alexametrics
27 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Pembudidaya Ikan Keluhkan Harga Pakan Mahal

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Permintaan ikan tawar selama libur tahun baru meningkat sekitar 50 persen. Namun, pembudidaya ikan mengeluhkan harga pakan mahal. Juga ikan kerap diserang penyakit dan rentan mati. Sehingga, hasil panen dinilai tak mampu menambal kerugian.

Edy Waluyo pembudidaya ikan lele Desa Kunci, Kecamatan Dander mengatakan, permintaan lele tahun baru mengalami peningkatan. Setiap hari satu kuintal lele untuk konsumsi dan 150 ekor benih selalu terjual. “Sebelumnya hanya 60 kilogram dan 80 ribu benih per hari,” ungkapnya kemarin (2/1)

Edy menjelaskan meski permintaan meningkat, namun keuntungan tidak naik drastis. Dipicu harga pakan ikut naik. Dari sekitar Rp 315 ribu per karung menjadi Rp 335 ribu. Sementara, harga ikan lele tetap stabil. “Harga pakan naik jadi beban pembudidaya, sedangkan harga jual lele tetap sekitar Rp 16 ribu per kilogram,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Pakai Sedan Baru, Wabup Sedan Lama

Edy mengakui tidak tahu pasti penyebab harga pakan naik. Saat menanyakan, alasannya harga tersebut dari pabrik. “Mungkin harga bahan pakan juga mahal,” jelasnya.

Rohmat ketua kelompak budidaya ikan Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, mengatakan, permintaan ikan momentum tahun baru relatif stabil. Justru stok menurun akibat tidak banyak pembudidaya menebar benih. “Untuk memenuhi stok, mengambil dari pembudidaya ikan di Kecamatan Baureno,” ungkapnya.

Rohmat menjelaskan, pembudidaya tidak menebar benih karena ikan banyak terkena penyakit kuning. Ikan rentan mati dan hasil panen berkurang, bahkan gagal panen. Akibatnya pembudidaya merugi. “Banyak yang mati, tidak menghitung. Langsung dikubur,” jelasnya.

Berbagai upaya, menurut Rohmat, sudah dilakukan untuk mengurangi ikan mati karena penyakit kuning. Salah satunya membersihkan lumpur di bawah kolam atau tambak. Namun ikan tetap banyak yang mati. “Mungkin juga pengaruh dari pakan. Semenjak pandemi formula pakan sering berubah-ubah,” ujarnya

Baca Juga :  Banyak Dicari, Apotek Kehabisan Stok Oksigen

Kondisi tersebut diperparah naiknya harga pakan. Rohmat mengaku harga pakan naik dari Rp 315 ribu per karung menjadi Rp 340 ribu. Sedangkan, harga ikan sekitar Rp 16.500 per kilogram. “Harga tidak banyak naik, karena bersaing dengan pembudidaya lele dari Tulungagung,” jelasnya. (irv)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Permintaan ikan tawar selama libur tahun baru meningkat sekitar 50 persen. Namun, pembudidaya ikan mengeluhkan harga pakan mahal. Juga ikan kerap diserang penyakit dan rentan mati. Sehingga, hasil panen dinilai tak mampu menambal kerugian.

Edy Waluyo pembudidaya ikan lele Desa Kunci, Kecamatan Dander mengatakan, permintaan lele tahun baru mengalami peningkatan. Setiap hari satu kuintal lele untuk konsumsi dan 150 ekor benih selalu terjual. “Sebelumnya hanya 60 kilogram dan 80 ribu benih per hari,” ungkapnya kemarin (2/1)

Edy menjelaskan meski permintaan meningkat, namun keuntungan tidak naik drastis. Dipicu harga pakan ikut naik. Dari sekitar Rp 315 ribu per karung menjadi Rp 335 ribu. Sementara, harga ikan lele tetap stabil. “Harga pakan naik jadi beban pembudidaya, sedangkan harga jual lele tetap sekitar Rp 16 ribu per kilogram,” terangnya.

Baca Juga :  Gaji Rendah, GTT Madrasah Berharap Insentif dari Pemkab

Edy mengakui tidak tahu pasti penyebab harga pakan naik. Saat menanyakan, alasannya harga tersebut dari pabrik. “Mungkin harga bahan pakan juga mahal,” jelasnya.

Rohmat ketua kelompak budidaya ikan Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, mengatakan, permintaan ikan momentum tahun baru relatif stabil. Justru stok menurun akibat tidak banyak pembudidaya menebar benih. “Untuk memenuhi stok, mengambil dari pembudidaya ikan di Kecamatan Baureno,” ungkapnya.

Rohmat menjelaskan, pembudidaya tidak menebar benih karena ikan banyak terkena penyakit kuning. Ikan rentan mati dan hasil panen berkurang, bahkan gagal panen. Akibatnya pembudidaya merugi. “Banyak yang mati, tidak menghitung. Langsung dikubur,” jelasnya.

Berbagai upaya, menurut Rohmat, sudah dilakukan untuk mengurangi ikan mati karena penyakit kuning. Salah satunya membersihkan lumpur di bawah kolam atau tambak. Namun ikan tetap banyak yang mati. “Mungkin juga pengaruh dari pakan. Semenjak pandemi formula pakan sering berubah-ubah,” ujarnya

Baca Juga :  Guru Harus Siap Disebar

Kondisi tersebut diperparah naiknya harga pakan. Rohmat mengaku harga pakan naik dari Rp 315 ribu per karung menjadi Rp 340 ribu. Sedangkan, harga ikan sekitar Rp 16.500 per kilogram. “Harga tidak banyak naik, karena bersaing dengan pembudidaya lele dari Tulungagung,” jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/