro karena pemerintah menilai cukup efektif menekan angka penularan. Saat ini, pandemi di sejumlah provinsi mulai bisa dikendalikan. Agar lebih sempurna, PPKM Mikro tersebut diperpanjang. ‘’Pertimbangan perpanjangan PPKM Mikro agar Covid-19 semakin bisa dikendalikan,’’ ungkap dia.

Mantan Kepala Puskesmas Tambakboyo ini mengatakan kebijakan PPKM Mikro yang diatur oleh Kemendagri masih bersifat umum. Artinya peratu rannya tidak terlalu detail. Maka dari itu, untuk sementara tim Satgas Covid-19 Kabupaten Tuban masih menunggu aturan turunan dari SE Gubernur. ‘’Sementara mengacu surat dari Kemendagri, karena dari SE Gubernur belum ada,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Raperda Dana Abadi Harus Dikebut

Mengacu SE Mendagri, kata Bambang, PPKM Mikro yang ketiga ini hanya memperpanjang aturan sebelumnya. Seperti pembatasan karyawan yang bekerja di kantor maksimal 50 persen dari kuota. Selanjutnya kegiatan belajar tatap muka untuk semua jenjang juga belum diperbolehkan. ‘’Secara garis besar, poin PPKM Mikro masih seputar penanganan Covid-19 dan dampak ekonomi serta sosialnya,’’ terang dia.

- Advertisement -

Yang Sakit Tinggal 16 Pasien

Sementara itu, pelan tapi pasti, jumlah pasien dengan gejala sakit terus menurun. Hingga tadi malam, jumlah pasien dengan gejala sakit yang menjalani perawatan di rumah sakit tinggal 16 pasien. Ini menjadi perkembangan kasus Covid-19 di Tuban yang cukup positif. Sebab, satu diantara kekhawatiran tim satuan tugas (satgas) adalah munculnya pasien dengan gejala sakit.

Sejumlah rumah sakit yang merawat pasien Covid-19, sekarang sudah mulai bisa bernapas lega. Di RSUD Koesma, misalnya. Pasien dengan gejala sakit yang dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut tinggal empat orang. Di RSNU juga empat orang. Sedangkan di RS Medika Mulia dan RS Ali Manshur Jatirogo masing-masing tiga pasien.

Baca Juga :  Dirikan Gapura Bambu, Warga Jenu Tolak Kilang

Sisa dua pasien dirawat di RS Muhammadiyah Lamongan. ‘’Sejumlah rumah sakit akhirnya sedikit bisa bernapas lega,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Tuban Bambang Priyo Utomo.

Meski demikian, lagi-lagi Kabupaten Tuban belum bisa terlepas dari bayang-bayang pasien positif yang meninggal dunia. Setelah sempat dua hari berturut nihil kasus pasien meninggal, kemarin (8/3) pasien meninggal kembali tercatat dua orang. Karena faktor pasien meninggal itulah, Kabupaten Tuban seakan masih kesulitan keluar dari zona oranye.

‘’Pasien meninggal itu salah satu indikator pertimbangan zona,’’ terang Bambang, yang ke marin mengikuti rapat virtual bersama Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur membahas perkembangan kasus Covid-19 di setiap kabupaten/kota. Pada bagian lain Bambang menyampaikan, untuk pertambahan kasus baru selama sehari kemarin kembali teregister 15 pasien berbanding kasus sembuh sebelas pasien.

Dengan demikian, total pasien Covid-19 di Tuban sampai saat ini sudah mencapai 3.264 pasien berbanding 2.840 kasus sembuh dan meninggal menjadi 355 kasus. ‘’Total yang masih dirawat sebanyak 69 pasien,’’ tandas Bambang.

Radar Tuban – Pemerintah pusat kembali menetapkan Jawa Timur sebagai daerah yang wajib melakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Mengacu instruksi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Nomor 5 Tahun 2021, PPKM Mikro jilid tiga ini mulai diterapkan Selasa hari ini (9/3) hingga 22 Maret atau dua pekan.

Kepala Dinas Kesehatan (Din kes) Tuban Bambang Priyo Utomo menjelaskan mengacu surat dari Kemendagri, sementara diputuskan Tuban ikut dalam perpanjangan PPKM Mikro. Sebab, dalam surat tertulis perpanjangan PPKM Mikro berlaku untuk seluruh provinsi di Pulau Jawa dan beberapa provinsi lain. ‘’Mengacu surat tersebut, praktis Tuban ikut perpanjangan PPKM Mikro,’’ tuturnya.

Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan pertimbangan perpanjangan PPKM Mikro karena pemerintah menilai cukup efektif menekan angka penularan. Saat ini, pandemi di sejumlah provinsi mulai bisa dikendalikan. Agar lebih sempurna, PPKM Mikro tersebut diperpanjang. ‘’Pertimbangan perpanjangan PPKM Mikro agar Covid-19 semakin bisa dikendalikan,’’ ungkap dia.

Mantan Kepala Puskesmas Tambakboyo ini mengatakan kebijakan PPKM Mikro yang diatur oleh Kemendagri masih bersifat umum. Artinya peratu rannya tidak terlalu detail. Maka dari itu, untuk sementara tim Satgas Covid-19 Kabupaten Tuban masih menunggu aturan turunan dari SE Gubernur. ‘’Sementara mengacu surat dari Kemendagri, karena dari SE Gubernur belum ada,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dirikan Gapura Bambu, Warga Jenu Tolak Kilang

Mengacu SE Mendagri, kata Bambang, PPKM Mikro yang ketiga ini hanya memperpanjang aturan sebelumnya. Seperti pembatasan karyawan yang bekerja di kantor maksimal 50 persen dari kuota. Selanjutnya kegiatan belajar tatap muka untuk semua jenjang juga belum diperbolehkan. ‘’Secara garis besar, poin PPKM Mikro masih seputar penanganan Covid-19 dan dampak ekonomi serta sosialnya,’’ terang dia.

- Advertisement -

Yang Sakit Tinggal 16 Pasien

Sementara itu, pelan tapi pasti, jumlah pasien dengan gejala sakit terus menurun. Hingga tadi malam, jumlah pasien dengan gejala sakit yang menjalani perawatan di rumah sakit tinggal 16 pasien. Ini menjadi perkembangan kasus Covid-19 di Tuban yang cukup positif. Sebab, satu diantara kekhawatiran tim satuan tugas (satgas) adalah munculnya pasien dengan gejala sakit.

Sejumlah rumah sakit yang merawat pasien Covid-19, sekarang sudah mulai bisa bernapas lega. Di RSUD Koesma, misalnya. Pasien dengan gejala sakit yang dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut tinggal empat orang. Di RSNU juga empat orang. Sedangkan di RS Medika Mulia dan RS Ali Manshur Jatirogo masing-masing tiga pasien.

Baca Juga :  Ali, Pendonor Plasma Terbanyak Ketiga se-Indonesia

Sisa dua pasien dirawat di RS Muhammadiyah Lamongan. ‘’Sejumlah rumah sakit akhirnya sedikit bisa bernapas lega,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Tuban Bambang Priyo Utomo.

Meski demikian, lagi-lagi Kabupaten Tuban belum bisa terlepas dari bayang-bayang pasien positif yang meninggal dunia. Setelah sempat dua hari berturut nihil kasus pasien meninggal, kemarin (8/3) pasien meninggal kembali tercatat dua orang. Karena faktor pasien meninggal itulah, Kabupaten Tuban seakan masih kesulitan keluar dari zona oranye.

‘’Pasien meninggal itu salah satu indikator pertimbangan zona,’’ terang Bambang, yang ke marin mengikuti rapat virtual bersama Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur membahas perkembangan kasus Covid-19 di setiap kabupaten/kota. Pada bagian lain Bambang menyampaikan, untuk pertambahan kasus baru selama sehari kemarin kembali teregister 15 pasien berbanding kasus sembuh sebelas pasien.

Dengan demikian, total pasien Covid-19 di Tuban sampai saat ini sudah mencapai 3.264 pasien berbanding 2.840 kasus sembuh dan meninggal menjadi 355 kasus. ‘’Total yang masih dirawat sebanyak 69 pasien,’’ tandas Bambang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/