alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Raib, Arca Nandi di Candi Bulu

TUBAN, Radar Tuban – Candi Bulu di Dusun Karangcandi, Desa Bulujowo, Kecamatan Bancar terancam punah dan sulit terselamatkan. Terbaru, sebuah Arca Nandi di area tempat bersejarah ini hilang.
Fakta tersebut kemarin (2/11) disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Tuban (Disparbudpora) Tuban Sumardi.
Hilangnya arca tersebut kian mengubur  jejak situs tersebut. Sebelumnya, stupa atau bagian atas dan puncak candi tersebut lenyap. ”Entah dicuri orang atau bagaimana. Pokoknya, arca itu tidak ada lagi di situ,” kata dia.  
Sumardi mengemukakan, situs Candi Bulu pernah diajukan institusinya agar diekskavasi oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Namun, tim BPCB Jatim mengaku kesulitan melakukan penyelamatan dan penggambaran ulang pada area candi seluas 25 meter persegi tersebut. Pertimbangan utamanya karena kawasan situs digunakan sebagai pemakaman umum. Kondisinya pun sangat memprihatinkan.
Sumardi terang-terangan menyebut Candi Bulu rusak parah, bahkan hancur. Penyelamatan dan pelestarian cagar budayanya pun, kata dia, butuh kerja sama seluruh pihak. Mulai dari bawah sampai atas.
Jawa Pos Radar Tuban pernah mengulas candi tersebut pada 2010. Sumbernya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. Diperkirakan, candi tersebut peninggalan kerajaan Majapahit. Keberadaannya sebelum Islam masuk. Candi tersebut diperkirakan memiliki kesamaan dengan candi di kompleks Museum Kambang Putih Tuban yang candrasengkala-nya tertulis; sirno ilang kertaning bumi. Sirno = 0,  Ilang = 0, Arta = 4,  Bumi = 1. Dibaca dari belakang 1400 tahun saka atau  1478 Masehi.
Candi Bulu pernah digali BP3 Trowulan pada 1979. Bentuknya diperkirakan  menyerupai Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto. Ekskavasi tersebut tidak dilanjutkan karena kendala keberadaan pemakaman umum yang menutupnya.
Sekarang, Candi Bulu tertutup gundukan tanah. Hanya lima batu yang masih terlihat. Kondisinya pun tak utuh. Posisi batu ini diperkirakan sekitar 150 meter dari titik pusat candi yang berada di tengah area pemakaman.
Sumardi lebih lanjut mengatakan, penyelamatan situs-situs budaya memang jadi pekerjaan rumahnya. Namun, dalam pelaksanaannya, pihaknya tidak bisa berjalan sendiri dan harus bekerja sama dengan pihak lain.
Pria kelahiran Banyuwangi itu menyampaikan, pihak-pihak terkait harus tertanam rasa memiliki yang kuat. Tak kalah pentinya regulasi daerah terkait pelestarian cagar budaya. Regulasi dimaksud adalah peraturan bupati (perbup).
Dia mengatakan, kalau perbup sudah ada, potensi untuk melestarikan cagar budaya semakin kuat. Dari segi teknis pelaksanaan lebih jelas dan mudah. Artinya, keleluasaan daerah dalam mengurus cagar-cagar budaya memiliki kekuatan dan otonomi.
Ya, di Bumi Ronggolawe tertebaran cagar budaya. Itu karena Tuban merupakan kota tua sekaligus kota pelabuhan. (sab)

Baca Juga :  Diyakini Petilasan Abdi Raja Brawijaya

TUBAN, Radar Tuban – Candi Bulu di Dusun Karangcandi, Desa Bulujowo, Kecamatan Bancar terancam punah dan sulit terselamatkan. Terbaru, sebuah Arca Nandi di area tempat bersejarah ini hilang.
Fakta tersebut kemarin (2/11) disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Tuban (Disparbudpora) Tuban Sumardi.
Hilangnya arca tersebut kian mengubur  jejak situs tersebut. Sebelumnya, stupa atau bagian atas dan puncak candi tersebut lenyap. ”Entah dicuri orang atau bagaimana. Pokoknya, arca itu tidak ada lagi di situ,” kata dia.  
Sumardi mengemukakan, situs Candi Bulu pernah diajukan institusinya agar diekskavasi oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Namun, tim BPCB Jatim mengaku kesulitan melakukan penyelamatan dan penggambaran ulang pada area candi seluas 25 meter persegi tersebut. Pertimbangan utamanya karena kawasan situs digunakan sebagai pemakaman umum. Kondisinya pun sangat memprihatinkan.
Sumardi terang-terangan menyebut Candi Bulu rusak parah, bahkan hancur. Penyelamatan dan pelestarian cagar budayanya pun, kata dia, butuh kerja sama seluruh pihak. Mulai dari bawah sampai atas.
Jawa Pos Radar Tuban pernah mengulas candi tersebut pada 2010. Sumbernya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. Diperkirakan, candi tersebut peninggalan kerajaan Majapahit. Keberadaannya sebelum Islam masuk. Candi tersebut diperkirakan memiliki kesamaan dengan candi di kompleks Museum Kambang Putih Tuban yang candrasengkala-nya tertulis; sirno ilang kertaning bumi. Sirno = 0,  Ilang = 0, Arta = 4,  Bumi = 1. Dibaca dari belakang 1400 tahun saka atau  1478 Masehi.
Candi Bulu pernah digali BP3 Trowulan pada 1979. Bentuknya diperkirakan  menyerupai Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto. Ekskavasi tersebut tidak dilanjutkan karena kendala keberadaan pemakaman umum yang menutupnya.
Sekarang, Candi Bulu tertutup gundukan tanah. Hanya lima batu yang masih terlihat. Kondisinya pun tak utuh. Posisi batu ini diperkirakan sekitar 150 meter dari titik pusat candi yang berada di tengah area pemakaman.
Sumardi lebih lanjut mengatakan, penyelamatan situs-situs budaya memang jadi pekerjaan rumahnya. Namun, dalam pelaksanaannya, pihaknya tidak bisa berjalan sendiri dan harus bekerja sama dengan pihak lain.
Pria kelahiran Banyuwangi itu menyampaikan, pihak-pihak terkait harus tertanam rasa memiliki yang kuat. Tak kalah pentinya regulasi daerah terkait pelestarian cagar budaya. Regulasi dimaksud adalah peraturan bupati (perbup).
Dia mengatakan, kalau perbup sudah ada, potensi untuk melestarikan cagar budaya semakin kuat. Dari segi teknis pelaksanaan lebih jelas dan mudah. Artinya, keleluasaan daerah dalam mengurus cagar-cagar budaya memiliki kekuatan dan otonomi.
Ya, di Bumi Ronggolawe tertebaran cagar budaya. Itu karena Tuban merupakan kota tua sekaligus kota pelabuhan. (sab)

Baca Juga :  Lahirkan Inovasi e-Bikonsi dan Tilik Siswa untuk Permudah KBM Daring

Artikel Terkait

Most Read

Ambisi Perbaiki Posisi

NJOP dan Harga Tanah Njomplang

Artikel Terbaru


/