alexametrics
24 C
Bojonegoro
Saturday, May 28, 2022

Dilema Wacana Penghapusan Minyak Curah

TUBAN, Radar Tuban – Peredaran minyak curah mulai tahun depan dilarang. Acuannya, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 36 Tahun 2020. Minyak yang menjadi tumpuan industri masyarakat menengah ke bawah itu akan dihapus peredarannya di pasaran. Melansir berita dari laman ews.kemendag.go.id, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan berasumsi harga minyak goreng curah sangat bergantung pada kenaikan harga minyak sawit. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah memutuskan tahun depan hanya minyak goreng kemasan yang boleh beredar.
“Per 1 Januari 2022 besok, minyak goreng curah tak boleh beredar di pasaran,” ujarnya.
Oke Nurwan menuturkan, harga minyak goreng kemasan relatif bisa dikendalikan. Pasalnya, minyak goreng kemasan bisa diproduksi lebih dulu. Selain itu, dapat disimpan jangka panjang. Jika minyak sawit mengalami kenaikan, maka dampaknya tidak langsung dirasakan konsumen. Dia mengemukakan, saat ini negara yang mengggunakan minyak curah hanya dua, yakni Indonesia dan Bangladesh.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban, Agus Wijaya mengaku sampai saat ini masih menunggu sosialisasi atas kebijakan pemerintah pusat tersebut. Permendag tersebut, menurut dia, belum diiringi dengan arahan untuk ditindaklanjuti di tingkat bawah. “Petunjuk teknisnya belum ada,” ujar Agus saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (5/12).
Agus menjelaskan, dalam kondisi seperti ini pihaknya tidak bisa melakukan intervensi. Artinya, kondisi ini langsung bersumber dan menjadi otoritas kebijakan dari pusat.  Namun, dalam menghadapi kondisi ini instansinya rutin melakukan pemantauan harga minyak curah. Dia mengatakan, pemantauan harga dilakukan setiap hari. Kemarin, harga minyak curah di Pasar Baru Tuban terpantau Rp 19 ribu per kilogram/liter. Melihat data dari Sistem Ketersediaan dan Perekembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jawa Timur, harga tersebut sesuai untuk Kabupaten Tuban.
Berbeda di Pasar Kecamatan Jatirogo, salah satu pedagang melepas minyak curah di harga Rp 17 ribu. Pedagang yang tak mau disebutkan namanya ini mengatakan, menyambut wacana pelarangan minyak curah, dia ingin menghabiskan stok yang tersisa sekitar dua drum.
“Jual lebih murah. Setelah habis, tidak kulakan lagi,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di lapaknya kemarin.
Wasiati, pedagang lainnya mengaku tetap menjual dengan harga pasar. Dia akan menghabiskan stok tapi dengan cara biasa. Terkait wacana pelarangan minyak curah, kata dia, sebagai pedagang wajib hukumnya mematuhi peraturan. “Tidak mungkin saya menjual barang terlarang,” ujarnya.
Kepatuhan tersebut, menurut dia, sebagai bukti warga negara yang baik. Untuk kerugian karena satu item dagangannya berkurang, itu tidak jadi masalah. Menurutnya, kerugian tersebut bisa ditutup oleh keuntungan dari item dagangan yang lain. ”Yang mesakne (kasihan, Red) justru konsumen kami,” tuturnya.
Dia mengatakan, selama ini konsumennya banyak yang mengeluh terkait hal ini. Konsumennya yang rerata pengusaha kerupuk terang-terangan meminta kepada pemerintah supaya wacana tersebut dibatalkan.
Salah seorang pengusaha kerupuk di Jatirogo yang sedang membeli minyak curah di lapak Wasiati menegaskan sangat keberatan dengan kebijakan penghapusan minyak curah.
”Akan sangat kewalahan kalau menggoreng kerupuk menggunakan minyak kemasan,” ujar pengusaha kerupuk mengaku bernama Rohmah tersebut.
Pasalnya, dia pesimistis harga minyak kemasan akan terkendali. Dalam hal ini dia memastikan, harga minyak kemasan tak akan semurah minyak curah biasanya. Dia bahkan berkelakar jika nantinya minyak curah betul-betul dihapus dan harga minyak kemasan tak terjangkau, usahanya beralih. Atau, tetap penggorengan kerupuk, tapi kembali menggunakan pasir seperti 5–10 tahun yang lalu. ”Dengan imbas, produksi menurun tajam,” keluhnya. (sab)

Baca Juga :  Status Bengawan Masih Normal

TUBAN, Radar Tuban – Peredaran minyak curah mulai tahun depan dilarang. Acuannya, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 36 Tahun 2020. Minyak yang menjadi tumpuan industri masyarakat menengah ke bawah itu akan dihapus peredarannya di pasaran. Melansir berita dari laman ews.kemendag.go.id, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan berasumsi harga minyak goreng curah sangat bergantung pada kenaikan harga minyak sawit. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah memutuskan tahun depan hanya minyak goreng kemasan yang boleh beredar.
“Per 1 Januari 2022 besok, minyak goreng curah tak boleh beredar di pasaran,” ujarnya.
Oke Nurwan menuturkan, harga minyak goreng kemasan relatif bisa dikendalikan. Pasalnya, minyak goreng kemasan bisa diproduksi lebih dulu. Selain itu, dapat disimpan jangka panjang. Jika minyak sawit mengalami kenaikan, maka dampaknya tidak langsung dirasakan konsumen. Dia mengemukakan, saat ini negara yang mengggunakan minyak curah hanya dua, yakni Indonesia dan Bangladesh.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban, Agus Wijaya mengaku sampai saat ini masih menunggu sosialisasi atas kebijakan pemerintah pusat tersebut. Permendag tersebut, menurut dia, belum diiringi dengan arahan untuk ditindaklanjuti di tingkat bawah. “Petunjuk teknisnya belum ada,” ujar Agus saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (5/12).
Agus menjelaskan, dalam kondisi seperti ini pihaknya tidak bisa melakukan intervensi. Artinya, kondisi ini langsung bersumber dan menjadi otoritas kebijakan dari pusat.  Namun, dalam menghadapi kondisi ini instansinya rutin melakukan pemantauan harga minyak curah. Dia mengatakan, pemantauan harga dilakukan setiap hari. Kemarin, harga minyak curah di Pasar Baru Tuban terpantau Rp 19 ribu per kilogram/liter. Melihat data dari Sistem Ketersediaan dan Perekembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jawa Timur, harga tersebut sesuai untuk Kabupaten Tuban.
Berbeda di Pasar Kecamatan Jatirogo, salah satu pedagang melepas minyak curah di harga Rp 17 ribu. Pedagang yang tak mau disebutkan namanya ini mengatakan, menyambut wacana pelarangan minyak curah, dia ingin menghabiskan stok yang tersisa sekitar dua drum.
“Jual lebih murah. Setelah habis, tidak kulakan lagi,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di lapaknya kemarin.
Wasiati, pedagang lainnya mengaku tetap menjual dengan harga pasar. Dia akan menghabiskan stok tapi dengan cara biasa. Terkait wacana pelarangan minyak curah, kata dia, sebagai pedagang wajib hukumnya mematuhi peraturan. “Tidak mungkin saya menjual barang terlarang,” ujarnya.
Kepatuhan tersebut, menurut dia, sebagai bukti warga negara yang baik. Untuk kerugian karena satu item dagangannya berkurang, itu tidak jadi masalah. Menurutnya, kerugian tersebut bisa ditutup oleh keuntungan dari item dagangan yang lain. ”Yang mesakne (kasihan, Red) justru konsumen kami,” tuturnya.
Dia mengatakan, selama ini konsumennya banyak yang mengeluh terkait hal ini. Konsumennya yang rerata pengusaha kerupuk terang-terangan meminta kepada pemerintah supaya wacana tersebut dibatalkan.
Salah seorang pengusaha kerupuk di Jatirogo yang sedang membeli minyak curah di lapak Wasiati menegaskan sangat keberatan dengan kebijakan penghapusan minyak curah.
”Akan sangat kewalahan kalau menggoreng kerupuk menggunakan minyak kemasan,” ujar pengusaha kerupuk mengaku bernama Rohmah tersebut.
Pasalnya, dia pesimistis harga minyak kemasan akan terkendali. Dalam hal ini dia memastikan, harga minyak kemasan tak akan semurah minyak curah biasanya. Dia bahkan berkelakar jika nantinya minyak curah betul-betul dihapus dan harga minyak kemasan tak terjangkau, usahanya beralih. Atau, tetap penggorengan kerupuk, tapi kembali menggunakan pasir seperti 5–10 tahun yang lalu. ”Dengan imbas, produksi menurun tajam,” keluhnya. (sab)

Baca Juga :  Tuntut DPRD Bojonegoro Kawal Aspirasi ke DPR RI

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/