alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Tangis di Antara Puing-Puing Sisa Bangunan

TUBAN, Radar Tuban – Kebakaran Pasar Baru Tuban (PBT) pada Selasa (3/3) malam menyisakan trauma ribuan pedagang yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari pasar tradisional di Jalan Gajah Mada tersebut. Kini, mereka menunggu kejelasan nasib untuk menyambung hidup.
Setelah api berhasil dijinakkan kemarin (3/4) dini hari sekitar pukul 02.30, petugas kepolisian langsung memasang police line di sejumlah titik. Daerah pertama yang disterilkan adalah bagian tengah belakang. Deretan kios pakaian tersebut diduga menjadi titik pertama munculnya api.
Garis polisi juga dipasang di seluruh akses pintu masuk dan keluar. Petugas berjaga dan melarang siapa pun untuk mendekat. Meski sudah dilarang, sejumlah warga memaksa menerobos. Menyelinap melalui pintu-pintu kios di deretan terluar pasar. Sekitar pukul 05.30, belasan pemilik kios terlihat di berbagai sudut bekas kebakaran. Mengais sisa tumpukan puing-puing bangunan yang kondisinya hangus. Berharap ada barang tersisa yang bisa diselamatkan.
Begitu mengetahui tak ada satu pun benda tersisa, tangis mereka pecah.

Anggota keluarga yang mendampingi berusaha menenangkan. Tak ada kata lain, selain pasrah. ‘’Atusan yuto ilang, le… (ratusan juta sudah ludes, nak)’’ kata wanita paro baya pemilik salah satu kios pakaian yang berusaha ditenangkan anaknya. Demi kemanusiaan, Jawa Pos Radar Tuban tidak mengabadikan momen tangis dan traumatis tersebut.

Setengah jam berselang, petugas kepolisian dari Polres Tuban, Polsek Tuban, dan Polsek Semanding kembali meminta seluruh pasar disterilkan. Pemilik kios dan keluarganya yang mengais sisa barang berharga diminta keluar. Pertimbangan sterilisasi tersebut agar sisa kebakaran tak menimbulkan korban.

Baca Juga :  Kampanye Terbuka Ditiadakan, Tim Kampanye Dituntut Kreatif

Tak lama kemudian, dua unit mobil pemadam kebakaran tiba untuk mendinginkan sisa-sisa bara api. Begitu disemprot, asap mengepul pekat. Puing tembok yang masih berdiri ikut roboh.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono kemarin (4/3) sekitar pukul 07.00 memimpin penyisiran lokasi. Kepada wartawan koran ini, dia menunjukkan titik yang diduga menjadi sumber awal munculnya api. Di sekitar titik tersebut terdapat ima kios yang dikelilingi garis polisi. Agar tidak menghilangkan barang bukti, masyarakat termasuk tim pemadam kebakaran (damkar) dilarang melintas di area tersebut. ‘’Berdasarkan data kami ada 1.941 kios, hampir dua ribu yang habis terbakar,’’ tutur perwira lulusan Akpol 2000 itu.

Sebelumnya, Ruruh juga mendampingi Bupati Tuban Fathul Huda saat mengecek kebakaran pada Selasa (3/3) sekitar pukul 22.00. Saat itu, dia memberi penjelasan bahwa dugaan sementara penyebab kebakaran adalah akibat hubungan arus pendek atau korsleting. Saat kembali dikonfirmasi kemarin pagi, Ruruh menyampaikan penyebab pasti kebakaran menunggu hasil identifikasi tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim.

Kapan hasil labfor diketahui? Dia belum bisa memastikan. Selain olah tempat kejadian perkara (TKP), tim Polda Jatim juga mengumpulkan barang bukti. Tujuannya, memastikan apakah kebakaran tersebut murni kecelakaan atau sabotase oleh oknum tertentu.

Baca Juga :  MEWUJUDKAN GENERASI BERAKHLAK MULIA, BERPENGETAHUAN, DAN BERBUDAYA

Untuk titik-titik yang dipasangi garis polisi, Ruruh sudah meminta petugas untuk menjaga agar tidak didekati masyarakat. ‘’Sementara penyebabnya masih belum diketahui, masih dilakukan penyelidikan’’ tegasnya.

Tim Labfor Polda Jatim mulai turun ke TKP sejak kemarin sore. Hingga beberapa hari ke depan, mereka akan menyisir area pasar untuk menelisik penyebab kebakaran. Selain titik tengah belakang yang diduga menjadi sumber awal kobaran api, juga akan dilakukan penyelidikan di sektor lain. Seperti memastikan arus listrik di PBT saat awal terjadinya kebakaran. ‘’Menunggu hasil Labfor Polda Jatim dulu saja,’’ kata mantan Kapolres Madiun itu ketika ditanya lebih lanjut terkait hasil penyelidikan.

Terpisah, Topan Tanjung, pemilik lapak ayam potong yang juga saksi mata di tempat kejadian mengungkapkan, Selasa (3/3) sekitar pukul 20.00, setelah selesai mengantarkan ayam potong ke pelanggannya, dia mampir ke lapaknya. Keperluannya, untuk mengambil barang yang tertinggal. Saat itu tidak  terlihat hal yang mencurigakan. ‘’Semua baik-baik saja,’’ tutur dia.

Topan kali pertama mendapat kabar terbakarnya PBT dari salah seorang pedagang sekitar pukul 20.45. Begitu mendapat kabar, dia langsung menuju lapak miliknya di sisi selatan pasar. Setelah mengamankan beberapa barang dagangannya, pemuda yang tinggal di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang itu langsung membantu pemilik kios lain. Malam itu, dia mengaku mendapati seorang wanita tua pemilik kios sembako menangis meminta tolong mengungsikan barang dagangannya.

TUBAN, Radar Tuban – Kebakaran Pasar Baru Tuban (PBT) pada Selasa (3/3) malam menyisakan trauma ribuan pedagang yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari pasar tradisional di Jalan Gajah Mada tersebut. Kini, mereka menunggu kejelasan nasib untuk menyambung hidup.
Setelah api berhasil dijinakkan kemarin (3/4) dini hari sekitar pukul 02.30, petugas kepolisian langsung memasang police line di sejumlah titik. Daerah pertama yang disterilkan adalah bagian tengah belakang. Deretan kios pakaian tersebut diduga menjadi titik pertama munculnya api.
Garis polisi juga dipasang di seluruh akses pintu masuk dan keluar. Petugas berjaga dan melarang siapa pun untuk mendekat. Meski sudah dilarang, sejumlah warga memaksa menerobos. Menyelinap melalui pintu-pintu kios di deretan terluar pasar. Sekitar pukul 05.30, belasan pemilik kios terlihat di berbagai sudut bekas kebakaran. Mengais sisa tumpukan puing-puing bangunan yang kondisinya hangus. Berharap ada barang tersisa yang bisa diselamatkan.
Begitu mengetahui tak ada satu pun benda tersisa, tangis mereka pecah.

Anggota keluarga yang mendampingi berusaha menenangkan. Tak ada kata lain, selain pasrah. ‘’Atusan yuto ilang, le… (ratusan juta sudah ludes, nak)’’ kata wanita paro baya pemilik salah satu kios pakaian yang berusaha ditenangkan anaknya. Demi kemanusiaan, Jawa Pos Radar Tuban tidak mengabadikan momen tangis dan traumatis tersebut.

Setengah jam berselang, petugas kepolisian dari Polres Tuban, Polsek Tuban, dan Polsek Semanding kembali meminta seluruh pasar disterilkan. Pemilik kios dan keluarganya yang mengais sisa barang berharga diminta keluar. Pertimbangan sterilisasi tersebut agar sisa kebakaran tak menimbulkan korban.

Baca Juga :  Mengajak Anak Bermain di Taman

Tak lama kemudian, dua unit mobil pemadam kebakaran tiba untuk mendinginkan sisa-sisa bara api. Begitu disemprot, asap mengepul pekat. Puing tembok yang masih berdiri ikut roboh.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono kemarin (4/3) sekitar pukul 07.00 memimpin penyisiran lokasi. Kepada wartawan koran ini, dia menunjukkan titik yang diduga menjadi sumber awal munculnya api. Di sekitar titik tersebut terdapat ima kios yang dikelilingi garis polisi. Agar tidak menghilangkan barang bukti, masyarakat termasuk tim pemadam kebakaran (damkar) dilarang melintas di area tersebut. ‘’Berdasarkan data kami ada 1.941 kios, hampir dua ribu yang habis terbakar,’’ tutur perwira lulusan Akpol 2000 itu.

Sebelumnya, Ruruh juga mendampingi Bupati Tuban Fathul Huda saat mengecek kebakaran pada Selasa (3/3) sekitar pukul 22.00. Saat itu, dia memberi penjelasan bahwa dugaan sementara penyebab kebakaran adalah akibat hubungan arus pendek atau korsleting. Saat kembali dikonfirmasi kemarin pagi, Ruruh menyampaikan penyebab pasti kebakaran menunggu hasil identifikasi tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim.

Kapan hasil labfor diketahui? Dia belum bisa memastikan. Selain olah tempat kejadian perkara (TKP), tim Polda Jatim juga mengumpulkan barang bukti. Tujuannya, memastikan apakah kebakaran tersebut murni kecelakaan atau sabotase oleh oknum tertentu.

Baca Juga :  Keluhkan Pemadaman ketika Jam Produktif

Untuk titik-titik yang dipasangi garis polisi, Ruruh sudah meminta petugas untuk menjaga agar tidak didekati masyarakat. ‘’Sementara penyebabnya masih belum diketahui, masih dilakukan penyelidikan’’ tegasnya.

Tim Labfor Polda Jatim mulai turun ke TKP sejak kemarin sore. Hingga beberapa hari ke depan, mereka akan menyisir area pasar untuk menelisik penyebab kebakaran. Selain titik tengah belakang yang diduga menjadi sumber awal kobaran api, juga akan dilakukan penyelidikan di sektor lain. Seperti memastikan arus listrik di PBT saat awal terjadinya kebakaran. ‘’Menunggu hasil Labfor Polda Jatim dulu saja,’’ kata mantan Kapolres Madiun itu ketika ditanya lebih lanjut terkait hasil penyelidikan.

Terpisah, Topan Tanjung, pemilik lapak ayam potong yang juga saksi mata di tempat kejadian mengungkapkan, Selasa (3/3) sekitar pukul 20.00, setelah selesai mengantarkan ayam potong ke pelanggannya, dia mampir ke lapaknya. Keperluannya, untuk mengambil barang yang tertinggal. Saat itu tidak  terlihat hal yang mencurigakan. ‘’Semua baik-baik saja,’’ tutur dia.

Topan kali pertama mendapat kabar terbakarnya PBT dari salah seorang pedagang sekitar pukul 20.45. Begitu mendapat kabar, dia langsung menuju lapak miliknya di sisi selatan pasar. Setelah mengamankan beberapa barang dagangannya, pemuda yang tinggal di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang itu langsung membantu pemilik kios lain. Malam itu, dia mengaku mendapati seorang wanita tua pemilik kios sembako menangis meminta tolong mengungsikan barang dagangannya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/