alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Ekonomi Membaik, Penambahan Kasus Baru Tak Terbendung

Pemkab Tuban tetap bertahan pada kebijakan gas dan rem dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Yakni, menyeimbangkan antara pemulihan ekonomi dengan adaptasi kebiasaan baru—menerapkan protokol kesehatan. Namun, tampaknya tidak seimbang. Laju penularan Covid-19 di Tuban seperti tidak terkendali.

AHMAD ATHO’ILLAH, Tuban, Radar Tuban

Dimana pun berada Ari Tri Wahyuni selalu mengenakan masker, kecuali di rumah. Juga hampir tidak pernah lupa membawa hand sanitizer. Semua itu sudah menjadi kebiasaan baru sehari-hari. Keduanya— masker dan hand sanitizer sudah seperti handphone.

Di era digital seperti sekarang ini, lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan smartphone. Begitu juga di era new normal sekarang ini. Masker dan hand sanitizer sudah menjadi pelengkap dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sama halnya dengan handphone.

‘’Saat lupa membawa (dua perangkat masker dan hand sanitizer, Red), seperti ada yang mengganjal. Ada yang kurang—terasa tidak lengkap,’’ katanya. Ari—sapaan akrabnya, termasuk salah satu yang phobia terhadap Covid-19.

Saat pertama virus jenis SARS CoV-2 ini masuk Tuban, dia selalu berada dalam ruang yang tidak tenang. Ada semacam ketakutan yang selalu menyelimuti pikirannya. Pola hidupnya berubah total. Dari kebiasaan yang sering dilakukan hingga yang jarang dikerjakan pun berubah 180 derajat.

Baca Juga :  120 Pekerja Migran Indonesia Pulang Kampung ke Tuban

Rajin cuci tangan, menjaga pola makan, dan semakin rajin berolahraga. Tidak hanya itu, yang biasanya makan di luar—tempat makan, sekarang hampir tidak pernah. Yang biasanya selalu cipika-cipiki saat berjumpa teman karib, sekarang benar-benar menjaga jarak. Yang paling menyedihkan, sepanjang 2020 tidak ada cerita manis soal liburan.

‘’Ini yang membuat saya sedih. Saat kita menahan diri untuk tidak liburan agar tidak tertular virus, tapi di luar sana tempat-tempat wisata masih penuh sesak. Dan, seakan biasa saja. Ini yang membuat saya sedih,’’ keluhnya yang merasa sedih, karena selama ini dia benar-benar menerapkan protokol kesehatan dan menahan diri untuk tidak berkerumun.

Apa yang dirasakan Ari cukup beralasan. Bagaimana tidak, disaat pemerintah terus berupaya membangkitkan kembali perekonomian yang sempat terpuruk pada awal pandemi. Tetapi, di sisi lain, laju penularan virus korona seakan sudah los tidak lagi mampu direm.

Artinya, kebijakan gas dan rem yang di jalankan pemerintah ini sepertinya tidak seimbang. Ter lalu digas, sehingga sulit direm. Tentu, yang paling dita kutkan adalah rem blong.

Lalu sampai kapan Covid-19 ini akan berakhir? Ini merupakan pernyataan yang sudah umum bagi masyarakat yang sudah jenuh dan lelah menghadapi virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China itu. Apalagi, sekarang berkembang informasi bahwa Covid-19 telah bermutasi menjadi berbagai varian virus baru yang lebih mematikan dan dengan tingkat penularan yang lebih tinggi.

Baca Juga :  RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN TUBAN TAHUN 2021

Juru bicara satuan tugas (satgas) Covid-19 Tuban Endah Nurul Kumarijati mengakui, kebijakan gas dan rem memang dilematis. Terlebih, jika kebijakan tersebut tidak seimbang. Namun, lagi-lagi pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak. Sebab, ada dua tuntutan yang harus dijalankan secara bersamaan— menghidupkan kembali perekonomian dan berusaha keras mengendalikan laju penularan virus.

‘’Dan, tetap membuka tempat wisata adalah salah satu dari ke bijakan gas dan rem,’’ ujarnya. Sebagaimana diketahui, dalam sebulan terakhir ini di Tuban terjadi ledakan kasus positif baru yang luar biasa banyaknya.

Rerata per hari mencapai 40-50 kasus dengan tingkat kematian rerata 3-4 orang. Dan, saat ini angka kumulatif jumlah pasien positif di Tuban telah menembus 1.918 orang. Lalu, sampai kapan masalah dunia ini akan berakhir. Bagi Endah, ini merupakan pertanyaan yang amat sulit. Tidak ada jawaban yang bisa disampaikan. 

Pemkab Tuban tetap bertahan pada kebijakan gas dan rem dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Yakni, menyeimbangkan antara pemulihan ekonomi dengan adaptasi kebiasaan baru—menerapkan protokol kesehatan. Namun, tampaknya tidak seimbang. Laju penularan Covid-19 di Tuban seperti tidak terkendali.

AHMAD ATHO’ILLAH, Tuban, Radar Tuban

Dimana pun berada Ari Tri Wahyuni selalu mengenakan masker, kecuali di rumah. Juga hampir tidak pernah lupa membawa hand sanitizer. Semua itu sudah menjadi kebiasaan baru sehari-hari. Keduanya— masker dan hand sanitizer sudah seperti handphone.

Di era digital seperti sekarang ini, lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan smartphone. Begitu juga di era new normal sekarang ini. Masker dan hand sanitizer sudah menjadi pelengkap dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sama halnya dengan handphone.

‘’Saat lupa membawa (dua perangkat masker dan hand sanitizer, Red), seperti ada yang mengganjal. Ada yang kurang—terasa tidak lengkap,’’ katanya. Ari—sapaan akrabnya, termasuk salah satu yang phobia terhadap Covid-19.

Saat pertama virus jenis SARS CoV-2 ini masuk Tuban, dia selalu berada dalam ruang yang tidak tenang. Ada semacam ketakutan yang selalu menyelimuti pikirannya. Pola hidupnya berubah total. Dari kebiasaan yang sering dilakukan hingga yang jarang dikerjakan pun berubah 180 derajat.

Baca Juga :  Tiga Nilai Tertinggi Masuk Final

Rajin cuci tangan, menjaga pola makan, dan semakin rajin berolahraga. Tidak hanya itu, yang biasanya makan di luar—tempat makan, sekarang hampir tidak pernah. Yang biasanya selalu cipika-cipiki saat berjumpa teman karib, sekarang benar-benar menjaga jarak. Yang paling menyedihkan, sepanjang 2020 tidak ada cerita manis soal liburan.

‘’Ini yang membuat saya sedih. Saat kita menahan diri untuk tidak liburan agar tidak tertular virus, tapi di luar sana tempat-tempat wisata masih penuh sesak. Dan, seakan biasa saja. Ini yang membuat saya sedih,’’ keluhnya yang merasa sedih, karena selama ini dia benar-benar menerapkan protokol kesehatan dan menahan diri untuk tidak berkerumun.

Apa yang dirasakan Ari cukup beralasan. Bagaimana tidak, disaat pemerintah terus berupaya membangkitkan kembali perekonomian yang sempat terpuruk pada awal pandemi. Tetapi, di sisi lain, laju penularan virus korona seakan sudah los tidak lagi mampu direm.

Artinya, kebijakan gas dan rem yang di jalankan pemerintah ini sepertinya tidak seimbang. Ter lalu digas, sehingga sulit direm. Tentu, yang paling dita kutkan adalah rem blong.

Lalu sampai kapan Covid-19 ini akan berakhir? Ini merupakan pernyataan yang sudah umum bagi masyarakat yang sudah jenuh dan lelah menghadapi virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China itu. Apalagi, sekarang berkembang informasi bahwa Covid-19 telah bermutasi menjadi berbagai varian virus baru yang lebih mematikan dan dengan tingkat penularan yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Gempa 5,2 SR di Tuban, Tak Berpotensi Tsunami

Juru bicara satuan tugas (satgas) Covid-19 Tuban Endah Nurul Kumarijati mengakui, kebijakan gas dan rem memang dilematis. Terlebih, jika kebijakan tersebut tidak seimbang. Namun, lagi-lagi pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak. Sebab, ada dua tuntutan yang harus dijalankan secara bersamaan— menghidupkan kembali perekonomian dan berusaha keras mengendalikan laju penularan virus.

‘’Dan, tetap membuka tempat wisata adalah salah satu dari ke bijakan gas dan rem,’’ ujarnya. Sebagaimana diketahui, dalam sebulan terakhir ini di Tuban terjadi ledakan kasus positif baru yang luar biasa banyaknya.

Rerata per hari mencapai 40-50 kasus dengan tingkat kematian rerata 3-4 orang. Dan, saat ini angka kumulatif jumlah pasien positif di Tuban telah menembus 1.918 orang. Lalu, sampai kapan masalah dunia ini akan berakhir. Bagi Endah, ini merupakan pertanyaan yang amat sulit. Tidak ada jawaban yang bisa disampaikan. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/