alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Satu Tahun Covid di Tuban, Tersisa 101 Pasien Positif

Radar Tuban – Jumlah pasien Covid-19 yang sembuh mengalami tren positif. Beberapa hari terakhir angkanya konsisten mengalami lonjakan yang cukup signifikan dan masih bertahan hingga kemarin (3/3).

Sehari kemarin tercatat jumlah pasien yang sembuh 23 kasus berbanding pertambahan pasien positif baru 4 kasus. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo mengatakan, perkembangan menggembirakan kasus Covid-19 di Tuban beberapa hari terakhir cukup menggembirakan.

Sebab, jumlah pasien yang terpapar virus, menjalani perawatan, maupun isolasi terus menyusut. Terlebih, angka penyusutannya cukup signifikan. ‘’Kita semua sangat bersyukur, jumlah pasien aktif tinggal 101 orang,’’ paparnya.

Disampaikan Bambang, jumlah 101 kasus merupakan angka ter kecil sejak kurang lebih enam bulan terakhir. Sebelumnya, ang kanya mencapai ratusan. Bahkan, sempat di atas angka 300 kasus. Perlahan, angka yang sempat membuat Kabupaten Tuban bertahan cukup lama di jurang zona merah itu kini berangsur surut.

Meski demikian, kata Bambang, Kabupaten Tuban belum bisa di ka takan aman. Sebab, transmisi penularan masih ada. Itu terlihat dari penularan kasus yang masih muncul setiap hari. ‘’Selama ka sus hariannya (pasien yang tertular) masih ada, belum bisa dikatakan aman. Dan, sampai sekarang masih ada,’’ ujar mantan kepala Puskesmas Tambakboyo itu.

Baca Juga :  Bersihkan Kali yang Berpotensi Jadi Wisata Air Tengah Kota

Optimisme untuk segera keluar dari zona rawan mulai nampak di permukaan. Cahaya di lorong gelap pun mulai terlihat terang menyusul menyusutnya jumlah pasien baru dan bertambahnya angka pasien sembuh. Terlebih, untuk mengerem dan mengendalikan laju pertambahan pasien yang meninggal dunia.

Merujuk data satgas, pasien yang meninggal dunia rata-rata memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Saat masuk rumah sakit, mereka dalam kondisi cukup kritis. Artinya, orang-orang yang rentan ini masih belum terlindungi. Mereka yang seharusnya bisa berjuang sembuh dengan penyakit bawaannya, malah terpapar covid dan memicu penyakitnya bertambah parah.

‘’Inilah pentingnya vaksinasi untuk menciptakan herd immunity. Dengan begitu, orangorang yang rawan ini bisa terlindungi,’’ tandasnya. Sementara itu, setelah satu tahun berada di Indonesia, mutasi virus korona varian baru ke marin terkonfirmasi ditemukan di Karawang, Jawa Barat.

Yang patut diwaspadai, virus corona B117 yang kali pertama dite mukan di Inggris itu lebih ber bahaya dari varian virus sebelumnya. Bambang mengatakan, virus korona B117 lebih berbahaya dari virus korona. Penularan an tar manusia lebih cepat. Orang yang tertular kemungkinan besar akan bergejala berat.

‘’Virus mutasi baru ini penularannya lebih cepat dan gejala yang dirasakan orang yang tertular lebih berat,’’ kata dia.

Baca Juga :  Dua Kandidat Bersaing Ketat

Dokter lulusan Universitas Bra wijaya (UB) Malang ini menyampaikan, vaksinasi yang saat ini masih berlangsung hanya untuk menangkal virus varian lama. Artinya, orang yang sudah divaksin pun bisa berpeluang tertular virus B117 dan bisa menyebabkan gejala. Karena itu, penanganan virus varian baru ini harus lebih ekstra.

‘’Dari kasus yang sudah ada, gejala yang dirasakan sesak napas dan demamnya lebih parah,’’ ungkapnya.

Bambang memastikan hingga saat ini virus varian baru tersebut belum ditemukan di Bumi Wali. Namun, dia mengingatkan potensi bahaya yang jauh lebih besar jika penanganan virus tersebut terlambat.

Salah satu cara untuk meminimalisir penularan adalah dengan tetap menghindari kerumunan. ‘’Ibarat virus yang lama seperti motor matik, virus yang baru ini seperti motor sport. Jadi lebih cepat penularannya,’’ jelas dia menganalogikan.

Untuk meminimalisir penularan virus varian baru agar tidak meluas, Bambang menyarankan seseorang yang merasakan sesak napas, demam, dan batuk bergejala berat agar segera periksa ke rumah sakit dan tidak keluar rumah. ‘’Kalau penanganan terlambat, virus bisa meluas dan pandemi tak kunjung berakhir,’’ ujarnya. 

Radar Tuban – Jumlah pasien Covid-19 yang sembuh mengalami tren positif. Beberapa hari terakhir angkanya konsisten mengalami lonjakan yang cukup signifikan dan masih bertahan hingga kemarin (3/3).

Sehari kemarin tercatat jumlah pasien yang sembuh 23 kasus berbanding pertambahan pasien positif baru 4 kasus. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo mengatakan, perkembangan menggembirakan kasus Covid-19 di Tuban beberapa hari terakhir cukup menggembirakan.

Sebab, jumlah pasien yang terpapar virus, menjalani perawatan, maupun isolasi terus menyusut. Terlebih, angka penyusutannya cukup signifikan. ‘’Kita semua sangat bersyukur, jumlah pasien aktif tinggal 101 orang,’’ paparnya.

Disampaikan Bambang, jumlah 101 kasus merupakan angka ter kecil sejak kurang lebih enam bulan terakhir. Sebelumnya, ang kanya mencapai ratusan. Bahkan, sempat di atas angka 300 kasus. Perlahan, angka yang sempat membuat Kabupaten Tuban bertahan cukup lama di jurang zona merah itu kini berangsur surut.

Meski demikian, kata Bambang, Kabupaten Tuban belum bisa di ka takan aman. Sebab, transmisi penularan masih ada. Itu terlihat dari penularan kasus yang masih muncul setiap hari. ‘’Selama ka sus hariannya (pasien yang tertular) masih ada, belum bisa dikatakan aman. Dan, sampai sekarang masih ada,’’ ujar mantan kepala Puskesmas Tambakboyo itu.

Baca Juga :  Rumah Nenek di Desa Tulungagung, Malo, Ludes Terbakar

Optimisme untuk segera keluar dari zona rawan mulai nampak di permukaan. Cahaya di lorong gelap pun mulai terlihat terang menyusul menyusutnya jumlah pasien baru dan bertambahnya angka pasien sembuh. Terlebih, untuk mengerem dan mengendalikan laju pertambahan pasien yang meninggal dunia.

Merujuk data satgas, pasien yang meninggal dunia rata-rata memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Saat masuk rumah sakit, mereka dalam kondisi cukup kritis. Artinya, orang-orang yang rentan ini masih belum terlindungi. Mereka yang seharusnya bisa berjuang sembuh dengan penyakit bawaannya, malah terpapar covid dan memicu penyakitnya bertambah parah.

‘’Inilah pentingnya vaksinasi untuk menciptakan herd immunity. Dengan begitu, orangorang yang rawan ini bisa terlindungi,’’ tandasnya. Sementara itu, setelah satu tahun berada di Indonesia, mutasi virus korona varian baru ke marin terkonfirmasi ditemukan di Karawang, Jawa Barat.

Yang patut diwaspadai, virus corona B117 yang kali pertama dite mukan di Inggris itu lebih ber bahaya dari varian virus sebelumnya. Bambang mengatakan, virus korona B117 lebih berbahaya dari virus korona. Penularan an tar manusia lebih cepat. Orang yang tertular kemungkinan besar akan bergejala berat.

‘’Virus mutasi baru ini penularannya lebih cepat dan gejala yang dirasakan orang yang tertular lebih berat,’’ kata dia.

Baca Juga :  Bersihkan Kali yang Berpotensi Jadi Wisata Air Tengah Kota

Dokter lulusan Universitas Bra wijaya (UB) Malang ini menyampaikan, vaksinasi yang saat ini masih berlangsung hanya untuk menangkal virus varian lama. Artinya, orang yang sudah divaksin pun bisa berpeluang tertular virus B117 dan bisa menyebabkan gejala. Karena itu, penanganan virus varian baru ini harus lebih ekstra.

‘’Dari kasus yang sudah ada, gejala yang dirasakan sesak napas dan demamnya lebih parah,’’ ungkapnya.

Bambang memastikan hingga saat ini virus varian baru tersebut belum ditemukan di Bumi Wali. Namun, dia mengingatkan potensi bahaya yang jauh lebih besar jika penanganan virus tersebut terlambat.

Salah satu cara untuk meminimalisir penularan adalah dengan tetap menghindari kerumunan. ‘’Ibarat virus yang lama seperti motor matik, virus yang baru ini seperti motor sport. Jadi lebih cepat penularannya,’’ jelas dia menganalogikan.

Untuk meminimalisir penularan virus varian baru agar tidak meluas, Bambang menyarankan seseorang yang merasakan sesak napas, demam, dan batuk bergejala berat agar segera periksa ke rumah sakit dan tidak keluar rumah. ‘’Kalau penanganan terlambat, virus bisa meluas dan pandemi tak kunjung berakhir,’’ ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/