alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Sumur Minyak Tua di Kecamatan Kedewan

Tetap Menambang, Meskipun Produksi Berkurang

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Susunan kayu berbentuk piramid masih tampak eksotis, para penambang minyak bumi di Desa Hargomulyo dan Wonocolo, Kecamatan Kedewan tampak akrab dengan mesin klantung dan suara disel yang mengggema.

 

Walaupun persediaan minyak semakin berkurang, beberapa warga tetap mengggantungkan hidupnya dari menambang di sumur tua bekas Belanda itu.

Jiarto, salah satu buruh di salah satu sumur minyak masih telaten menggeser kelantung yang dikemudikan temannya. Meskipun matahari mulai terbenam,  dirinya belum beranjak dari tempat kerjanya. Jika produksi sudah mulai berkurang, hingga perlu menambah waktu uuntuk bekerja.

 

“Dibandingkan lima tahunan lalu, saat ini produksi semakin turun,” tuturnya.

Ia sudah bekerja selama 13 tahun di pertambangan minyak tradisional tersebut, karena salah satu sumber kehidupan keluarganya. Perharinya sumur tempat ia bekerja dapat menhasilkan sekitar 800 liter minyak mentah. Sedangkan untuk distribusi minyak, selain menjual ke Pertamina, juga menjual kepada pengepul. “Sebagian juga dikonsumsi sendiri,” terangnya.

Baca Juga :  Tak Hasilkan PAD, DPRD Dorong Pemkab Untuk Segera Sewakan Hotel GDK

 

Menurutnya, beberapa warga masih mengggantungkan hidup dari minyak bumi, walaupun beberapa orang sudah beralih ke pertanian dan generasi muda memilih keluar kota untuk merantau. “Waktu minyak masih melimpah, banyak yang bekerja menjadi buruh penambang,” kenangnya.

 

Muhsin warga Dusun Dangilo menambahkan, membantu ayahnya untuk berkirim minyak di Pertamina, melalui perusahaan resmi milik daerah.

 

Sedangkan, bagi para investor yang ingin membuka sumur baru perlu menggandeng  kelompok. Hal itu sudah menjadi syarat yang harus dipenuhi. “Pekerjanya harus dari warga desa setempat,” jelasnya.

 

Parman, salah satu pengolah minyak di Desa/Kecamatan Kedewan mengaku pasokan minyak mentah dari proses  klantungan di Desa Hargomulyo. Pihaknya hanya dapat mengolah menjadi bahan bakar solar. Dirinya juga mengaku sudah ada penggepul tetap yang mengambil minyak saat minyak selesai dimasak. “Proses penyulingan minyak mentah seperti masak air, diambil uapnya. Per drum dihargai Rp 1 juta lebih,” terangnya.

Baca Juga :  Selama PPKM Tanpa Pemasukan, Seniman Desak Solusi dari Pemkab

 

Perlu diketahui, sejak 1945, warga sudah mendapatkan surat resmi pengelolaan dari Presiden Soekarno. Saat ini surat tersebut masih disimpan sesepuh desa.

 

Salah satu orang yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku, bertugas mengirim pasokan hasil minyak olahan oleh bosnya, untuk bisa melakukan distribusi ke luar daerah, harus merogoh kocek untuk diberikan kepada salah satu oknum. (luk/msu)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Susunan kayu berbentuk piramid masih tampak eksotis, para penambang minyak bumi di Desa Hargomulyo dan Wonocolo, Kecamatan Kedewan tampak akrab dengan mesin klantung dan suara disel yang mengggema.

 

Walaupun persediaan minyak semakin berkurang, beberapa warga tetap mengggantungkan hidupnya dari menambang di sumur tua bekas Belanda itu.

Jiarto, salah satu buruh di salah satu sumur minyak masih telaten menggeser kelantung yang dikemudikan temannya. Meskipun matahari mulai terbenam,  dirinya belum beranjak dari tempat kerjanya. Jika produksi sudah mulai berkurang, hingga perlu menambah waktu uuntuk bekerja.

 

“Dibandingkan lima tahunan lalu, saat ini produksi semakin turun,” tuturnya.

Ia sudah bekerja selama 13 tahun di pertambangan minyak tradisional tersebut, karena salah satu sumber kehidupan keluarganya. Perharinya sumur tempat ia bekerja dapat menhasilkan sekitar 800 liter minyak mentah. Sedangkan untuk distribusi minyak, selain menjual ke Pertamina, juga menjual kepada pengepul. “Sebagian juga dikonsumsi sendiri,” terangnya.

Baca Juga :  Jumlah Penghulu di Bojonegoro Kurang, Bisa Berdampak Pada Pelayanan

 

Menurutnya, beberapa warga masih mengggantungkan hidup dari minyak bumi, walaupun beberapa orang sudah beralih ke pertanian dan generasi muda memilih keluar kota untuk merantau. “Waktu minyak masih melimpah, banyak yang bekerja menjadi buruh penambang,” kenangnya.

 

Muhsin warga Dusun Dangilo menambahkan, membantu ayahnya untuk berkirim minyak di Pertamina, melalui perusahaan resmi milik daerah.

 

Sedangkan, bagi para investor yang ingin membuka sumur baru perlu menggandeng  kelompok. Hal itu sudah menjadi syarat yang harus dipenuhi. “Pekerjanya harus dari warga desa setempat,” jelasnya.

 

Parman, salah satu pengolah minyak di Desa/Kecamatan Kedewan mengaku pasokan minyak mentah dari proses  klantungan di Desa Hargomulyo. Pihaknya hanya dapat mengolah menjadi bahan bakar solar. Dirinya juga mengaku sudah ada penggepul tetap yang mengambil minyak saat minyak selesai dimasak. “Proses penyulingan minyak mentah seperti masak air, diambil uapnya. Per drum dihargai Rp 1 juta lebih,” terangnya.

Baca Juga :  Debit Naik Turun, Awasi Rumah Warga Rentan Longsor

 

Perlu diketahui, sejak 1945, warga sudah mendapatkan surat resmi pengelolaan dari Presiden Soekarno. Saat ini surat tersebut masih disimpan sesepuh desa.

 

Salah satu orang yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku, bertugas mengirim pasokan hasil minyak olahan oleh bosnya, untuk bisa melakukan distribusi ke luar daerah, harus merogoh kocek untuk diberikan kepada salah satu oknum. (luk/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Pelaku Ilegal Loging Masih Buron

Stan Tutup Akan Ditertibkan

Ditahan karena Tersangka Pembunuhan

Artikel Terbaru

/