alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Menerobos Mendung Gelap, Menemui, dan Membantu Petani 

H. Setiajit, SH MM kian dekat dengan masyarakat bawah, khususnya kalangan petani. Setiap kali mendengar keluhan petani, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu selalu turun langsung ke sawah. Menempatkan diri sebagai bapak yang siap mendengar jeritan petani dan memberikan solusi. 

Di tengah cuaca mendung gelap, kemarin (6/2) sore, dia masih menyempatkan menemui puluhan petani di Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan dan Desa/Kecamatan Bangilan. Tanpa canggung sedikit pun, Setiajit turun ke sawah, meski pematang sawah masih becek setelah sebelumnya diguyur hujan. 

Dia juga sama sekali tak menyingsingkan batik coklat lengan panjang dan celana hitamnya. Sandal selopnya pun dibiarkan berlepotan lumpur. Bahkan, ketika gerimis tipis menyambutnya saat turun di persawahan Bangilan, dia tidak meminta payung. 

Masih mengenakan kopiah hitam, dia ikut memanggul rumah burung hantu bersama petani. Melintasi jembatan dan menyusuri pematang sawah. Menggotong dan ikut membantu mendirikan rumah burung hantu selalu dilakukan mantan 

Pjs bupati Jombang itu setiap kali menyalurkan bantuannya tersebut. Setelah rumah burung hantu berdiri, dia mengajak petani tos bersama yang bermakna persahabatan dan kebersamaan.

Baca Juga :  Tanamkan Pemahaman Pancasila dan NKRI kepada Masyarakat

Singgahan dan Bangilan adalah kecamatan ketiga dan keempat yang didatangi dan dibantu Setiajit. Sebelumnya, dia membantu problem yang sama dan dihadapi petani di Desa Cendoro, Kecamatan Palang dan Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek.

”Saya lebih banyak mendengar keluhan mereka. Beri informasi, saya akan turun,” tegas dia yang berharap petani tidak boleh miskin dan harus bisa panen. 

Merajalelanya hama yang menyerang lahan pertanian di Kedungjambe memang mendesak untuk dibantu. Joko Fatkur, petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Singgahan mengatakan, dari total lahan sawah di Kedungjambe seluas 151 hektare (ha), 25 ha di antaranya rentan terserang hama tikus. Bintang pengerat tersebut, kata dia, menyerang persawahan mulai persemaian sekitar awal Januari. 

Begitu juga di Bangilan. Maman, petugas POPT Kecamatan Bangilan 

menyampaikan, dari 35 hektare lahan pertanian di Desa/Kecamatan Bangilan, 25 ha di antaranya terserang tikus. 

Baca Juga :  Pancing Penggunaan Teknologi Emposan Elpiji

Di kedua desa tersebut, Setiajit menyalurkan bantuan masing-masing 3 unit rumah burung hantu dan 25 kg obat pembasmi tikus untuk luas lahan 25 ha.  

Sunar, salah satu petani Kedungjambe mengungkapkan syukurnya atas bantuan sarana produksi pertanian tersebut. ”Pemimpin yang tanggap dan mau turun  ke lapangan yang kami harapkan,” tutur pria 55 tahun itu yang kemudian memberikan predikat Setiajit sebagai bapaknya petani. Kozim, petani lain menambahkan, sejak  puluhan tahun petani di desa setempat tidak menerima bantuan sarana produksi pertanian dari pemerintah. 

”Tentu ini sangat melegakan dan membantu kami,” ujar dia. 

Setiap kali mendapat keluhan petani terkait hama tikus, Setiajit selalu 

membantu rumah burung hantu. Dengan bantuan tersebut setidaknya dia berusaha menyeimbangkan ekosistem alam sekitar yang rusak. Dengan menghadirkan burung predator pemangsa tikus tersebut, sebuah solusi pemberantasan hama tikus untuk jangka panjang sudah diciptakan. Sementara obat-obatan pembasmi hanya solusi jangka pendek.(ds)

H. Setiajit, SH MM kian dekat dengan masyarakat bawah, khususnya kalangan petani. Setiap kali mendengar keluhan petani, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim itu selalu turun langsung ke sawah. Menempatkan diri sebagai bapak yang siap mendengar jeritan petani dan memberikan solusi. 

Di tengah cuaca mendung gelap, kemarin (6/2) sore, dia masih menyempatkan menemui puluhan petani di Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan dan Desa/Kecamatan Bangilan. Tanpa canggung sedikit pun, Setiajit turun ke sawah, meski pematang sawah masih becek setelah sebelumnya diguyur hujan. 

Dia juga sama sekali tak menyingsingkan batik coklat lengan panjang dan celana hitamnya. Sandal selopnya pun dibiarkan berlepotan lumpur. Bahkan, ketika gerimis tipis menyambutnya saat turun di persawahan Bangilan, dia tidak meminta payung. 

Masih mengenakan kopiah hitam, dia ikut memanggul rumah burung hantu bersama petani. Melintasi jembatan dan menyusuri pematang sawah. Menggotong dan ikut membantu mendirikan rumah burung hantu selalu dilakukan mantan 

Pjs bupati Jombang itu setiap kali menyalurkan bantuannya tersebut. Setelah rumah burung hantu berdiri, dia mengajak petani tos bersama yang bermakna persahabatan dan kebersamaan.

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, BPJAMSOSTEK Aktifkan Protokol Lapak Asik

Singgahan dan Bangilan adalah kecamatan ketiga dan keempat yang didatangi dan dibantu Setiajit. Sebelumnya, dia membantu problem yang sama dan dihadapi petani di Desa Cendoro, Kecamatan Palang dan Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek.

”Saya lebih banyak mendengar keluhan mereka. Beri informasi, saya akan turun,” tegas dia yang berharap petani tidak boleh miskin dan harus bisa panen. 

Merajalelanya hama yang menyerang lahan pertanian di Kedungjambe memang mendesak untuk dibantu. Joko Fatkur, petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Singgahan mengatakan, dari total lahan sawah di Kedungjambe seluas 151 hektare (ha), 25 ha di antaranya rentan terserang hama tikus. Bintang pengerat tersebut, kata dia, menyerang persawahan mulai persemaian sekitar awal Januari. 

Begitu juga di Bangilan. Maman, petugas POPT Kecamatan Bangilan 

menyampaikan, dari 35 hektare lahan pertanian di Desa/Kecamatan Bangilan, 25 ha di antaranya terserang tikus. 

Baca Juga :  300 Mahasiswa di Bojonegoro Ajukan Beasiswa Tugas Akhir

Di kedua desa tersebut, Setiajit menyalurkan bantuan masing-masing 3 unit rumah burung hantu dan 25 kg obat pembasmi tikus untuk luas lahan 25 ha.  

Sunar, salah satu petani Kedungjambe mengungkapkan syukurnya atas bantuan sarana produksi pertanian tersebut. ”Pemimpin yang tanggap dan mau turun  ke lapangan yang kami harapkan,” tutur pria 55 tahun itu yang kemudian memberikan predikat Setiajit sebagai bapaknya petani. Kozim, petani lain menambahkan, sejak  puluhan tahun petani di desa setempat tidak menerima bantuan sarana produksi pertanian dari pemerintah. 

”Tentu ini sangat melegakan dan membantu kami,” ujar dia. 

Setiap kali mendapat keluhan petani terkait hama tikus, Setiajit selalu 

membantu rumah burung hantu. Dengan bantuan tersebut setidaknya dia berusaha menyeimbangkan ekosistem alam sekitar yang rusak. Dengan menghadirkan burung predator pemangsa tikus tersebut, sebuah solusi pemberantasan hama tikus untuk jangka panjang sudah diciptakan. Sementara obat-obatan pembasmi hanya solusi jangka pendek.(ds)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/