alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Pancing Penggunaan Teknologi Emposan Elpiji

H. Setiajit, SH MM kian dekat dengan masyarakat bawah, khususnya kalangan petani. Setiap kali mendengar keluhan petani, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu selalu turun langsung ke sawah. Mendengar jeritan petani dan memberikan solusi. 

JARUM jam baru menunjukkan pukul 07.00 saat Setiajit menyusuri jalan usaha tani (JUT) Desa Tegalsari, Kecamatan Widang. Sepagi itu, persis di simpang JUT puluhan petani sudah menunggu. Mereka berharap kedatangan salah satu bakal calon bupati (bacabup) itu membawa asa atas mewabahnya hama tikus di desanya. 

Setelah menyalami hangat satu per satu petani, dia langsung mengecek kesiapan peralatan gropyokan masal tikus yang dibawa. Pagi itu, Setiaji sudah siap terjun ke sawah memimpin gropyokan. Dia mengenakan pakaian lapangan. Berkaus biru muda, bercelana hitam, bersepatu kets, dan bertopi putih.

Ketika memimpin pemberantasan hama tikus di desa bagian timur wilayah Tuban tersebut, birokrat asal Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak itu membawa lima unit emposan elpiji berikut belerangnya. 

Emposan elpiji yang dibawa Setiajit ke Tegalsari itu bukan teknologi baru  pemberantasan hama tikus. Teknologi tersebut sudah dimanfaatkan petani di kabupaten lain. Hanya saja, di Tuban masih terbilang baru. Karena itulah, dia berharap emposan elpiji tersebut bisa menjadi teknologi alternatif untuk pemberantasan hawa tikus di Bumi Wali. 

Baca Juga :  99.155 Remaja Tuban Telah Terdata Vaksin

Setelah peralatan siap, Setiajit langsung mengomando. Sambil berjalan di pematang, dia ikut menenteng tabung elpiji dan pemantik apinya. Sementara petani lain yang menyertai mengoperasikan emposan dan memeriksa lubang. Lubang-lubang itulah yang dimasuki belereng dan kemudian dibakar dengan emposan elpiji. Setelah lubang-lubang itu diasapi belereng, sejumlah tikus keluar dalam kondisi klenger. Selebihnya berlari keluar lubang. Petani lain yang menyertainya bertugas mengejar dan membasmi. Selama mantan Pjs bupati Jombang itu memimpin tim kecil, empat kelompok petani lain mengoperasikan emposan lainnya. 

Sebelumnya, petani Tegalsari yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Tirto Makmur memanfaatkan teknologi pestisida dan pembuatan rumah burung hantu. Hanya saja, dua teknologi tersebut belum sepenuhnya mampu memberantas hawa tikus yang kian mengganas. 

Setiajit menegaskan, teknologi emposan elpiji tersebut sangat murah, efektif, dan tidak merusak alam. ”Mudah-mudahan, apa yang saya berikan ini bermanfaat,” kata dia. 

Selain ikhtiar duniawi, Setiajit juga mengajak petani untuk berikhtiar ukhrawi dengan berdoa kepada Allah. 

Dia kemudian mencontohkan sawah milik  Pengasuh Ponpes Nurussalam Gomang, Singgahan KH KPP Noer Nasroh Hadiningrat. Ketika sawah lain di sekitarnya diserang hama tikus, lahan pertanian milik kiai tersebut sama sekali tidak disentuh tikus. ”Ketika saya tanya, beliau menjawab kuncinya hanya doa,” ujar mantan kepala Bakorwil II Bojonegoro itu. Doa tersebut dipimpin modin setempat, Samsul Anam.

Baca Juga :  Menikmati Malam di Alun-Alun

Ketika berada di tengah petani, Setiajit juga membuka dialog dengan menanyakan problem lain yang dihadapi petani. Salah satu petani menyampaikan, hama berikutnya yang siap menyongsong adalah putihan. Karena itu, dia berharap petani Tegalsari dibantu pengendaliannya.

Kepala Desa Tegalsari Supriyono mengatakan, hama tikus menyerang lahan sawah di desanya seluas 315 hektare (ha) sejak mulai pembenihan pada akhir Desember. Seperti tahun-tahun sebelumnya, serangan hama binatang pengerat tersebut diperkirakan berlangsung hingga April. ”Mudah-mudahan bantuan  ini bermanfaat untuk petani,” kata dia yang memberikan apresiasi atas perhatian Setiajit kepada petani di desanya. Sementara itu, Amir Syahri, kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat menambahkan, kalau peralatan tersebut efektif memberantas tikus, maka akan dilanjutkan. Dia juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan perhatian Setiajit kepada petani.

Tegalsari adalah desa ke sekian yang didatangi mantan kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jatim itu. Sebelumnya, Setiajit menemui petani di Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan dan Desa/Kecamatan Bangilan. Juga petani Desa Cendoro, Kecamatan Palang dan Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek.

Di desa-desa tersebut, dia membantu obat-obatan pertanian hingga rumah burung hantu untuk menanggulangi berbagai macam serangan hama. Mulai ulat grayak, belalang, sundep, dan tikus.(ds)

H. Setiajit, SH MM kian dekat dengan masyarakat bawah, khususnya kalangan petani. Setiap kali mendengar keluhan petani, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu selalu turun langsung ke sawah. Mendengar jeritan petani dan memberikan solusi. 

JARUM jam baru menunjukkan pukul 07.00 saat Setiajit menyusuri jalan usaha tani (JUT) Desa Tegalsari, Kecamatan Widang. Sepagi itu, persis di simpang JUT puluhan petani sudah menunggu. Mereka berharap kedatangan salah satu bakal calon bupati (bacabup) itu membawa asa atas mewabahnya hama tikus di desanya. 

Setelah menyalami hangat satu per satu petani, dia langsung mengecek kesiapan peralatan gropyokan masal tikus yang dibawa. Pagi itu, Setiaji sudah siap terjun ke sawah memimpin gropyokan. Dia mengenakan pakaian lapangan. Berkaus biru muda, bercelana hitam, bersepatu kets, dan bertopi putih.

Ketika memimpin pemberantasan hama tikus di desa bagian timur wilayah Tuban tersebut, birokrat asal Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak itu membawa lima unit emposan elpiji berikut belerangnya. 

Emposan elpiji yang dibawa Setiajit ke Tegalsari itu bukan teknologi baru  pemberantasan hama tikus. Teknologi tersebut sudah dimanfaatkan petani di kabupaten lain. Hanya saja, di Tuban masih terbilang baru. Karena itulah, dia berharap emposan elpiji tersebut bisa menjadi teknologi alternatif untuk pemberantasan hawa tikus di Bumi Wali. 

Baca Juga :  Cetak Generasi Berprestasi , Inovatif, Unggul, dan Berdaya Saing Tinggi

Setelah peralatan siap, Setiajit langsung mengomando. Sambil berjalan di pematang, dia ikut menenteng tabung elpiji dan pemantik apinya. Sementara petani lain yang menyertai mengoperasikan emposan dan memeriksa lubang. Lubang-lubang itulah yang dimasuki belereng dan kemudian dibakar dengan emposan elpiji. Setelah lubang-lubang itu diasapi belereng, sejumlah tikus keluar dalam kondisi klenger. Selebihnya berlari keluar lubang. Petani lain yang menyertainya bertugas mengejar dan membasmi. Selama mantan Pjs bupati Jombang itu memimpin tim kecil, empat kelompok petani lain mengoperasikan emposan lainnya. 

Sebelumnya, petani Tegalsari yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Tirto Makmur memanfaatkan teknologi pestisida dan pembuatan rumah burung hantu. Hanya saja, dua teknologi tersebut belum sepenuhnya mampu memberantas hawa tikus yang kian mengganas. 

Setiajit menegaskan, teknologi emposan elpiji tersebut sangat murah, efektif, dan tidak merusak alam. ”Mudah-mudahan, apa yang saya berikan ini bermanfaat,” kata dia. 

Selain ikhtiar duniawi, Setiajit juga mengajak petani untuk berikhtiar ukhrawi dengan berdoa kepada Allah. 

Dia kemudian mencontohkan sawah milik  Pengasuh Ponpes Nurussalam Gomang, Singgahan KH KPP Noer Nasroh Hadiningrat. Ketika sawah lain di sekitarnya diserang hama tikus, lahan pertanian milik kiai tersebut sama sekali tidak disentuh tikus. ”Ketika saya tanya, beliau menjawab kuncinya hanya doa,” ujar mantan kepala Bakorwil II Bojonegoro itu. Doa tersebut dipimpin modin setempat, Samsul Anam.

Baca Juga :  Setiap Mendengar Keluhan Masyarakat, Selalu Turun dan Memberikan Solus

Ketika berada di tengah petani, Setiajit juga membuka dialog dengan menanyakan problem lain yang dihadapi petani. Salah satu petani menyampaikan, hama berikutnya yang siap menyongsong adalah putihan. Karena itu, dia berharap petani Tegalsari dibantu pengendaliannya.

Kepala Desa Tegalsari Supriyono mengatakan, hama tikus menyerang lahan sawah di desanya seluas 315 hektare (ha) sejak mulai pembenihan pada akhir Desember. Seperti tahun-tahun sebelumnya, serangan hama binatang pengerat tersebut diperkirakan berlangsung hingga April. ”Mudah-mudahan bantuan  ini bermanfaat untuk petani,” kata dia yang memberikan apresiasi atas perhatian Setiajit kepada petani di desanya. Sementara itu, Amir Syahri, kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat menambahkan, kalau peralatan tersebut efektif memberantas tikus, maka akan dilanjutkan. Dia juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan perhatian Setiajit kepada petani.

Tegalsari adalah desa ke sekian yang didatangi mantan kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jatim itu. Sebelumnya, Setiajit menemui petani di Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan dan Desa/Kecamatan Bangilan. Juga petani Desa Cendoro, Kecamatan Palang dan Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek.

Di desa-desa tersebut, dia membantu obat-obatan pertanian hingga rumah burung hantu untuk menanggulangi berbagai macam serangan hama. Mulai ulat grayak, belalang, sundep, dan tikus.(ds)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/