29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Wujud Pengabdian Masyarakat oleh UPN “Veteran” Jatim dan ITATS

Inovasi Pertanian untuk KUD Sedya Mulya

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Di tengah pandemi Covid-19, koperasi dituntut lebih kreatif dan responsif terhadap perkembangan dunia usaha. Lewat modernisasi dalam bentuk teknologi digital, koperasi diyakini bisa menjalankan strategi bisnis dengan lebih efektif dan efisien tanpa menghilangkan karakteristiknya.

 

Koperasi Unit Desa (KUD) Sedya Mulya Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno telah memiliki berbagai layanan jasa dan penjualan produk.

 

Dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur Prodi Agribisnis, Teguh Soedarto dan Dosen Prodi Informatika Firza Prima Aditiawan beserta dosen Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) Gusti Eka Yuliastuti berkolaborasi dalam program pengabdian kepada masyarakat di Bojonegoro dengan tema Digitalisasi Usaha Koperasi Unit Desa Sedya Mulya. Kegiatan berlangsung pada Agustus 2022, selaras dengan program pemerintah mendorong transformasi koperasi.

Baca Juga :  Fokus Nakes di Bojonegoro, Belum Menyasar Masyarakat Umum
- Advertisement -

 

Teguh Soedarto mengatakan, beras adalah salah satu produk pertanian yang merupakan makanan pokok masyarakat di Indonesia. Dengan tingginya produksi beras di Kabupaten Bojonegoro, tentunya harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik.

 

Di Kabupaten Bojonegoro pemasaran padi atau beras masih menggunakan cara tradisional. Bahkan sebagian besar petani lebih memilih menjual hasil pertanian kepada tengkulak. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kemudahan dalam menjual produk pertanian mereka meskipun dengan resiko harga jualnya rendah.

 

‘’Petani masih kesulitan untuk memasarkan produk pertanian mereka secara langsung, karena keterbatasan pengetahuan dan informasi,’’ ungkap dosen Agribisnis tersebut.

 

Teguh menambahkan, dari halaman website Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, harga jual beras IR 64 di Koperasi Sedya Mulya masih terbilang rendah yakni Rp 7.000 per kilogram.

Baca Juga :  Sering Dikucilkan, Ubah Rasa Duka Jadi Karya

 

Hal ini terbilang cukup jauh jika dibandingkan harga beras di pasar online, rata-rata diatas Rp 10.000 per kilogramnya.

 

Dengan demikian, penjualan beras ini di luar daerah Bojonegoro sangat menjanjikan. Untuk itu, KUD Sedya Mulya membutuhkan inovasi teknologi informasi agar dapat memasarkan produk pertanian secara luas, dan tidak hanya menjangkau wilayah lokal.

 

Melihat potensi pemasaran secara online tersebut, Koperasi Sedya Mulya berpeluang turut serta dalam program Go Online dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis web yang bisa diakses dari mana saja dan kapan saja. ‘’Dengan petani bisa menjual hasil panennya secara langsung ke konsumen, harapannya kesejahteraan petani bisa meningkat,’’ tutupnya. (tih/*)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Di tengah pandemi Covid-19, koperasi dituntut lebih kreatif dan responsif terhadap perkembangan dunia usaha. Lewat modernisasi dalam bentuk teknologi digital, koperasi diyakini bisa menjalankan strategi bisnis dengan lebih efektif dan efisien tanpa menghilangkan karakteristiknya.

 

Koperasi Unit Desa (KUD) Sedya Mulya Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno telah memiliki berbagai layanan jasa dan penjualan produk.

 

Dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur Prodi Agribisnis, Teguh Soedarto dan Dosen Prodi Informatika Firza Prima Aditiawan beserta dosen Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) Gusti Eka Yuliastuti berkolaborasi dalam program pengabdian kepada masyarakat di Bojonegoro dengan tema Digitalisasi Usaha Koperasi Unit Desa Sedya Mulya. Kegiatan berlangsung pada Agustus 2022, selaras dengan program pemerintah mendorong transformasi koperasi.

Baca Juga :  Pepeng Putra Wirawan Ketua PSMTI Jatim
- Advertisement -

 

Teguh Soedarto mengatakan, beras adalah salah satu produk pertanian yang merupakan makanan pokok masyarakat di Indonesia. Dengan tingginya produksi beras di Kabupaten Bojonegoro, tentunya harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik.

 

Di Kabupaten Bojonegoro pemasaran padi atau beras masih menggunakan cara tradisional. Bahkan sebagian besar petani lebih memilih menjual hasil pertanian kepada tengkulak. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kemudahan dalam menjual produk pertanian mereka meskipun dengan resiko harga jualnya rendah.

 

‘’Petani masih kesulitan untuk memasarkan produk pertanian mereka secara langsung, karena keterbatasan pengetahuan dan informasi,’’ ungkap dosen Agribisnis tersebut.

 

Teguh menambahkan, dari halaman website Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, harga jual beras IR 64 di Koperasi Sedya Mulya masih terbilang rendah yakni Rp 7.000 per kilogram.

Baca Juga :  Dakwaan Rampung, Satu Kasus Korupsi Siap Disidangkan

 

Hal ini terbilang cukup jauh jika dibandingkan harga beras di pasar online, rata-rata diatas Rp 10.000 per kilogramnya.

 

Dengan demikian, penjualan beras ini di luar daerah Bojonegoro sangat menjanjikan. Untuk itu, KUD Sedya Mulya membutuhkan inovasi teknologi informasi agar dapat memasarkan produk pertanian secara luas, dan tidak hanya menjangkau wilayah lokal.

 

Melihat potensi pemasaran secara online tersebut, Koperasi Sedya Mulya berpeluang turut serta dalam program Go Online dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis web yang bisa diakses dari mana saja dan kapan saja. ‘’Dengan petani bisa menjual hasil panennya secara langsung ke konsumen, harapannya kesejahteraan petani bisa meningkat,’’ tutupnya. (tih/*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Raperda Pesantren di Meja DPRD

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan


/