alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Empat Bulan Pendapatan BPHTB Tembus Rp 5,2 Miliar

Jual Beli Tanah di Bojonegoro Meroket

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Transaksi jual beli tanah di Bojonegoro cukup tinggi. Itu terlihat tingginya pendapatan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) empat bulan terakhir. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro mencatat empat bulan ini pendapatan dari BPHTB mencapai Rp 5,2 miliar.

 

Kepala Bapenda Bojonegoro Ibnu Soeyoeti menjelaskan, tahun ini instansinya menargetkan pendapatan BPHTB mencapai Rp 12,9 miliar. Target cukup tinggi karena tahun lalu perolehan BPHTP mencapai Rp 12,3 miliar. ‘’Tahun ini targetnya tidak jauh beda dengan realiasi tahun lalu,’’ jelasnya.

 

Pendapatan BPHTB diperoleh dari aktivitas jual beli tanah di notaris. Setiap transaksi jual beli tanah di notaris dikenai pajak. Semakin banyak aktivitasnya, pajak semakin banyak. ‘’Kami mengenakan pajak itu di notaris. Bukan di pembelinya,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Baca Juga :  Gelar Penyuluhan dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis 

Tingginya perolehan BPHTB itu, lanjut Ibnu, menunjukkan bahwa aktivitas jual beli lahan di Bojonegoro cukup tinggi. Meskipun masih kondisi pandemi. Hanya, pihaknya tidak hafal jumlahnya per bulan. Namun, nilai transaksinya mencapai puluhan miliar.

 

Ibnu melanjutkan, harga lahan di Bojonegoro memang mahal. Bahkan, per meternya bisa mencapai Rp 2 juta. Harga itu sama seperti harga lahan di kota-kota besar seperti Surabaya. Namun, tidak semua lahan di Bojonegoro mahal. ‘’Di sejumlah lokasi masih terjangkau. Terutama yang jauh dari kota,’’ jelasnya.

 

Selain faktor dekat pusat kota, faktor kandungan minyak dan gas (migas) juga menjadi penentu harga. Tidak heran lahan dekat pengeboran minyak bumi dan gas (migas) harga jualnya tinggi. ‘’Meskipun tinggi banyak yang beli,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pilkades 10 Desa dengan Selisih Tipis

 

Kasi Sengketa Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bojonegoro Agus Susanto mengatakan, pemohonan sertifikat tanah di Bojonegoro cukup tinggi. Sehari ada belasan hingga puluhan yang mengajukan. ‘’Kalau pendaftaran memang ramai setiap harinya,’’ jelasnya.

 

Dia melanjutkan, sebelum masuk ke BPN, jual beli tanah berlangsung di notaris. Setelah proses jual belinya disahkan di notaris, selanjutnya pengurusan sertifikatnya baru ke BPN setempat. (zim/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Transaksi jual beli tanah di Bojonegoro cukup tinggi. Itu terlihat tingginya pendapatan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) empat bulan terakhir. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro mencatat empat bulan ini pendapatan dari BPHTB mencapai Rp 5,2 miliar.

 

Kepala Bapenda Bojonegoro Ibnu Soeyoeti menjelaskan, tahun ini instansinya menargetkan pendapatan BPHTB mencapai Rp 12,9 miliar. Target cukup tinggi karena tahun lalu perolehan BPHTP mencapai Rp 12,3 miliar. ‘’Tahun ini targetnya tidak jauh beda dengan realiasi tahun lalu,’’ jelasnya.

 

Pendapatan BPHTB diperoleh dari aktivitas jual beli tanah di notaris. Setiap transaksi jual beli tanah di notaris dikenai pajak. Semakin banyak aktivitasnya, pajak semakin banyak. ‘’Kami mengenakan pajak itu di notaris. Bukan di pembelinya,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Baca Juga :  Estafet Pelebaran Jalan Balen-Sroyo

Tingginya perolehan BPHTB itu, lanjut Ibnu, menunjukkan bahwa aktivitas jual beli lahan di Bojonegoro cukup tinggi. Meskipun masih kondisi pandemi. Hanya, pihaknya tidak hafal jumlahnya per bulan. Namun, nilai transaksinya mencapai puluhan miliar.

 

Ibnu melanjutkan, harga lahan di Bojonegoro memang mahal. Bahkan, per meternya bisa mencapai Rp 2 juta. Harga itu sama seperti harga lahan di kota-kota besar seperti Surabaya. Namun, tidak semua lahan di Bojonegoro mahal. ‘’Di sejumlah lokasi masih terjangkau. Terutama yang jauh dari kota,’’ jelasnya.

 

Selain faktor dekat pusat kota, faktor kandungan minyak dan gas (migas) juga menjadi penentu harga. Tidak heran lahan dekat pengeboran minyak bumi dan gas (migas) harga jualnya tinggi. ‘’Meskipun tinggi banyak yang beli,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Hasil ANBK Diperkirakan Keluar Maret

 

Kasi Sengketa Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bojonegoro Agus Susanto mengatakan, pemohonan sertifikat tanah di Bojonegoro cukup tinggi. Sehari ada belasan hingga puluhan yang mengajukan. ‘’Kalau pendaftaran memang ramai setiap harinya,’’ jelasnya.

 

Dia melanjutkan, sebelum masuk ke BPN, jual beli tanah berlangsung di notaris. Setelah proses jual belinya disahkan di notaris, selanjutnya pengurusan sertifikatnya baru ke BPN setempat. (zim/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Sewa Lahan Rugikan Warga Ngampel

Diparkir, Mobil Tertimpa Pohon

Petugas Tetap Masuk di Lebaran

Pemkab Bangga Terima Adiwiyata Nasional 

Artikel Terbaru


/