alexametrics
25.3 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Peternak Lele di Bojonegoro, Kosongkan Kolam Akibat Pakan Mahal

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Para peternak ikan lele memilih tidak menebar benih, akibat harga pakan yang mahal.  Sementara, harga lele di pasaran tidak mengalami kenaikan. Sehingga ketika memaksa menebar benih akan berisiko rugi.

 

Edy Waluyo peternak lele asal Desa Kunci, Kecamatan Dander mengatakan, peternak di wilayahnya memilih tidak menebar benih akibat harga pakan dari pabrik terus naik. Ketika menggunakan pakan lain, hasilnya tak maksimal.

 

Edy menjelaskan harga pakan lele kini mencapai Rp 350 ribu per sak, sebelumnya hanya Rp 305 ribu. Sehingga ketika memaksakan menebar benih keuntungan sedikit bahkan bisa merugi. Kondisi itu, menurut Edy, memilih mengosongkan sebagian kolamnya. Total 18 kolam lele dikosongkan, karena harga pakan naik sedangkan harga lele di pasaran tidak mengalami perubahan.

 

“Tidak masalah pakan naik, namun harga lele juga harusnya naik,” harapnya.

 

Saat ini, harga lele dari peternak di Bojonegoro hanya Rp 15.000 per kilogram (kg) hingga Rp 16.000. Berbeda dengan harga di kota/kabupaten  lain mencapai Rp 17.000 per kilogram. “Peternak lele di Kabupaten Ngajuk bisa mencapai Rp 17.500 per kilogram,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemerintah Belum Putuskan Kelanjutan Bantuan Subsidi Upah

 

Rohmat Ketua Kelompok Budidaya Ikan Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor mengatakan, awal Ramadan ada peningkatan permintaan ikan lele. Namun stok di petani justru menipis, akibat banyak tidak menebar benih. “Karena banyak yang rugi, sehingga gulung tikar,” ungkapnya.

 

Menurut Rohmat, sekitar 10 peternak di kelompoknya memilih tidak menebar benih. Saat ini yang menebar benih hanya peternak lele yang mendapat alternatif pakan. “Untuk memenuhi permintaan pasar mengambil stok dari luar,” ujarnya.

 

Koordinator Penyuluh Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Wisnu membenarkan harga pakan dari pabrik naik dan sudah berlangsung lama. Tahun ini menjadi kenaikan harga kali kedua.

 

Wisnu menjelaskan pembudidaya banyak menggunakan pakan pabrik. Bahan-bahan pakan berasal dari luar negeri sehingga kenaikan bahan baku berpengaruh dengan harga. Untuk mengatasinya, pembudidaya bisa membuat pakan mandiri sesuai program kementerian. Tentu menggunakan bahan baku di sekitar. Namun di Bojonegoro belum berjalan maksimal.

Baca Juga :  Semua Kendaraan yang Melintasi Jembatan Glendeng Dialihkan ke Ponco

 

“Karena kesulitan bahan baku diinginkan. Akibat harus membeli dalam skala besar,” ujarnya.

 

Selain itu pembudidaya ikan bisa mencampur pakan pabrik dengan pakan tambahan bahan-bahan sekitar, seperti bekicot. Sehingga hanya membeli pakan pabrik separo dari kebutuhan. “Bisa menekan biaya,” terangnya.

 

Pihaknya mengaku sudah memfasilitasi pembuatan pakan mandiri di beberapa kelompok pembudidaya ikan. Namun tidak bisa berjalan, karena bahan baku tidak setiap musim ada.

 

Kabid Perikanan Disnakkan Wiwik Sulistyo akan memfasilitasi pakan ikan, bagi pembudidaya membutuhkan. Pakan bersubsidi harga lebih murah. Kendalanya tidak semua pembudidaya sesuai pakan tersebut. “Harus pesan terlebih dulu,” ujarnya. (irv/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Para peternak ikan lele memilih tidak menebar benih, akibat harga pakan yang mahal.  Sementara, harga lele di pasaran tidak mengalami kenaikan. Sehingga ketika memaksa menebar benih akan berisiko rugi.

 

Edy Waluyo peternak lele asal Desa Kunci, Kecamatan Dander mengatakan, peternak di wilayahnya memilih tidak menebar benih akibat harga pakan dari pabrik terus naik. Ketika menggunakan pakan lain, hasilnya tak maksimal.

 

Edy menjelaskan harga pakan lele kini mencapai Rp 350 ribu per sak, sebelumnya hanya Rp 305 ribu. Sehingga ketika memaksakan menebar benih keuntungan sedikit bahkan bisa merugi. Kondisi itu, menurut Edy, memilih mengosongkan sebagian kolamnya. Total 18 kolam lele dikosongkan, karena harga pakan naik sedangkan harga lele di pasaran tidak mengalami perubahan.

 

“Tidak masalah pakan naik, namun harga lele juga harusnya naik,” harapnya.

 

Saat ini, harga lele dari peternak di Bojonegoro hanya Rp 15.000 per kilogram (kg) hingga Rp 16.000. Berbeda dengan harga di kota/kabupaten  lain mencapai Rp 17.000 per kilogram. “Peternak lele di Kabupaten Ngajuk bisa mencapai Rp 17.500 per kilogram,” ujarnya.

Baca Juga :  Predator Seksual asal Ngraho Divonis 10 Tahun Penjara

 

Rohmat Ketua Kelompok Budidaya Ikan Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor mengatakan, awal Ramadan ada peningkatan permintaan ikan lele. Namun stok di petani justru menipis, akibat banyak tidak menebar benih. “Karena banyak yang rugi, sehingga gulung tikar,” ungkapnya.

 

Menurut Rohmat, sekitar 10 peternak di kelompoknya memilih tidak menebar benih. Saat ini yang menebar benih hanya peternak lele yang mendapat alternatif pakan. “Untuk memenuhi permintaan pasar mengambil stok dari luar,” ujarnya.

 

Koordinator Penyuluh Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Wisnu membenarkan harga pakan dari pabrik naik dan sudah berlangsung lama. Tahun ini menjadi kenaikan harga kali kedua.

 

Wisnu menjelaskan pembudidaya banyak menggunakan pakan pabrik. Bahan-bahan pakan berasal dari luar negeri sehingga kenaikan bahan baku berpengaruh dengan harga. Untuk mengatasinya, pembudidaya bisa membuat pakan mandiri sesuai program kementerian. Tentu menggunakan bahan baku di sekitar. Namun di Bojonegoro belum berjalan maksimal.

Baca Juga :  Ada Kerugian Rp 644 Juta, Eks Kades Sitiaji Ditahan

 

“Karena kesulitan bahan baku diinginkan. Akibat harus membeli dalam skala besar,” ujarnya.

 

Selain itu pembudidaya ikan bisa mencampur pakan pabrik dengan pakan tambahan bahan-bahan sekitar, seperti bekicot. Sehingga hanya membeli pakan pabrik separo dari kebutuhan. “Bisa menekan biaya,” terangnya.

 

Pihaknya mengaku sudah memfasilitasi pembuatan pakan mandiri di beberapa kelompok pembudidaya ikan. Namun tidak bisa berjalan, karena bahan baku tidak setiap musim ada.

 

Kabid Perikanan Disnakkan Wiwik Sulistyo akan memfasilitasi pakan ikan, bagi pembudidaya membutuhkan. Pakan bersubsidi harga lebih murah. Kendalanya tidak semua pembudidaya sesuai pakan tersebut. “Harus pesan terlebih dulu,” ujarnya. (irv/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/